Di bawah langit yang sama, menapaki jejak yang sama, saling berdampingan dan saling memberikan senyum satu sama lain. Hanya saja aku tidak bisa menggenggam tanganmu. Aku selalu melihatmu, memperhatikanmu dan selalu mendampingimu. Tapi, aku belum sanggup menggandeng tanganmu. Sesuatu yang sangat ingin aku lakukan. Namun, sangat sulit.

Angin yang selalu berhembus lembut, memberikan kesejukan di setiap hembusannya. Tapi, apakah angin itu senantiasa bersikap lembut? Apakah langit akan selalu memberikan kesejukannya? Adakalanya angin berhembus dengan kencangnya, menghancurkan semua yang ada, memporak-porandakan rumah-rumah. Bahkan merobohkan pohon yang berdiri dengan kokoh sekali pun. Kau tahu angin itu cinta, dan pohon itu adalah persahabatan.

Angin yang diibaratkan cinta selalu memberikan kesejukan bahkan kebahagiaan bagi setiap orang. Lihat bagaimana orang-orang di luar sana memuja-muja angin yang setiap kali berhembus, menutup mata setiap kali angin menerpa wajah. Merasakan setiap hembusannya memberikan kesegaran dalam sejuknya. Lihat bagaimana angin memberikan sebuah kebahagiaan itu. Itulah cinta. Selalu datang tiba-tiba, tapi tidak bisa kita hentikan sekali pun.

Aku dan dirimu selalu bersama, menghabiskan waktu berdua, tertawa, bermain dan merasakan kesedihan yang sama. Bertahun-tahun lamanya kita bersama, tapi ikatan yang kita jalani masihlah berupa pertemanan. Entah kapan angin itu merasuki tubuhku, membius sel-sel otakku sehingga pikiranku hanya dipenuhi olehmu. Entah kapan cinta itu datang, yang membuat mataku selalu terpana saat aku memandang wajahmu. Begitu dalam perasaan ini hingga aku takut kehilangan dirimu. Aku takut jika harus berpisah darimu. Aku ingin selalu menggandeng tanganmu, menepi dalam kebahagiaan kita berdua.

Tapi, apakah kau akan menerima perasaanku ini? Apakah kau akan tetap bersamaku ketika kau tahu aku memiliki perasaan yang bukan sekedar seorang teman?

Advertisement

Embun menari dengan riangnya di atas daun hijau tanpa memikirkan mentari dengan teriknya menyinari daun itu, yang berlahan membuat embun menghilang bersama dengan uap yang terbang bersama angin. Jika perasaan cinta itu seperti embun, maka jauh sebelum aku menyadarinya cinta ini pasti hilang bersama angin. Namun, yang terjadi padaku adalah sebaliknya, angin justru membawa cinta itu kembali padaku. Dan aku tidak bisa menghentikan rasa cinta itu. Haruskah aku mengungkapkannya? Atau menyimpan perasaan ini selamanya?

Cinta itu terkadang egois, mungkin aku sendiri yang mengalami cinta ini dan kau tidak. Mungkin aku saja yang ingin selalu bersamamu dan kau tidak. Tapi, untuk saat ini dalam balutan kata demi kata aku menyampaikannya. Setiap baris yang aku tulis ini menyisakan rasa yang selama ini aku pendam. Bahwa aku mencintaimu. Aku ingin bersamamu dalam heningnya sepi dan sayup-sayup lembut angin, aku ingin selalu bersamamu.

Aku tidak peduli tentang kau mencintaiku atau tidak, aku pun tidak peduli kau ingin bersamaku atau tidak. Tapi, mencintaimu sudah menjadi keharusan. Dan membahagiakanmu menjadi sebuah kewajiban bagiku.

Biarkan perasaan ini selalu tumbuh berjalan dengan seiringnya waktu. Hingga akhirnya kau pun juga menyadari akan perasaan cinta yang aku miliki untukmu. Tentang bagaimana cinta itu akan membuatmu bahagia. Aku tidak akan memendam perasaan ini lagi, sebelum aku menyesal nantinya. Untuk itu aku tidak akan memendam perasaan cinta ini lagi. Sebuah pohon mungkin akan terhempas dengan angin, tapi pertemanan ini tidak akan goyah dengan rasa cinta yang aku miliki padamu.