Masih ku ingat jelas pertama kali kita bertemu, masih ku ingat jelas pertama kali kita bertegur sapa. Di ruang radio itu saat bersama dengan kekasih dan sahabatmu kita bertemu. Ku sadari ketika kedua matamu begitu lekat menatapku. Ingin ku balas namun aku hanya tersipu malu dan merunduk. Andai aku boleh bertanya ingin rasanya aku mengatakan "Siapa namamu? Semester berapa? Prodi apa?". Tapi semua itu hanya ku katakan dalam hati kecil. Ingin rasanya aku mengenalmu lebih dalam.

Bolehkah?

Dan harapan itupun kau jawab dalam hari-hariku. Kaulah yang menjadi pelatihku, mengajarkan semua yang tak ku ketahui soal penyiaran lewat radio. Saat kita mulai dekat, rasa ingin memilikimu begitu besar. Saling mengenal satu sama lain lebih dalam. Ketika aku ketahui kita sehobi rasanya aku ingin menjadi pendampingmu, namun itu semua pupus saat ku menyadari kau telah ada yang punya dan kau berasal dari kalangan lebih tinggi di banding aku yang hanya mahasiswa biasa.

Aku yang mengagumimu tanpa dapat memilikimu. Memandangmu dan bersama denganmu adalah sebuah kebahagiaan. Jika kau bertanya "apakah kau melupakan kenangan tentang kita selama ini?". Jawabanku pasti "tidak". Aku mengingatnya sedetail yang kau tahu. Aku ingat saat kita memandang langit malam bersama, aku ingat kita saling bertukar fikir tentang menulis, aku ingat kau menemaniku makan siang, aku ingat saat kita bermain tepung di ulang tahun calon saudaramu, aku ingat kita berdebat tentang hal-hal kecil, aku ingat kau selalu menemaniku, aku ingat kita saling bertukar fikir soal lagu, aku ingat saat kita bermain bola basket bersama, aku ingat saat kita bermain hujan bersama, aku ingat kita tertawa dan tersenyum bersama, aku ingat saat kita memanjat pagar kampus hanya untuk mengajariku siaran radio dan saat itulah aku mengetahui kau mengapit sebatang rokok.

Aku ingat setiap detail denganmu dan aku tau kau juga mencintaiku. Tapi aku sadar, kau lelaki yang tak bisa ku miliki. Kau lelaki yang datang saat aku merasakan rapuh, kau lelaki yang membuatku lupa sejenak tentang masa lalu. Aku takut denganmu hanya menjadi pelampiasanku tentangnya, aku takut akan menyakitimu. Maafkan aku jika selama ini aku mengabaikanmu, maafkan aku jika selama ini berpura-pura di depanmu. Aku disini juga menahan rasa yang sama denganmu. Semoga kelak jika kita bertemu, tetaplah tersenyum dan tetaplah menjadi dirimu sendiri. Aku berharap kau menemukan wanitamu. Terimakasih telah melukis kenangan di kehidupanku. Terimakasih tlah melukis pelangi di antara mendung hujan.