Cinta tak harus memiliki. Pepatah itu memang benar adanya. Bahkan aku tak mampu mengatakan kepadamu mengenai rasa berbeda yang kumiliki ini.

Aku tak pernah mengerti bagaimana maksud dan hati laki-laki seutuhnya. Kau hadir begitu saja dalam hidupku. Berasal dari rasa kagummu kepadaku, kau sering menanyakan bagaimana menguasai materi pelajaran, bagaimana berorganisasi, dan bagaimana mengatur waktu.

Namun, perlahan semua hal itu hanya seolah kamuflase. Kau mulai menceritakan tentang kehidupanmu. Kau bercerita semua tentang cinta. Kau mulai menyingung soal hati.

Sejak saat itu, pikiranku mengembara ke angkasa. Berasumsi dengan segala kemungkinan dan sekali lagi aku menerka-nerka apakah kita punya perasaan yang sama. Kau mulai menanyakan hal yang pribadi kepadaku.

Kau bertanya bagaimana pandangan wanita kepada laki-laki? Apa yang dicari seorang wanita dari laki-laki? Dan apa kriteria laki-laki idamanku.

Advertisement

Aku melayang dengan pertanyaanmu. Aku berpikir lama untuk menjawab pertanyaanmu itu. Bahkan parahnya aku mulai mencari di internet mengenai tips-tips PDKT. Dan kurasa jawabanku sempurna. Beberapa justru mengarah kepadamu. Memberi sinyal seolah aku mengijinkanmu memasuki hatiku.

Namun, kau membalas jawabanku dengan hal yang berbeda. Kau membalasnya dengan sesuatu yang tak kusangka-sangka. Sesuatu yang membuatku merutuki kesalahanku sendiri. Sesuatu yang memutus segala harapan semu darimu. Sesuatu yang membuatku kehilangan logika.

Kau mengatakan bahwa kau sudah lama mencintai seorang gadis. Dan gadis itu bukanlah aku. Kau menanyakan pendapatku tentang dia. Kau mengatakan bahwa kau sudah lama mencintainya dan segera ingin mengungkapkan perasaanmu.

Hatiku hancur, remuk dan tergerus. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Menjauhimu? Sama saja mengatakan bahwa aku mencintaimu. Aku tak bisa meninggalkanmu. Aku ingin dekat denganmu, walau dengan cara yang mencekik perasaanku.

Akhirnya aku memilih mendengarkan segala curahan hatimu tentangnya dan memendam erat rasa cintaku padamu.

Hampir setiap hari kau bercerita tentang suka dan duka dalam mencintai gadis itu. Gadis beruntung yang telah kau pilih. Hingga kau mulai patah hati begitu mengetahui gadis yang kau cinta telah memilih orang lain.

Kau berlari padaku. Mencurahkan dukamu. Aku hanya mampu menahan getir menulis pesan untuk menguatkanmu. Selalu mencoba tersenyum ketika kau mengatakan kejadian mengesankan antara dia dan dirimu. Aku mencoba menabahkan hatiku dan mengatakan tidak apa-apa jika kau mulai curiga dengan wajahku yang murung.

Semua temanku mengatakan aku bodoh karena mau menyimpan rasa sakit ini. Kadang aku juga berpikir untuk menghilang saja darimu. Hanya saja, aku tak ingin kau bertanya tentang sikapku yang tiba-tiba berubah, karena aku tak akan pernah mempunyai alasan yang pasti untuk menjawabnya.

Hingga detik ini, aku masih menyimpan rasa itu sendiri. Aku berharap suatu saat nanti kau akan menoleh pada hati yang mulai kemarau ini. Aku berharap kelak kau sadar siapa yang selalu ada di sisimu. Kelak kau sadar betapa ada hati yang menahan air mata untuk melihatmu ceria dengan kisah cintamu yang lain, yang masih belum mampu kuselami.

Jika cinta mampu menerbangkan kita ke angkasa, maka cinta pun mampu menghempaskan kita sejauh asa. Berharap kepada cinta, hanya ilusi semata.