17 Desember. Entah mengapa di antara rintik hujan yang tak kunjung reda, kenangan ini munyeruak ke permukaan. Dan untuk sementara, aku tiba-tiba menjadi makhluk bumi paling cengeng, seluruh kawan-kawan bumi mengejekku sebagai makhluk lemah.

Aku benar cengeng dan lemah saat itu, aku lihat kamu yang begitu lama tak nampak berdiri di hadapanku. Di bawah Halte itu aku duduk bersama beberapa orang lain, menanti hujan menghilang. Belum selesai hujan reda, kamu dengan seenaknya datang menawarkan payungmu. Jujur aku tak suka. Kamu, datang tak hanya dengan payung biru, namun juga dengan banyak ingatan yang sudah lama aku kubur. Maka kamu adalah yang menggali kenangan lama itu dan melemparkanya kepadaku.

Mengapa kamu begitu jahat?.

Tahukah? Jika Rindu ini benar membuatku busuk. Kamu tahu, kamu yang kemarin pertama memaksaku untuk menerima keadaan. Kamu pergi dengan langkah mantap, bilang padaku kalau kamu ingin pergi ke suatu tempat di mana tak ada diriku. Kamu bilang bahwa hubungan kita sejatinya kesia-siaan.

Lalu dengan segera, kamu pergi. Kamu menolak hantaranku di bandara. Aku sendiri tersedu di atas kasur menatap instagram stories milikmu. Yah, kamu telah pergi. Setidaknya dari kisahku.

Advertisement

Pada saat itu juga, kamu tahu apa yang aku lakukan? Aku membuat perhitungan pada kenangan, aku berjanji supaya seluruh kenangan saat aku dan kamu bersama menghilang dari seluruh memori kepala. Menghilang dari pori-pori, menghilang dari sel-sel tubuh. Aku tak ingin nantinya aku punya rindu seperti virus yang lama-lama membuatku busuk. Maka seluruh foto kamu di ponsel, video kebersamaan kita, dan juga foto instagram di mana ada kita berdua aku hapus.

Dan kini, kamu dan aku berdiri bersampingan, di bawah paying biru yang menyatukan kita. Menyatukan kenangan yang lama terpisah. Aku tak dapat menahan diri untuk memandang pelipismu. Dan saat itu juga kurasakan darahku berdesir dengan sendirinya. Lalu tiba-tiba kamu melepas jaket kamu yang tebal itu, menaruhnya di pundakku. Sedang aku hanya terdiam membisu dengan segudang tanya.

Mengapa kamu begitu tak tahu diri?

Bukankah dulu saat kita masih sebagai sepasang kekasih, aku begitu lemah dengan seluruh perlakuanmu. Aku lemah saat kamu memperlakukanku dengan lembut. Maka sekarang saat kita telah tak lagi sebagai sepasang kekasih, mengapa kamu seenak hati menyentuhku? Sebenarnya apa maumu? Apa kamu tak tahu kalau selama ini aku mati-matian mengubur rindu supaya membusuk? Mengapa justru sekarang rindu sendiri yang telah membuat diriku busuk? Mengapa tanpa sadar aku menginginkanmu? Bukankah aku yang begini itu gadis busuk yang menginginkan rindu yang lama?