Seorang gadis yang "tomboy" kata mereka. Itulah aku. Aku hidup, dibesarkan dan dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Tak berada dari keluarga yang terlalu berada. Setiap hari aku bersekolah, seperti anak-anak yang lainnya. Kisah pahit hidupku berawal dari fitnah yang dilantunkan kepada ayahku tercinta. Ayahku seorang pekerja di kantor pos. Setiap hari tanpa letih dan keluh ia mengantarkan barang kiriman ke tempat tujuan dengan tepat waktu.

Ayahku seorang yang pekerja keras. Ia difitnah oleh rekan sekerjanya telah melakukan korupsi. Dan akhirnya, ayahku dimasukkan dalam penjara yang kelam dan tanpa kehangatan sedikit pun. Yang ada hanya sedikit cahaya dari lampu dan sepi yang menyerang. Kehidupan kami sekeluarga benar-benar berubah 360 derajat ketika itu. Tetangga selalu saja menjadikan keluargaku sebagai bahan omongan favorit.

Sejak hari itu, aku pun tetap bersekolah seperti biasa. Hari-hari di rumah aku lewati tanpa kasih sayang dan perhatian dari sesosok Ayah lagi. Namun, teman-teman dan sahabatku selalu saja memberiku semangat dan menghiburku dengan setia. Mereka tidak pernah meninggalkan aku sendiri. Namun, hatiku masih saja miris, karena ibuku tidak percaya lagi dengan ayahku.

Ibuku begitu percaya dengan mudahnya bahwa ayahku melakukan korupsi. Aku, kakakku dan adik-adikku hidup dalam suasana perselisihan batin antara kedua orangtua kami. Ibuku mengikuti sebuah perkumpulan. Mereka selalu saja kumpul-kumpul di rumah dengan ibuku. Mereka mabuk-mabukkan, merokok, berjudi, bertelponan dan dengan lelaki yang entah siapa.

Hingga pada suatu ketika, aku merasa muak dan bosan melihat rumah suci ini ternodai oleh tingkah mereka yang tidak senonoh itu. Aku pun membentak, marah dan mengusir mereka semua pergi dari rumahku. “Pergi kalian dari rumahku! Dasar tidak tahu diri, apa kalian tidak malu dengan tingkah kalian itu? Jangan injakkan kaki kalian lagi di rumah ini! Jangan bujuk dan rayu lagi Ibuku untuk menjadi wanita bejat seperti kalian! Lekas pergi! Pergi! Sekarang juga.

Advertisement

Ibuku hanya terdiam dan termenung setelah itu. Beberapa menit kemudian, aku peluk ibuku dengan sangat erat sembari membisikkan di telinganya “Ibu, jangan buat dirimu menjadi seperti ini, aku tahu kau letih, kau lelah, kau takut, aku tahu dan aku mengerti ibu, tapi jika kau terus menerus seperti ini. Siapa yang akan menjadi pelindung dan penyemangat anak-anakmu lagi Ibu?Kami anakmu, kami perlu sosokmu ibu, jangan kau terlantarkan kami dengan tingkah bodohmu itu ibu.

Allah takkan memberi ujian di luar batas kemampuan hamba-hambanya ibu, ibu tak sendiri, ada aku, kakak dan adik-adik. Kita akan bersama-sama melalui ini semua ibu. Semua kalimat itu aku lisankan sambil menangis. Setelah itu, ibu lalu memelukku dengan eratnya, ia menangis dengan tersedu ia menjawab “maafkan ibu nak, tak sepatutnya ibu melakukan ini.

"Ibu benar-benar bodoh, telah melupakan kehadiran kalian, telah melupakan tanggunggjawab ibu pada kalian. Maafkan Ibu nak, Ibu berjanji untuk tak mengulangi hal itu lagi. ” Aku tersenyum dan menghapus air mata di wajah tua ibuku itu. Tak terasa sudah hampir dua tahun lebih ayahku berada dalam jeruji besi. Rasa cinta Ibuku kini telah pudar dan berpindah kepada sesosok laki-laki yang tak pernah aku tahu bagaimana awal cerita pertemuan mereka.

Akhirnya, ibuku menggugat cerai ayahku. Suatu hari, laki-laki itu main ke rumah. Dan di kala itu hanya ibuku sendiri di rumah. Ketika aku baru menaikki tangga sepulang sekolah, aku mendengar teriakkan ibuku yang sedang memanggil-manggil namaku. “Layla….Layla….tolong Ibu nak..tolong! tolong!.” Aku bergegas lari dan masuk ke dalam rumahku, betapa terkejutnya aku! Kulihat Ibuku sedang diregang dan di atas badannya ada laki-laki yang telah siap untuk melampiaskan nafsu birahinya.

Dengan seketika aku terjangkan laki-laki itu dari atas tubuh Ibuku. Aku langsung memeluk Ibuku dengan erat. Ibuku menangis dan merintih ketakutan dalam dekapanku. Laki-laki itu terlempar dengan keras dan kemudian pingsan. Kuberani tuk mendekatkan diri, memeriksa keadaannya. Innalillah…ternyata dia meninggal. Aku langsung menelpon polisi. Tak lama kemudian polisi pun datang ke rumah kami sambil membawa ambulance. Aku dan Ibuku di wawancarai oleh polisi.

Media datang memenuhi rumahku untuk meliput kejadian itu. Aku dan Ibuku menceritakan kronologis kejadian dengan nyata adanya. Dan akhirnya proses interogasi pun selesai, mayat laki-laki tadi telah di makamkan dengan selayaknya. Aku dan ibuku di bebaskan dari tuntutan hukum, karena kami adalah korban. Beberapa minggu setelah kejadian itu, kami tetap menjalani hidup dengan senormal mungkin, melupakan semua kejadian kelam yang sempat menggemparkan seisi desa.

Namun, tak selang beberapa bulan, kakakku melaksanakan nikah siri dengan seorang lelaki yang telah lama menjalin hubungan dengannya. Ibuku kembali terkejut dan bersedih lagi. Kakakku dimarahi habis-habissan oleh ibu. Aku hijrah ke rumah bibiku untuk bekerja dan tinggal menginap di sana. Kadang-kadang aku pulang untuk memberikan uang gajiku kepada ibu, dan melepas rindu pada adik-adikku.

Ujian Nasional telah menghampiri. Aku pun kembali tinggal di rumahku. Hari-hari aku habiskan untuk belajar dan les di sekolah. Alhamdulillah, kami satu angkatan lulus semua dengan nilai yang membanggakan. Ibuku tersanjung dan memelukku dengan penuh rasa bangga. Aku telah tamat sekolah. Lalu aku dengar ada lowongan pekerjaan di sebuah mini market.

Iseng-iseng aku masukkan lamaran pekerjaan, dan Allah punya rencana sendiri. Aku diterima bekerja di sana. Hingga detik ini, aku masih bekerja di mini market itu, kakakku telah mempunyai dua orang anak dan telah menikah sah secara hukum dan agama. Ibuku sibuk menanam padi. Adik-adikku bersekolah seperti biasa. Dan dua tahun lagi ayahku keluar dari jeruji besi. Inilah kehidupanku yang sekarang.