Apa yang lebih menyakitkan dibanding dengan sakitnya ditinggal sang kekasih? Terlebih dia pergi karena ada seseorang lainnya yang sudah siap pasang kuda-kuda untuk menggantimu disana, dihatinya.

Patah hati.

Aku menyebutnya dengan patah hati. Coba ceritakan padaku siapa yang belum pernah merasakan rasanya pedih dari sebuah rasa cinta yang tak terbalas? Atau dari sebuah rasa sayang yang sudah banyak kau beri tapi kau tetap terabaikan? Kalau ada, aku tak tau apakah kau sangat beruntung atau justru aku harus menaruh iba padamu. Mungkin makhluk setampan Adam Levine pun pernah mengalaminya, atau Anne Hathway yang cantiknya udah melebihi batas wajar mungkin pernah menangis karena putus cinta.

Yang aku tahu, hubungan yang benar adalah terdiri dari dua orang, dua hati, dua senyawa, bukan lebih apalagi kurang. Jadi, jika ada tiga-empat-lima-atau-tiga belas orang didalamnya itu berarti kau sedang kerja kelompok, bukan sedang berpacaran.

Sebagai perempuan yang memiliki kekasih (aku menyebutnya dengan kekasih, karena kasus ini tak hanya berlaku bagi pasangan dalam masa pacaran saja, pasangan yang sudah terikat sehidup-semati-pun bisa saja mengalaminya), kemudian kekasihmu tak lagi ‘ada’. Dia ada, secara fisik, tapi ketika pun kau bertemu dengannya, kau tetap merasa dia tak lagi ‘ada’.

Advertisement

Aku tak pernah mengerti bagaimana proses perselingkuhan bisa begitu saja terjadi. Entah karena bosan, atau karena menemukan seseorang lainnya dengan paras yang lebih menawan, atau karena kurang bersyukur, atau menemukan sosok yang dipikirnya lebih ‘baik’? (tapi ku pikir, perempuan baik tak mungkin mau menempatkan dirinya sebagai sosok ‘pengganti’ saat yang digantikan masih ingin tinggal)

Sesekali, aku ingin melihat isi kepala orang-orang yang tega menduakan hati pasangannya. Bagaimana bisa dia berbalas pesan-pesan mesra dengan yang lain saat pasangannya membalas pesannya dengan: “Kamu, aku sayang kamu. Aku bersyukur, Tuhan memberikanku kesempatan memilikimu.” Bagaimana bisa dia asik-asik jalan ke mall, bergandengan tangan, nonton film terbaru di bioskop saat pasangannya menelfon: “Sayang, jangan lupa makan, semangat kerjanya, aku gak akan ngebiarin kamu berjuang sendirian, kita berjuang sama-sama.” Dan bagaimana bisa dia terus berbohong, membohongi pasangannya, menutup kebohongan dengan kebohongan lainnya, dan jika satu saat pasangannya mengetahui sesuatu dan menanyakannya justru dia yang lebih marah, memaki, atau diam kemudian pergi. Meninggalkan pasangannya yang (dianggapnya) tak lebih baik dari perempuan itu.

Kalau sudah begitu, siapapun yang sedang menyayangi dengan sangat dan berada pada posisi yang diselingkuhi dunia akan menjadi gelap gulita, apapun menjadi abu-abu, hilang semangat, bahkan yang tak kuat-kuat iman bisa jadi hilang nyawa.

Aku tak pernah menyalahkan bagaimana setiap orang menghadapi rasa patah hatinya. Setiap orang berhak memilih caranya sendriri dalam mengahadapi patah hati. Kau boleh saja menghapusnya dari semua social mediamu, kau boleh saja mem-block semua akses komunikasinya denganmu, kau boleh mengganti nomer handphonemu, kau boleh makan es krim atau cokelat sepuasmu, apapun itu. Jika kau merasa lebih tenang, lakukanlah. Selagi bukan merugikan orang lain atau merugikan dirimu, aku mebenarkannya.

Aku belajar sabar dan keikhlasan dari Mama. Bukan, bukan karena Mama pernah diselingkuhi, bukan. Bapak tipe laki-laki idamanku, dia setia pada Mama. Hingga Mama tak lagi bisa menemaninya pun, Bapak terus menyayangi Mama.

Aku tak punya kata-kata untuk kamu yang hubungannya sedang tak ber’dua’. Ikhlas dan sabar. Biarkan dia pergi bersama orang yang (dipikirnya) lebih baik. Lepaskan. Kau tau? Patah hati seperti ini menguatkanmu, kecewamu akan lebih banyak memberikan pelajaran untukmu. Tak perlu khawatir, Tuhan selalu memberikan yang pantas bagi hati yang utuh.

Berdoa saja, semoga perempuan lain itu memang lebih baik menjaganya dari pada kamu. Semoga dia bisa memberikannya kebahagiaan yang belum dia dapatkan darimu. Semoga dia tak lagi merasa kurang. Semoga dia benar melengkapinya. Semoga hubungan mereka bertahan lama, walau bahagia mereka diawali dengan menyakiti hati orang lain terlebih dahulu.

Tapi jika tidak, dan dia kembali mencarimu karena ingin bersamamu lagi. Sebagaimana pun rasa sayangmu yang masih tertinggal terhadapnya, ku sarankan, pikir dua kali-tiga kali-empat kali-lima kali-atau tujuh ribu tiga ratus empat puluh sembilan kali. Dia pernah mengabaikanmu saat sekalipun kau tak pernah terpikir untuk pergi meninggalkannya.