Mengagumi dalam diam. Terkadang harus ku bunuh rinduku dengan kejam. Membiarkanmu perlahan tergantikan dari ingatan dengan setumpuk pekerjaan yang sengaja ku cari-cari, agar pikiranku tak melulu tentang kamu. Tentang kenangan bersamamu.

Pertemuan kita adalah takdir dari Tuhan. Namun kebersamaan kita hari demi hari ini adalah hasil dari usahaku.

Aku teringat ketika kita duduk dalam satu mobil yang sama. Kau duduk tepat di depanku. Ingin rasanya aku mengajakmu berbicara banyak hal. Mendengarkan ceritamu, membicarakan tentang aku, tentang kamu, atau mungkin tentang kita. Tapi sungguh, seluruh kata kata itu hanya mampu sampai di tenggorokanku. Buntu dan bisu rasanya ketika di dekatmu. Aku lebih memilih bersandar pada bangkumu, menutup mata sembari menikmati aroma tubuhmu—yang akan selalu aku ingat, mendengarkanmu bicara, bernyanyi, atau tertawa.

Tersenyum saja kau sudah sangat mempesona.

Aku suka sekali melihatmu tersenyum. Itulah kenapa aku sering melewati jalan depan rumahmu. Berharap sesekali aku beruntung bertemu denganmu yang entah sedang apa berada disana, di pekaranganmu. Lalu kita saling tersenyum, saling menyapa lewat senyum. Sesederhana itu, tapi sungguh, efeknya kau bisa membuatku bersemangat seharian.

Advertisement

Maafkan aku, aku pasti terlihat sangat membosankan buatmu. Aku tak bisa seperti teman-temanku yang seru. Yang selalu dengan mudah tertawa bersamamu. Atau ikut membuat lelucon untuk membuatmu tertawa. Aku hanya bisa menikmati pemandangan itu, tawamu. Sungguh aku pun ingin, tapi di dekatmu, rasanya otakku mati. Aku takut salah melakukan ini atau itu. Aku salah tingkah.

Bahkan ketika kau tanyai aku, aku hanya bisa menjawabmu dengan senyuman. Bodohnya aku, kusesali jawaban yang tak sempat keluar itu berhari hari. Harusnya aku katakan saja, ah entahlah. Aku malu.

Aku tak berharap lebih. Sebab sejak kecil aku diajarkan untuk berdiri di depan cermin dan melihat setiap kekuranganku, apakah pantas?

Kau laki laki tampan. Tentu ada banyak wanita di dekatmu, yang juga menyukaimu. Kau pun baik pada semua orang didekatmu. Satu lagi hal yang membuatku semakin mengagumimu. Terkadang, aku takut sekali mengartikan setiap kebaikanmu. Aku tahu, kau pasti punya banyak pilihan yang lebih baik dari pada aku.

Maka aku pun hanya berani memandangmu sebatas punggung. Melihatmu tertawa, tersenyum, dan mengagumimu dalam diam. Begini saja sudah cukup. Kadang perasaan bisa selucu ini. Dengan melihatmu tersenyum saja semua sakitku pergi. Lelahku berkurang, lukaku membaik. Bahkan setelah hari melelahkan yang kita lewati bersama, malamnya aku tak juga terlelap. Masih belum rela mengkahiri hari ini. Ajaib bukan?

Aku berharap, semoga Tuhan akan terus mengijinkanku menikmati senyummu. Memberiku kesempatan untuk melewati hari bersamamu. Sekali lagi. Atau jika boleh setiap hari. Ah, tidak. Siapalah aku yang berani berharap setinggi itu.

Dan jika sampai pada saat dimana perasaan ini memang sudah tidak pada tempatnya, semoga Dia segera membantuku menghapuskannya, dan tak membiarkannya semakin dalam. Karena saat aku telah jatuh hati, rasanya akan menyakitkan ketika pada akhirnya hanya aku yang menyimpan perasaan.