Cairan bening terus mengalir dari pelupuk mataku sejak sepupuku mengirimi pesan. Ah bukan. bukan karena pesan itu sekarang aku menangis. Hanya saja akhir-akhir ini aku sedang berusaha melupakan semua kenangan itu dan cinta sepihakku.

“Kau dimana? ‘Dia’ ada di rumahku sekarang.”

Aku langsung mengerti ‘dia’ yang dimaksud sepupuku itu siapa. Semua kenangan kami—ah tidak! Semua kenangan yang hanya aku sendiri yang mengingatnya terlintas begitu saja saat aku mendengar namanya. Minggu lalu, saat ‘ia’ bilang akan berkunjung ke rumahku, aku bersikeras menolak dengan alasan aku sedang tak ada di rumah dan aku akan pulang terlambat. Aku berbohong. Maaf. Aku sedang menghindarinya.

Aku tak mau menemuinya dalam waktu yang cukup lama. Menahan diriku untuk tak menghubungi atau mengiriminya pesan. Hingga apa yang sekarang kurasakan untuknya benar-benar sirna.

Ah sial! Ini tak mau berhenti. Aku pikir mataku sudah tak bisa memproduksi air mata lagi.

Advertisement

Aku mengusap wajahku kasar. Enggan membalas pesan dari sepupuku. Melempar ponselku ke sembarang arah. Mengabaikannya. Menyalakan laptopku dan mulai mengetik curahan hati ini. Menyedihkan memang. Hanya aku seorang yang memperjuangkan cerita ini. Dan sekarang, inilah saatnya. Waktu yang tepat untuk memulai hidup baru bersama orang-orang baru yang akan mengisi setiap ceritaku. Dan kau, womanizer! Do’akan agar suatu saat yang tepat nanti ada seseorang yang lebih baik darimu dan telah memantaskan dirinya datang padaku serta dapat menggantikan peranmu di ‘ruangan’ ini.