Tak henti memenuhi hari dan pikiranku dengan bayangan wajahmu. Jari-jariku tak pernah berhenti menuliskan kata-kata tentangmu, sampai saat ini semuanya masih tentangmu. Aku tahu mungkin aku sudah gila. Banyak yang menertawakanku, meragukan cintaku, tapi entah mengapa aku tetap bertahan menyimpan namamu di salah satu sudut terdalam hatiku.

Aku mencintaimu seperti mencintai senja yang mengatup jingga pada pelupuk mata, menjemput malam dengan kedamaian. Aku masih mencintaimu seperti candu kopi yang kuteguk di sudut kafe dari cangkir dan rasa yang sama. Aku mencintaimu seperti gerimis ritmis yang menangkupkan aroma tanah basah menyegarkan. Aku selalu mencintaimu seperti ku mencintai diriku dengan banyak kekurangan dan secuil bakat merangkai kata. Bahkan ku mencintaimu lebih besar dari segenap kekuranganmu.
Seperti itu, seperti itu caraku mencintai. Bukan hanya seperempat keping hati yang dipenuhi olehmu, tapi separuh rongga hati ini adalah dirimu. Entah kau menyebutnya apa. Tak pernah terlintas keraguan atau harapan semu akan ketidakmungkinan.

Persetan dengan Albert Einstein yang mengatakan bahwa kepastian adalah ketidakpastian. Menurutku, kepastian adalah tentang keyakinan. Dan aku tak pernah melangkahkan kakiku tanpa kepastian penuh dalam hati.

Aku tak pernah takut dengan resiko akan terluka karena mencintai terlalu dalam. Aku tak pernah merasa sia-sia untuk selalu menunggu dan menghabiskan waktu hingga senja berlalu. Karena ku menunggu bukan tanpa arti, aku menunggu karena menjaga hati. Mengapa harus takut berharap jika harapan dari cinta itu begitu indah. Tak maukah kau mencobanya? Menciptakan butir-butir harapan yang akan kita petik bersama nanti di waktu yang lebih indah.
Bila hatimu percaya, mengapa tak segera melangkah? Apa kau tak penasaran dengan keajaiban waktu yang selalu bergerak maju? Apa kau tak penasaran dengan keindahan dibalik esok setelah sekarang? Apa kau tak penasaran betapa malam menyimpan keistimewaan sesudah berlalu senja?

Cobalah sejenak dengarkan apa yang ingin hatimu katakan, cobalah berhenti melawan dan pahami apa yang hatimu rasakan. Hapuslah kabut keraguan dari balik bola matamu.

Advertisement

Hatiku, bila kau tahu. Mampu menyimpan segala, bahkan aku sendiri merasa istimewa Tuhan beriku hati seluas samudera. Ada banyak kemungkinan dunia yang tak bisa kau terka begitu saja. Terkadang menakutkan karena waktu tak hanya perkara sejarah yang sudah jelas meninggalkan kenangan dan pelajaran tapi juga tentang misteri yang masih abu-abu, yang masih gamang tak terpampang.

Aku tetap akan bodoh bila masih membohongi hati sendiri, setelah sekian lama aku tak pernah mencari ataupun menanti. Mungkin memang banyak yang datang mencoba mengetuk dan mencoba ingin tahu, tapi tak satupun yang benar-benar kuinginkan. Bukan tak mau mencoba, tapi sekali lagi kubilang ini perkara keyakinan. Bagaimana mungkin aku membiarkan hatiku sendiri menerka-nerka dan menunggu waktu memberi keputusan. Tidak, keputusan itu kuambil sendiri. Ku biarkan hatiku diterpa angin, berkelana melihat banyak kemungkinan, aku tak takut untuk terbang jauh, bahkan hingga ribuan kilometer jauhnya. Hatiku bukan layang-layang yang hanya terbang dengan sebatas bantuan temali, bukan pula kupu-kupu yang hanya terbang mengitari keindahan bunga tanpa mau melihat keindahan lain, tapi hatiku bak elang dengan sayap lebar nan kuat, tak ada keraguan untuk terbang kemanapun ku ingin mengepakkan sayap selama ada keyakinan yang tertanam dalam hati.

Bukankah hidup juga demikian, siapa yang kuat dan berani dialah yang bertahan. Sebab keputusan ada di tangan, bukan keadaan. Kitalah yang menentukan keadaan.

Cinta itu selalu tumbuh, tak pernah mati. Jangan pernah percaya ada yang mengatakan cinta mampu basi dan mati hanya karena sebuah keputusan untuk mengakhiri perbedaan.

Itu hanya alasan karena memang tak bisa diteruskan. Begitulah perjalanan, kau akan menemui kerikil bahkan belukar onak yang memberimu luka dan darah. Akan tetapi setelah itu adalah keputusanmu untuk mengobatinya atau membiarkannya terus meneriakkan kesakitan.

Tak perlu takut, aku masih disini. Aku setia pada hujan dan senja, sebab keduanya telah memberiku kesejukan sekaligus kehangatan. Kau pilih yang mana? Kumiliki semua rasa, lihatlah dalam hatiku ada banyak antologi rasa yang bisa kau rasakan. Pilihlah salah satu, dan nikmati dengan dalam. Aku sungguh mencintaimu, dan ini murni bukan cinta palsu yang hanya memberimu rasa semu.

Percayalah, aku tidak sedang merayu atau mengelabuimu dengan kata-kata pemanis buatan. Inilah yang memang apa adanya dikatakan hatiku.