Membiarkanmu pergi, terdengar seperti kamu pernah ingin tinggal tapi sekarang kamu memutuskan untuk pergi. Nyatanya? Kamu tidak pernah ingin tinggal di tempat yang sudah kusediakan di hatiku. Mengikhlaskan kepergianmu juga terdengar seperti melepaskanmu setelah pernah kugenggam tanganmu dan kita berjalan beriringan. Nyatanya? Kita sejalan namun tidak menuju tujuan yang sama. Kita sejalan namun tetap berjarak, bukan beriringan dan saling menggenapkan.

Aku tidak menahanmu saat kamu mengakhiri semua percakapan kita. Aku tidak akan menangis apalagi mengais mencari sisa-sisa ‘rasa’ yang mungkin masih tersisa. Aku memutuskan pergi saat itu juga, bukan tidak mau berjuang untukmu, tapi manusia yang beradab tau mana yang patut diperjuangkan dan mana yang secepatnya harus ditinggalkan. Sebab aku tau, apapun yang aku lakukan tidak akan mampu membuatmu tinggal.

Aku merindukanmu, pada awalnya. Tentu saja aku rindu, ada yang hilang, dari yang ada kemudian tidak ada. Apalagi kamu tidak memberiku jeda untuk sekedar membiasakan tanpamu secara perlahan. Kamu meminta menghentikan percakapan kita melalui aksara, dibatasi layar empat inchi. Aku mengiyakan, tanpa meminta penjelasan apalagi merenggek memintamu berpikir ulang. Aku justru berterima kasih karena kamu membuatku semakin yakin untuk mundur, untuk menghentikan ‘rasa’ yang membuatmu menjauh.

Aku mengikhlaskanmu, melepaskan kamu. Bukan karena aku terlalu pengecut untuk memperjuangkanmu. Tapi aku terlalu berharga untuk menunggu kamu yang tidak mungkin memilihku sebagai tempat untuk pulang. Terima kasih sudah membuatku merasakan sensasi jatuh cinta (lagi) dan sekaligus patah hati. Paling tidak, aku tau bahwa hatiku masih bisa merasa. Masih ada kesempatan untuk mencinta, entah dengan siapa? Nanti.