Ketika 2 insan dipertemukan dalam sebuah jarak, entah itu jarak usia maupun langkah dan saling mempertaruhkan cinta. Umur kita memang sangatlah jauh, entah alasan apa yang membuat keyakinan bisa mengawali semuanya. Ternyata sulit.

Bertahan? Hanya itu yang dimiliki, ketika hati sudah mulai jenuh. Perbedaan memang baik bahkan sangat baik tapi untuk apa jika tidak dengan usaha untuk saling melengkapi. Antara aku dan kamu.

Di saat pasangan lain tertawa terbahak-bahak hingga lupa dunia menunjukan kebahagaiaan kita hanya kaku terpaku pada urusannya masing-masing. Hadir dengan kebahagiaan masing-masing, dengan tawa masing masing dan gadget masing-masing.

Untuk apa berharap kebahagiaan untuk tiba-tiba hadir di hadapan, jika yang di hadapan pun masih belum bisa mengerti kelengkapan. Apa hadirnya sosok seseorang di hadapan jika tak pernah dianggap. Hanya seperti patung penuh harap. Berharap kebahagiaan.

Ketika kopi sudah tak hitam lagi, teh sudah tak manis lagi dan ketika harapan sudah tak bisa diharapkan lagi, kebahagiaan patut dirindukan.

Advertisement

Kata-kata kosong telah habis berucap rindu, kamu tak pernah peduli bahwa ini sangat berat. Apa arti sebuah petemuan jika dunia kita memang telah berbeda, jika keromantisan cinta sudah tidak lagi bersamamu, tapi materi. Bagaimana dengan aku yang mengaggap keromatisan adalah sebuah kebahagiaan bukan sekedar materi.

Apa kepedulianmu?

Sayang.. Ini berat, ketika pilihan hati datang antara bertahan atau melepaskan, terpaksa hati memilih melepaskan alasan merindukan sebuah kebahagiaan.