Apa kabarmu, wahai calon imamku? Apa engkau baik-baik saja di sana? Meski di sini namamu masih menjadi sebuah rahasia yang harus aku singkap dengan doa, aku disini menunggumu dengan sabar. Sebagai wanita aku tak mampu berikhtiar untuk mengejarmu, bagiku ikhtiarku hanya lewat doa.

Apa kabarmu, wahai calon imamku? Apa di sana engkau sholat tepat waktu ? Apa dinginnya malam mampu engkau kalahkan untuk bangun di sepertiga malam, meminta kepada sang Illahi Robby? Apa namaku juga terselip dalam doa panjangmu?

Meski kita tak pernah bersua ataupun bertegur sapa, meski kita belum pernah saling bertatap muka, tapi aku yakin engkau di sana juga berusaha memantaskan diri. Di sini akupun sama berusaha menjadi orang yang lebih baik, hingga waktu akan menyingkap ketika kita kelak akan dipersatukan dengan ridho-Nya,

Wahai calon imamku, apa engkau di sana juga menungguku? Menanti pertemuan kita, pertemuan indah ketika aqad terucap, ketika saksi berkata sah dan kita menjadi halal, saling menyempurnakan separuh dien.

Calon imamku yang tak aku tahu siapa dirimu, namamu, rumahmu, keluargamu, dan dari belahan bumi manapun dirimu, tapi namamu telah tetulis di lauhul mahfudz bersanding dengan namaku, semoga kelak ketika kita bertemu dan dipersatukan. Untuk saat ini aku akan menunggumu dan memperjuangkanmu di dalam doa, semoga kelak kita akan dipersatukan.

Advertisement

Teruntuk kamu CALON IMAMKU.