Jika menurutmu setiap pertemuan adalah kebetulan, maka kau salah. Kebetulan yang kebetulan sekalipun selalu ada campur tangan dari Tuhan. Bahkan kebetulan-kebetulan yang berulang dan berjarak tahunan ini mungkin bukan lagi disebut kebetulan. Kau harus tahu ini adalah bagian dari rencana Tuhan. Aku tidak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan untukku, tapi aku selalu percaya dengan rencanaNYA dan juga percaya denganmu.

“Aku memercayaimu seperti aku memercayai diriku sendiri”

Jika kau memintaku untuk menunggu, maka aku akan menunggu meskipun itu berat. Bahkan jika disamakan, menunggu itu ibarat berada di tepian jurang yang tidak akan pernah tahu apakah akan terjatuh di dasarnya atau justru menjauh dari tepian jurang itu. Aku tidak pernah tahu hanya waktu yang bisa menjawabnya dan lagi-lagi hanya kepercayaan yang akan membantu menjawab itu semua.

Percaya dan menunggu adalah satu paket penantian yang teramat dalam dengan jutaan makna yang terkandung di dalamnya. Kau mungkin tak pernah tahu jika aku bersusah payah mencoba mencerna itu semua dan meyakinkan diriku sendiri jika semuanya akan tetap baik-baik saja. Aku akan mencoba merasa baik-baik saja hingga kata baik-baik saja benar benar terwujud. Pernah aku ingin membunuh rasa ini, tapi justru semakin aku mencoba membunuhnya semakin besar dan semakin subur, begitu seterusnya hingga aku tidak tahu lagi bagiamana aku harus menyikapinya. Aku bahkan tidak bisa mengeja kata untuk mendeskripsikannya.

“Milyaran kata tak akan mampu untuk mendeskripsikan apa yang aku rasakan saat ini”

Advertisement

Kau tahu apa yang membuatku bertahan? Itu karena ada potongan hatiku yang aku titipkan untukmu. Tak peduli apakah potongan itu kau simpan atau tidak, yang pasti disetiap mili dari potongan itu terdapat tetesan air mata yang tidak tersampaikan olehku. Suatu saat jika kau membuatku kecewa, setidaknya aku tidak kehilangan seluruh hatiku. namun, aku tetap percaya jika aku menitipkan sepotong hatiku pada orang yang tepat.

Suatu saat di masa depan, jika kau memenuhi janjimu untuk datang, maka pastikan jika hanya akan ada satu nama didalam hatimu. Jika kedatanganmu hanya untuk menggugurkan kewajiban, maka kau tak perlu lagi mengucap kata apapun. Masa depan masih begitu panjang, aku tidak tahu dengan siapa kau bercanda, bercengkrama, saling bercerita setiap harinya. Tak mengapa aku tidak mengetahui itu semua, hanya saja aku berharap jika dimasa depan kau datang untuk memenuhi janjimu bukan untuk mengenalkanku dengan pilihan barumu. Jika memang begitu, maka tak ada salahnya jika kau mengenalkanku jauh-jauh hari sebelum pertemuan itu ada. Tapi aku selalu berdoa jika prasangka burukku itu tidak akan pernah terjadi.

Aku hanya tahu dan mencoba memahami keadaan yang ada. aku juga berusaha menjaga komitmen yang sudah aku bangun sendiri. seperti kutipan dari penulis terkenal Tere Liye.

“Jika dua orang memang benar-benar saling menyukai satu sama lain, bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah diwaktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi hadiah yang hebat untuk orang-orang yang bersabar. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar”.

“Komitmen tidak dibangun dari kata2 indah, janji2 manis. Komitmen dibangun dengan perbuatan. Semakin nyata perbuatan tersebut, maka semakin kokoh pondasinya. Komitlah pada apa yang telah kita pilih dan putuskan sendiri. Komitmen yang sungguh2. Serius. Karena jika kita tidak komit, wah, tidak akan bertahan lama jadinya.

– Tere Liye –