Pantai. Apa yang biasa kita lakukan di tempat ini? Berenang? Membangun istana pasir? Berjemur? Tidak, tidak, tidak. Kita tidak melakukan itu. Apa yang kita lakukan jauh lebih ekstrim. Tidak mungkin jika persahabatan kita tidak sedekat ini, kita akan melakukannya.

Satu persatu dari kita diangkat beramai-ramai kemudian dilempar ke laut. Peraturan tunggal, tidak boleh ada yang kering selepas dari tempat ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, masing-masing dari kita akan diangkat dan dilempar ke laut. Kita dipaksa untuk tenggelam agar sekujur tubuh kita bahas. Dengan begitu, kita tidak melanggar peraturan.

Kalian tahu, perjalanan kita ke pantai dan “paksaan” yang harus kita lakukan di sana mengingatkanku pada sebuah memori yang masih terjadi. Untukku, entah untuk kalian.

Kita bareng-bareng memulai perjalanan menjadi satu kelas dan keluarga dalam jurusan dan universitas ini. Walau kita berasal dari latar belakang yang berbeda, kita tidak pernah dipaksa untuk mengikuti arus satu sama lain. Kita punya arus sendiri-sendiri. Fokus kuliah, sambil kerja part-time, sambil sibuk berorganisasi, dan segala bentuk arus lain yang mungkin. Arus kita bertemu ketika kita duduk bersama dalam satu kelas. Ini pun tanpa paksaan. Di luar itu… Bebas 🙂 Sampai akhirnya, masing-masing arus membawa kita pada suatu keadaan yang membuat kita dipaksa. Benar, semester “akhir”. Dari arus manapun kita datang, kita dipaksa untuk membuat suatu karya agar kita mampu keluar dari sini. Bukan karena kita sudah tidak sayang dengan keluarga ini sehingga ingin keluar, tapi itulah peraturan tunggal yang tidak mungkin kita langgar. Sama seperti ketika kita bermain di pantai, peraturan ini memaksa kita untuk terbenam di lautan buku yang tidak ingin kita baca. Hmm, mungkin aku kurang tepat menyebutkannya. Buku yang tidak ingin “aku” baca. Aku tak pernah tau bagaimana perasaan kalian. Secara resmi kita memulai langkah menuju wisuda.

Kita bareng-bareng lagi. Bareng-bareng bosan menunggu dosen, bareng-bareng galau menghadapi revisian yang tidak jelas, bareng-bareng stress memikirkan deadline. Sama, ketika kita bareng-bareng terjun ke laut agar basah. Namun, arus lain datang dan memisahkan kita lagi.

Advertisement

Senja di pantai. Ketika kita semua telah basah kuyub. Ketika kita telah lelah bermain-main. Kita pun melakukan aktivitas beragam. Duduk galau di tepi pantai karena teringat memori dengan mantan liat matahari terbenam. Berjalan menyusuri pinggir pantai sehingga tampak jejak langkah kaki di belakang kita. Berdiri memandang matahari terbenam sambil menikmati perasaan geli ketika kaki terbenam di pasir. Berkumpul di sekitar api unggun menghangatkan diri. Apapun kegiatannya yang penting masing-masing dari kita nyaman. Hampir tidak peduli dengan kegiatan yang dilakukan yang lain.

Yang awalnya menunggu dosen bareng, jadi kalian seminar proposal duluan. Yang awalnya galau menghadapi revisian bareng, jadi kalian penelitian duluan. Yang awalnya stress memikirkan deadline bareng, jadi kalian siding duluan. Yaaa, emang beda. Motivasi kita, kesibukan kita, rasa malas kita. Jadi sebenarnya, kita sendiri yang menciptakan arus yang memisahkan kita.

Aku masih di sini, dan kalian entah sudah berada di mana. Pernah ku berharap akan pulang dari pantai bareng-bareng sama kalian dengan senyum lebar merekah di bibir kita. Tapi itu Cuma sebatas harapan. Karena kalian memutuskan pulang sebelum matahari benar-benar terbenam, momen terindah yang tidak akan pernah kulewatkan.

Karena hidup adalah tentang menjalankan konsekuensi dari pilihan yang telah kita ambil.