Bapak. Kini putrimu telah tumbuh besar, sedang belajar hidup mandiri, bahkan tengah merantau ke ibukota.

Seandainya engkau tahu, Bapak. Jika boleh memilih aku ingin pulang kerumah. Kembali ke kampung halaman terasa begitu damai. Aku ingin berada dirumah mendengar alunan gitarmu, menyanyikan lgu bersama, mendengar ceritamu, bahkan menonton Moto-GP pada saat weekend. Hal-hal yang kuanggap biasa, ternyata kini sangat ku rindukan.

Namun, diatas itu semua ada hal yang aku sadari bahwa semua ada waktunya.

Sesuatu tak akan pernah berlaku “sama” dalam jangka waktu yang lama. Tanpa terasa aku semakin beranjak dewasa, mulai mengemban tanggungjawab untuk masa depanku. Sedari kecil bahkan sampai kuliah aku tak pernah terpisah darimu. Walaupun keluarga kita sederhana dan kecil, namun aku merindukannya. Hiruk pikuk Ibukota benar-benar jauh dari kedamaian pelukanmu.

Advertisement

Aku tidak akan berdiri disini, tanpamu.

Kini aku telah memulai karirku, di Ibukota. Masih dapat kuingat, kala kecil aku mengalami sakit usus buntu dan kau menemaniku sepanjang hari hingga kakimu bengkak seperti ‘kaki gajah’. Aku tahu engkau lelah, namun engkau tetap terjaga (jikalau) aku membutuhkan sesuatu. Sampai sekarang pun, perhatianmu tak pernah berkurang. Sekedar mengingatkan untuk beribadah dan makan, membutku merasa kau tetap dekat hanya fisik kita yang jauh.

Terimakasih, Bapak.

Bapak, terimakasih atas semua kasih sayang yang kau beri. Aku tahu, dibalik pribadimu yang terkesan dingin dan tenang-tenang saja, engkau tak pernah berhenti memikirkan, menyayagi, dan berusaha memberi yang terbaik untuk anak-anakmu.

Dan, maaf.

Apabila nanti pada akhirnya, aku tak bisa selalu menemanimu karena aku harus bersama dengan (lelaki) yang nantinya menjadi suamiku.

Tapi percayalah Bapak, engkau selalu jadi pria nomer 1 dalam kehidupanmu, engkau yang usapnya lembut, yang petuahnya penuh kasih sayang.

Aku bangga menjadi putrimu.