Entah harus darimana lagi aku mulai cerita ini, rasanya tak habis-habis cerita untuk membahas tentang kau dengan dia. Kau sudah membuat hati ini tak lagi berbentuk utuh, sulit di gambarkan rasanya. Mungkin sudah menjadi kepingan bahkan serpihan. Dia yang ku tau telah merenggut kau dari ku, dia yang sudah mengatakan semua hal yang tidak baik tentangku.

Aku diam, selalu aku diam.

Dia terus saja mencariku, menghubungi tanpa henti, hingga aku merasa seperti di teror dalam sebuah drama sinetron. Masih ku biarkan saja dia seperti itu. Aku masih berusaha untuk meredam dan tak ingin membuang-buang waktu dengan membalas semua yang sudah di lakukan olehnya.

Sampai suatu saat aku tak lagi mampu membendung air mata, dan amarahku ketika dia menyebut ku dan mengaitkan ku dengan kain penutup kepala yang ku gunakan sehari-hari, yang paling ku jaga selama ini. Aku sadar dan aku faham betul apa yang ku gunakan bukan lah penentu keimananku tapi aku sangat marah apabila dia mengusik itu. Aku merasa dia tak tau sama sekali tentang apa yang ku gunakan, karena kami tak sama.

Aku menceritakan semua yang ku hadapi dengan keluargaku dan keluargamu. Tak tahan lagi rasanya hati ini untuk menahan. Aku mencoba menghubungimu untuk mengatakan yang sebenarnya tapi aku tak berhasil melakukan nya, aku masih berfikir dan sedikit berharap kau akan membelaku dan memihak kepadaku. Tapi, ternyata tidak, kau malah balik marah kepadaku dan tidak terima dengan yang ku lakukan. Seolah kau menuduhku akulah yang salah dan dia lah yang benar.

Advertisement

Kau sadar dengan yang kau lakukan? Aku tak berhenti, aku terus mencari tau tentang kau dan dia. Aku mendengar dari orang terdekatmu, bahwa mereka sama sekali tak menyukai nya dan dia menceritakan semua yang baik-baik tentang aku. Perempuan mana yang tak bahagia mendengar cerita bahwa keluarga orang yang di inginkan nya menjadi pendamping hidup, menerima nya dengan senang hati. Aku seperti masih punya harapan untuk bisa bersama mu.

Aku marah dengan dia tapi tidak dengan mu entah kenapa aku masih melihat sisi baik mu dan tak melihat sisi burukmu. Aku masih melihatmu sebagai pria ku yang aku tau dulu selalu sayang dengan aku. Aku tak pernah mempermasalahkan hubungan mu dengan dia, bahkan aku tak mengusik kalian. aku berfikir apa yang kau jalani dengan dia hanya lah sebuah keisengan untuk mengisi kekosongan hari-harimu karena kau jauh dari aku. Aku mencoba memahami itu, aku berfikir itu masih dalam batas yang wajar.

Aku tau, bahwa keluargamu marah besar atas apa yang dilakukan dia terhadapku. begitupun dengan keluarga ku, mereka tak bisa terima begitu saja dengan apa yang sudah dilakukan nya terhadapku. Masalahnya semakin pelik hingga aku berfikir untuk memperkarakan nya dengan semua bukti-bukti percakapan dia kepadaku. Sampai di suatu pagi, aku merasa berang dan tak terima dengan apa yang sudah dilakukan dan di ucapkan nya denganku. aku mengirimkan pesan kepadanya dengan nada ancaman supaya dia berhenti mengganggu aku.

Dia membalas pesan ku dengan perkataan maaf dan rasa penyesalan yang membuat ku luluh begitu saja. Aku memaafkan nya saat itu juga. Aku tak tau dari mana awalnya aku bisa berbaik hati dan menyerahkan begitu saja apa yang sudah ku miliki selama ini kepadanya. Entah aku yang terlalu baik, aku yang terlalu polos, atau aku yang terlalu bodoh sehingga aku begitu saja dengan mudah memaafkan dia yang sudah membuat pilu. Hanya satu yang ada di fikiran ku aku tak tega melihat dia menangis, seolah-olah aku merasakan apa yang dia rasakan.

Aku banyak bertanya tentang hubungan kalian. dari awal perkenalan kalian. Kisah kalian, apa yang sudah kalian jalani membuat aku tau bahwa selama ini, aku tak mampu memberikan apa yang kau inginkan mungkin disitu letak kekurangan ku. Aku terlalu cuek dengan mu, aku tak punya banyak waktu untukmu, aku terlalu memikirkan karir ku hingga aku lupa bahwa aku punya kau yang harus ku jaga. Semakin aku tau yang sebenarnya, semakin sakit yang kurasakan.

Dari semua cerita yang aku dengar dari dia, aku tau kau perlakukan dia begitu istimewa tidak sama dengan aku. Ternyata kau sangat menyayangi dia, hingga banyak yang kau korbankan untuk dia. Kau begitu ingin menjadikan dia pendamping mu walaupun itu bertentangan dengan keluargamu. Aku tidak perlu susah payah untuk memenangkan hati keluargamu agar mereka semua bisa menerima ku dengan baik. Tapi apa yang sudah ku usahakan untukmu, ku korbankan untukmu. Itu tak membuatmu melihat aku sebagai perempuan yang pantas mendampingimu. Kali ini, aku mundur aku tak lagi kuat untuk bertahan memenangkan hatimu.