Pertemuan itu masih menyimpan sejuta tanya bagiku. Beberapa tahun silam kita bertemu dan aku mulai mengutuk hari itu. Hari yang membuatku mengenalmu. Hari yang membuatku mengagumimu, hari ketika aku mulai merasakan apa itu cinta.

Kupeluk erat rasa itu. Tak menginginkan seorang pun tahu. Bahkan aku tak ingin merusak hubungan pertemanan dengan kata cinta. Namun semakin lama, rasa itu menyesaki dada. Cerita demi cerita sambung menyambung dan akhirnya terdengar juga olehmu mengenai hal itu. Kau hanya diam. Sejak saat itu aku menangkap keganjilan pada dirimu. Sikapmu berubah kepadaku. Kau perlahan menjauhiku.

Namun, kau tahu, semua itu tak mengubah perasaanku kepadamu. Aku masih menyimpan sejuta kagum untukmu. Dan entah sejak kapan kagum itu berubah menjadi cinta. Bahkan terkadang aku takut tidak bisa mengendalikan perasaan itu. Dan benar saja, 3 tahun masa putih biru itu tak cukup membuatku senang. Justru aku mulai takut kehilangan.

Tuhan menjawab doaku dan kita dipersatukan dalam satu sekolah kembali. Bahkan aku tidak pernah menyangka keberuntungan itu berpihak padaku. Banyak gadis lain yang bernasib sama denganku harus terpisah dengan cintanya. Namun, dengan mudahnya aku mendapatkan doaku.

Kau masih sama. Diam dan berusaha menjauh dariku. Tak apa. Aku selalu memupuk firasat positif untukmu. Mungkin saja saat itu kamu ingin berkonsentrasi dengan pelajaran atau mungkin saja sebenarnya ada cinta untukku tapi kamu masih enggan mengatakan sejujurnya.

Advertisement

Namun, di hari itu petir menyadarkanku yang terbuai awan merah jambu. Gadis itu. Gadis yang baru kau kenal di masa putih abu-abu. Gadis yang bahkan tidak tahu tentang siapa kamu dari nol. Gadis yang tidak tahu siapa saja saudaramu, hobimu, makanan favoritmu, warna kesukaanmu, dan semua tentangmu.

Namun, kau dengan mudahnya melabuhkan hati kepadanya. Hatiku remuk redam mendengar kabar itu.

Tangisku pecah memekakkan telinga dan aku tersadar bahwa penantianku berujung sia-sia.

Aku membenci hari itu. Hari ketika aku mengenalmu. Hari ketika dewi cinta membiusku untuk terbuai dalam kabut merah jambu. Hari yang menggelapkanku dari logikaku dan lebih memilih perasaan yang sejatinya selalu tak adil dengan keadaan.

Beberapa bulan sebelum kita benar-benar berpisah, merupakan waktu yang sangat menyiksa bagiku. Melihatmu bersamanya. Mendengar cerita orang lain tentang kalian. Aku hanya mampu membendung nestapa.

Cinta memang tak pernah bertoleransi dengan keadaan. Aku yang lebih dahulu mengenalmu, tapi dia yang baru kau kenal lebih dahulu merebut hatimu. Jika cinta bisa terjadi tanpa saling bertemu, aku lebih memilih mengenalmu dalam dunia maya. Mengangankanmu sebagai sosok maya yang tak pernah kujumpai dalam wujud nyata.

Menunggu cinta hanyalah mengingkari kenyataan semata, karena cinta selalu buta. Tak pernah melihat pengorbanan seseorang untuknya.