Aku masih di sini, duduk di tengah taman mellihat sekeliling. Mengamati satu persatu manusia yang lalu lalang di hadapanku. Mencoba menerka apa yang sedang mereka lakukan.

Aku masih sendiri dan mungkin akan selalu sendiri. Aku terlalu terbiasa untuk menyendiri, sampai lupa bagaimana rasanya melakukan kegiatan bersama orang lain. Sampai lupa bagaimana cara bertegur sapa dengan orang lain. Namun, aku masih bisa menikmati hal ini. Menikmati hal yang mungkin bagi sebagian orang tak dapat mereka nikmati.

Aku tak mengerti bagaimana awal dari semua ini. Yang kutahu, dulu aku hanya tak begitu menyukai keramaian. Hal itu berujung dengan aku mencoba menarik diri saat aku berada di keramaian.

Pada akhirnya aku sadar aku menyukai sepi. Sepi yang membuatku bisa merefleksikan diri. Sepi yang membuatku bisa belajar tentang manusia dengan mengamati tiap gerak-geriknya. Sepi yang membuatku bisa lebih memahami bagaimana cara Tuhan mengatur kehidupan ini. Bagaimana cara Tuhan membuat garis-garis takdir dan jalan dari tiap manusia yang berbeda-beda. Aku menyukai itu semua.

Sayang rasa suka itu terlalu berlarut-larut bagiku. Aku sampai tak tahu bagaimana caraku untuk kembali. Terkadang ingin rasanya bagiku memulai suatu hal yang baru, namun begitu sulit. Ingin aku mencoba keluar dari zona nyamanku, tapi takut. Ya, aku takut jikalau aku tak bisa menyatu dengan ramai itu.

Advertisement

Orang lain takkan tahu mengapa aku terus menyendiri. Yang mereka tahu hanya aku yang pendiam, yang tidak asyik, yang tidak bisa diajak ngobrol, yang kaku. Padahal sesungguhnya aku hanya takut bila mereka tak suka dengan diriku yang menyukai sepi ini.

Tahu bahwa tak banyak orang yang menyukai sepi, terkadang membuatku merasa berbeda. Merasa bahwa aku benar-benar berada di dunia yang tak sama dengan kebanyakan orang. Dan hal itu membuatku menyalahkan diriku sendiri, bahwa mengapa aku tak bisa menjadi seperti kebanyakan orang? Mengapa aku hal yang kusukai adalah hal yang tak disukai kebanyakan orang lain?

Aku masih berpikir seperti itu sampai suatu saat aku tersadar, mungkin bukan saatnya lagi bagiku untuk meratapi atau mengutuk diri sendiri. Mungkin pula bukan saatnya bagiku untuk memaksakan hal yang tak bisa aku lakukan. Karena mungkin Tuhan telah menciptakanku untuk menjadi salah satu mahluk-Nya yang harus menjalani kehidupan seperti ini. Karena Tuhan telah menggariskan jalan bagi tiap manusia dengan cara yang unik dan berbeda, begitu pula denganku. Dan mungkin, dengan mengisi kekosongan jalan ini aku telah menjalankan tugasku dengan baik sebagai ciptaan-Nya.