Untuk orang yang sedang menjalin hubungan denganku.

Hubungan kita disepakati oleh karena kesamaan rasa. Aku tertarik padamu, dan engkau pun demikian. Dalam diriku, sedikit pun tak ada kepedulian tentang kurang atau lebihmu. Karena permulaan itu hanyalah sesederhana ucapan: “Aku tertarik denganmu, itu saja! Tidak rumit dan tidak ribet!”

Setelah sepakat bersama, perkenalan kita jadi semakin mendalam. Aku mengetahui kurang serta lebihmu, dan begitu pula kamu. Namun karena matangnya landasan masing-masing dari kita, justru kekurangan dan kelebihan merupakan momentum yang tepat bagi kita untuk saling mengisi.

Aku sudah lelah berkelana mencari hati. Aku bertekad bahwa bila suatu hari nanti Tuhan mempertemukanku dengan hati yang tepat, aku tak ingin melepasnya. Aku ingin segera mengikatnya dengan janji suci pernikahan.

Mula-mula, mereka menolakmu tanpa alasan yang jelas. Mereka tak menghendaki agar hubungan ini terus berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Hadirnya penolakan di tengah cinta yang sedang bersemi, bagaikan petir yang mendadak menyambar tanpa didahului oleh gerimis maupun hujan.

Advertisement

“POKOKNYA KAMI TIDAK SETUJU!”

Begitulah yang kerap mereka ucapkan pada permulaan. Kadang aku berpikir bahwa mungkin kalian masih sedang dalam proses untuk memikirkan alasan yang membuatku kelak berpikir bahwa itu logis.

Kalian pun kini berhasil menemukan kalimat yang menguatkan argumen demi tercapainya perpisahan kami. Tak jarang, kalian meneriakkan argumen tentang hal-hal yang sejak terlahir ke dunia, kita tak diperkenankan memilih, seperti agama, ras, warna kulit, negara, status ekonomi, dan hal-hal lainnya.

Pada akhirnya, aku tetap mematuhi orang yang melahirkanku, orang-orang yang merawatku, dan orang-orang (yang katanya) punya sumbangsih besar dalam pencapaian hidupku hari ini.

Mereka menyodoriku jodoh yang kalau menurut versi mereka: ‘sangat cocok denganku!’

Saat itu, tak henti-hentinya aku membatin: “Lantas, apa bedanya dengan pasangan yang kemarin aku pilih sendiri, pasangan yang tepat menurut versiku? Bukankah masih-masih sedang dalam perjalanan memperjuangkan ego masing-masing?

Kepada kamu yang senantiasa mengendap dalam hatiku yang paling dalam, berbahagialah dengan ia yang kini beruntung mendapatkanmu. Tetapi maafkan aku bila esok atau lusa, aku rindu.

Hari ini, saat aku sedang menuliskan ini, aku pun tengah ditikam rindu. Karena hidup bersama orang yang tak kita cintai, bukan berarti dilarang rindu terhadap ia yang sesungguh-sungguhnya kita cintai, bukan?