Selamat membaca para pembaca setia, para silent reader, selamat membaca pria baik yang diutus Dia untuk hadir dalam kehidupan ku saat ini. Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah tak pernah lagi namamu hadir di layar ponselku, entah karena kau sibuk atau karna sudah lebih nyaman dengan dia (wanita barumu).

Aku masih sering merasakan kehadiranmu, walaupun pada kenyataan itu hanyalah perasaanku saja yang menganggapmu ada. Padahal kenyataannya yang hadir hanyalah bayangan semu, yang seolah berwujud dirimu pria yang dulu selalu menjadi pemeran utama dibalik sibuknya tangan ku yang tak pernah enggan untuk jauh dari ponselku. Mungkin karna sedang indah-indahnya hingga akhirnya aku lupa kelak aku hanyalah menjadi persinggahan kala kau sepi.

Aku sudah hampir lelah untuk menceritakanmu, pria baik yang sempat menetap dihatiku kini. Bahkan hangatnya sentuhanmu selalu menyapaku kala rindu mulai datang mengusik. Aku tak tahu saat ini apakah kau masih sehangat dulu atau bahkan kau masih dingin seperti es yang enggan untuk mencair. Aku masih pertama kali kau menyapa dengan senyum termanis yang kau punya, kala itu hadirmu begitu berarti untukku, namun sayangnya berbalik dengan apa yang aku terima darimu.

Di manakah hadirmu saat ini aku masih menjadi wanita yang dulu? Aku yang selalu sabar menunggu kehadiranmu, menanti kau memberi kabar walau hanya sekedar mendengar, “Aku lagi sibuk, setelah urusanku selesai mungkin aku akan mengubungimu”. Begitu sapamu dari balik ponselku yang selalu menjadi teman setia kala aku selalu menunggu kabarmu di sela kesibukanmu. Aku tak pernah membuatmu menunggu untuk menjawab setiap kabar yang kau tanyakan, namun aku selalu menjadi orang yang menunggumu untuk membalas kabar dariku.

Aku sadar aku bukanlah bagian dari prioritasmu, sebab aku hanyalah teman yang kau butuhkan kala sepi melandamu. Aku tak mengerti apa status kita kini, sebab kenyamanan yang kau beri dulu membuatku selalu merasa bahwa hanya aku yang berjuang untuk ini semua, tidak dengan kau yang selalu ku jadikan prioritas disetiap rutinitasku. Aku tak tau setelah kepergianmu kali ini apakah kau ingat untuk kembali lagi, menyelesaikan kisah yang sempat tertunda kala itu, aku masih berdiri kokoh menantimu, sekokoh menatap kepergianmu dari balik punggungmu yang terus berjalan hingga tak terlihat oleh mataku.

Advertisement

Hari berganti hari, tak juga aku mendengar kabarmu. Hingga aku berfikir bahwa sebaiknya aku harus ikhlas untuk melepaskan mu, lelaki baik yang sempat aku impikan untuk menjadi masa depanku kelak. Namun, rasaku begitu besar untuk menunggu kehadiranmu kembali, datang dengan hati lapang yang mampu kembali dengan sisa perasaan yang masih kau miliki untukku (dulu).

Segeralah kembali, lihatlah luka yang pernah kau buat atas kepergianmu dulu kini telah berhasil aku sembuhkan dengan caraku sendiri. Lihatlah air mata yang pernah kau hadirkan dulu, kini berhasil ku hapus dengan tangan yang pernah menghapus peluhmu kala kau mengeluh akan lelahnya rutinitasmu. Lihatlah hatiku yang selalu siap menerimamu kembali, wahai pria yang selalu ku rindukan kehadirannya. Maaf jika rasaku lebih besar dari benciku yang kini mengalahkan lelahku menantimu untuk kembali wahai pria baik itu.

Semoga hari yang ku nantikan segera datang dan membawamu kembali hingga menjadi milikku kelak. Wahai pria yang selalu ku rindukan kehadirannya.