Mereka bilang senja itu indah. Rona jingga mentari yang terbenam menghadirkan semburat kenyamanan, menembus cakrawala dan tak kan pernah mampu ditolak oleh setiap mata yang memandang. Bagiku tidak. Senja dimataku adalah awal kegelapan pekat yang dibawa sang malam. Awal kesedihan yang mampu menghancurkan kuatnya hati yang bahkan lebih kuat dari seribu lapisan dinding baja. Aku suka senja, namun tak menikmatinya seperti mereka.

Mereka bilang pantai juga indah. Butiran pasir yang menyentuh kaki akan selalu menghadirkan kehangatan yang akan mengaliri kebekuan hati. kilauan bak mutiara pun tak lalai menggambarkan kemewahan tersendiri. Tapi sekali lagi aku tak menyetujuinya. Bagiku pantai itu jahat. Debur ombaknya tak jarang membawa pergi semua kenangan, menghapus langkah kaki bahkan setiap memori dan harapan yang tercetak disana. Aliran arus pun mampu menghadirkan aura kematian yang membuatku bergidik. Yah.. aku suka pantai, namun sekali lagi aku tak menikmatinya seperti mereka.

Senja dan pantai adalah kombinasi yang luar biasa. Berada di pantai saat senja sembari menanti sunset adalah suatu hal luar biasa yang tak ingin mereka lewati. Aku menyukainya namun benar-benar tak menikmatinya. Bagiku senja dan pantai adalah kombinasi paling menyedihkan yang mampu menghadirkan kegelapan terdalam hati. Mampu menarik kembali kenangan paling menyakitkan tentang hidup, cinta dan persahabatan. Tentang kamu, tentang dia, tentang mereka dan tentang semua yang pernah hadir dalam hidup ini.

Senja dan pantai, dua hal yang selalu menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan tempat. Dua hal yang selalu menjadi penikmat adanya pertemuan, perpisahan, tawa bahagia hingga derai air mata. Dua hal yang akan selalu muncul dan terlihat luar biasa indah dalam puisi sang pencinta. Namun juga akan terlihat sangat menakutkan dalam balada hidup sang nestapa. Aku menyukainya namun sekali lagi kukatakan aku tidak menikmatinya.

Senja dan pantai, suatu kombinasi keajaiban karya Tuhan. Aku menyukainya namun tak benar-benar menikmatinya. Disini, dibatas antara daratan dan lautan, dibatas antara siang dan malam, akan selau kutemukan arti hidup. Disini pula akan ku kubur dan ku lupakan segala kenangan yang hanya akan menghambat langkahku, dan akan kuraih semua harap yang mampu membawaku terbang meraih mimpi.

Advertisement

Senja dan pantai mungkin memang tercipta sebagai renungan dan tempat bersandar bagi jiwa yang lelah. Aku sangat menyukainya dan aku pun sangat tak menikmatinya. Tapi ucap terima kasih akan selalu ku sampaikan pada keduanya, karna mengajarkanku bahwa akhir dari sesuatu adalah awal dari sesuatu yang lain.

Untuk Senja dan Pantai yang ku sukai namun tak benar-benar kunikmatinya.