Dulu kita pernah berada di jarak hanya mampu saling menatap. Mengenal hanya tentang nama, duduk berdekatan namun tak pernah bertegur sapa, hingga akhirnya kita mulai belajar saling berbicara.

Tak perlu waktu lama, canda dan tawa ala remaja membut kita berhasil mengenal satu dengan yang lain dengan baiknya.

Dulu kita pernah menghabiskan banyak waktu dengan berkirim pesan sembari manatap bulan. Pernah juga berkirim-kirim pesan seperti remaja tengah kasmaran. Lalu kelakar kecil tentang menjadi pasangan remaja pernah sama-sama terlintas diotak kita waktu itu. Waktu kita masih terlalu kecil untuk memahami makna pasangan sebenarnya.

Saling menemani tak hanya terjadi ketika itu, kata berteman kita tak habis hanya ketika seragam putih biru berganti. Ini berlanjut, kadang kerap kadang jarang. Kadang dekat kadang hilang. Kadang diselipi tangis namun lebih banyak canda bahagia.

Kita mendewasa bersama, berbagi tawa, berbagi canda berbagi cerita. Ngemall bareng, nontonn bareng atau bahkan malam mingguan bareng bukan hal aneh bagi kita. Pergi ketengah hutan untuk sekedar melepaskan penat pada aktivitas masing masing juga sudah sering kita lakukan bersama, apalagi hanya pergi kenikahan teman bersama, kita sudah bosan melakukannya.

Advertisement

Kita berbagi cerita tentang banyak hal. Sekolah, kuliah, pengalaman baru, hingga pacar baru. Kita juga pernah bercerita tentang mengenal orang lain PDKT lalu jadian. Atau aku sering bercerita tentang sakit hati yang para laki-laki timbulkan selama aku berproses, semuanya ku ceritakan padamu

Pertanyaan “kalian pacaran?” sudah terlalu biasa terdengar oleh telinga kita. Sudah begitu banyak yang melontarkannya, dari teman, guru bahkan orang tua. Dari yang dulu kami dengan wajah merah padam menjelaskan dengan segala kata-kata sulit sampai akhirnya kami hanya bisa balik bertanya “apa ga ada pertanyaan lain?”

Aneh, banyak yang tidak terima dengan keadaaan kita. Mana ada laki-laki dan perempuan berteman tanpa menyimpan rasa kata mereka.

Tapi nyatanya kita berjalan sejauh ini. Kita ada di persahabatan itu selama ini. Persahabatan yang kata mereka aneh.

Tapi, bukankah sepandai-pandainya tupai melumpat ia pasti pernah jatuh? Begitu pula kita. Kita pernah tertohok pada kenyataaannya. Keadaan nyata dimana isi hati terungkap semua? Isi hatimu awalnya, lalu isi hatiku juga terbawa. 8 tahun persahabatan aneh kita terungkap aslinya. Masing-masing dari kita sama-sama menyimpan rasa. Tapi tetap tak bisa berbuat apa-apa.

Kita berusaha menentang keadaan. Kita berkata akan akan mengikuti alurnya. Kita berkata akanmencoba menjalaninya. Menjalani jalan yang tak seharusnya ada. Karna kita tau kita tak akan bisa bersama.

Hingga akhirnya, tak perlu lama, kita berdua sama-sama terluka.

Bukan karna saling menyakiti, tapi karna kita sadar diri. Terlalu banyak banyak orang lain yang harus kita korbankan jika kita bersama. Terlalu banyak orang lain yang harus mengeliarkan air matanya jik kita tetap menutup mata.

Tapi, bukankah hati tak bisa berdusta? Rasa ini sudah berkembang menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Kadang aku berharap kita kembali dimana kita berlum sama-sama terbuka, supaya kita bisa sama-sama menyembunyikan semuanya di balik kata persahabatan lagi. Aku hanya ingin kita sedekat dulu, meskipun kamu tak pernah tau isi hati ku, meskipun aku tak pernah tau isi hatimu.

Mari kembali ke persahabatan 8 tahun yang kita punya sebelumnya. Aku lebih merindukan itu ketimbang harus memiliki mu…