Tulisan ini tentang sosokmu yang kurindukan ayah. Butuh kekuatan untukku menahan air mataku yang jatuh setiap kali aku mengenangmu Yah. Aku hanya ingin mengungkapkan kerinduanku, apa kabar dirimu saat ini ayah? Apa yang kini kau lakukan di setiap harinya tanpa kami? tanpa aku dan ibu. Ayah air mataku saat ini sudah menetes di pipiku saat menguraikan setiap kata tentang sosokmu yang kurindukan.

Aku begitu ingin tahu apakah kau menyayangiku dan menganggapku bagian dari hidupmu yah? Yang aku ingat darimu kenapa hanya wajah yang sudah mulai menua, begitu menakutkannya saat kau memarahiku. Dan hanya kudengar nada tinggi suaramu saat itu. tanpa kau tahu Yah disetip kalinya kau selesai memarahiku, aku berlari kecil ke sudut kamar dengan dada teramat sakit karena menahan sesak, sakit di kerongkonganku seperti menahan sesuatu di bagian itu dan sakit dikepalaku karena terisak menahan tangisku Yah.

Saat itu hari kelulusanku dari Sekolah Menengah Atas, lihatlah ayah, anakmu yang nakal ini sudah besar sekarang. Sudah tidak akan memakai seragam putih abu-abu itu lagi. Aku berlari pulang ingin membanggakan nilai hasil kelulusanku saat itu, ayah.. tapi mengapa wajahmu tidak seperti apa yang ada di dalam imajianasiku, dengan tatapan bahagiamu kau peluk aku dengan pelukan hangatmu. Mengapa saat itu kau sama sekali tak memelukku? Kau hanya menatapku dengan tatapan kosong lalu pergi berlalu dari hadapanku. Tunggu apa saat itu kau sedang sakit yah? Atau nilai hasil kelulusanku biasa saja dimatamu? Ayah jika kau mencariku saat itu, aku berlari kecil menuju kamar dan terduduk disudut sambil memegangi nilai kululusanku. Sakit yahh..hatiku sakit sekali saat itu

Waktupun memisahkan ayah dengan ibu, perpisahan kalian juga memisahkan ayah denganku. Saat itu entah apa yang aku rasakan, yang aku tahu saat itu tidak lagi aku dengar kabarmu, tidak lagi aku melihat wajahmu yang penuh amarah padaku jika kau lelah yah. Tak kudengar lagi nada tinggi suaramu saat memarahiku, dan tidak lagi aku berada di sudut kamar dengan terisak tangis.

Mungkin Tuhan memberimu pelajaran berhaga saat itu ayah, untuk kau sadari betapa kau menyia-nyiakan orang yang sangat amat mencintaimu.

Advertisement

Kau pergi menyisakan kenangan wajah amarahmu yang tertanam di otakku, menyisahkan suara kerasmu saat memarahiku. Aku hanya bermimpi disetiap malamnya dapat merasakan pelukan kasihmu yah.

Tapi hari ini aku begitu amat merindukanmu, mungkin mendoakanmu adalah salah satu caraku memelukmu dari sini. Berimajinasi dengan bayangmu adalah caraku mengobati rindu tebal ini yah. Ayah.. tapi aku yakin dihatimu juga ada kasih untukku, mungkin dulu tertutup oleh kerasnya hatimu. Kini aku hanya ingin tahu "kapan kau akan menemuiku dan memelukku sambil tersenyum terhias di wajahmu jika menatapku? Tidak lagi dengan wajah marahmu saja". Ayah janjiku, tak akan ada lagi kebencian untukmu. Sungguh!