Setiap orang punya batas yang namanya menunggu. Jika memang kita tak akan bisa bersatu, tak perlu kau memberikan aku harapan berlebih tentang semua ini. Ingat, yang namanya berjuang dan menunggu itu tak mudah. Jadi, jangan buat semuanya sebercanda itu.

Menunggu itu memang menyakitkan, tapi bodohnya aku masih saja bertahan.

Aku tak memaksamu harus seperti apa. Aku hanya menunggu sebuah kepastian. Hingga saat ini aku masih bertahan. Aku tahu jodoh tak akan kemana. Tapi, bukankah kita tak akan dapat jodoh kalau kita tak mengejarnya? Aku hanya ingin sebuat kepastian. Hingga aku tahu kepada siapa hati ini harus dilabuhkan. Dan untuk siapa aku harus berjuang.

Aku tak pernah memaksa untuk menikah sekarang, karena aku pun sadar banyak hal yang harus dipersiapkan. Bahkan mungkin dari segi materi aku pun belom mapan. Tapi bolehkah aku meminta kita untuk berjuang bersama menggapai gerbang pernikahan yang kita impikan? Iya, setidaknya aku tahu kepada siapa hati ini harus aku jaga. Aku mohon mengertilah..

Dari hati yang menunggu sesuatu yang tak pasti, hingga lelah bertahan tanpa ada suatu kepastian.

Advertisement

Jika saja kamu mengulur waktu tentang kepastian, haruskah aku terus-menerus bertahan? Berapa banyak waktu yang kubuang percuma. Tahukah kamu semakin berjalannya waktu membuat kita semakin berkurang hidup di dunia? Lantas apakah akan kamu sia-siakan setiap detiknya karena ketidakpastianmu?

Mungkin, bolehkah kuminta agar kita berpindah posisi? Kau yang meminta kepastian dan aku yang hanya memberi harapan. Agar kau tahu bagaimana lelahnya berharap dengan sesuatu yang tak pasti. Bukan kuingin menyerah, tapi akupun lelah.

Kau boleh saja memberi harapan yang tak pasti. Namun jangan salahkan ketika aku memutuskan untuk pergi. Bukan ku ingin menghancuri,hanya saja aku tahu diri. Semoga nantinya kau tak menyesali atas apa yang kau lakukan ini. Semoga kelak kau temui cinta sejati, hingga tak ada orang yang tersakiti. Seperti aku, misalnya.