Hingga malam begitu larut mataku tak jua terpejam, menginggat perlakuan mu terhadap hati secara kejam. Aku wanita yang mencintai dan mendoakan mu disetiap ukiran doaku, aku wanita yang pernah kau bahagiakan dengan tawa dan janji , Dan aku pula wanita yang kau dustakan dan kau relakan demi dia. Dia yang kau pandang secara sempurna.

Aku masih ingat pertama kali pertemuan kita 2 tahun lalu , pipiku merah aku tertunduk malu saat kutau kau menatapku dalam. Aku ingat pertama kali terucap janji yang kau silangkan dengan tangan mu di dadamu sebagai tanda kau takkan berbohong. Aku ingat masa dimana akulah yang menempati hatimu, aku lah prioritasmu, aku lah satusatunya yang mampu membuat mu uring uringan saat aku tak memberi mu kabar dan aku pula lah yang mampu menyunggingkan sebuah senyum saat kukirim pesan singkat disetiap pagimu.

Tapi seiring waktu berjalan, kutau semua tidak lagi sama. Kau bukanlah lelaki yang kukenal dahulu, lelaki yang penuh canda tawa, kasih sayang, nasihat serta kehangatan juga kesetiaan tinggi yang membuatku terpikat untuk tidak meragu. Kau berubah tuan, ya kau berubah… Aku tidak tau kau siapa sekarang ini. Yang kutau kau hanyalah fisik dari seorang lelaki yang begitu kucintai. Kau mulai abaikan ku, kau mulai mengeluarkan emosimu saat kau marah yang tak jarang menjatuhkan airmata ku. Airmata yang selama ini kau anggap berharga dariku.

Tak jarang ku menunggu pesanmu disetiap malamku, tak jarang kumenangisi ponselku disetiap rindu ku. Hei tuan taukah kau betapa banyak airmata yang telah kujatuhkan untuk keacuhanmu? Hingga kutemukan alasan dibalik semua ini, kau mulai mencari penggantiku meski tak secara langsung kau lakukan. Aku tau kau mulai jenuh dengan ku dengan rupa ku yang tidak seindah bidadari luar. Tidak banyak yang bisa kulakukan selain menangisi hubungan ini. Hubungan yang kubanggakan, yang kubangun dengan penuh tembok cinta kini hancur diterpa kepakan sayap bidadari cantik pilihan mu.

Kita semakin sering bertengkar dan tak jarang kita berdiam dengan ego masing masing. Kau bisa tanpa ku karena kau memiliki dia sementara aku harus menampung buliran airmata ku yang tidak kunjung berhenti. Kuharus menghela nafas,saat kutau kau tidak menginginkan ku lagi. Lamanya hubungan ini membuatku jatuh terlena untuk tetap mencintaimu, namun bagimu hubungan ini menjatuhkanmu dalam kejenuhan. Pertengkaran kita selalu berujung kau mengusirku dari hidupmu, hingga kuharus merendahkan hatiku memohon untuk memperjuangkan segalanya.

Advertisement

Tuan, kali ini perlakuanmu cukup merajam hatiku.

Kepercayaan yang kubangun dengan kehangatan kini pupus luluh lantah dengan kepingan salju. Kau memilih dia untuk mengisi ruang hatimu yang selama ini kuhias, terimakasih tuan atas kesempatan indah yang kau berikan. Kita kau tidak perlu takut ada pertengkaran diantara kita hanya karena dia, aku pergi dengan segala kenangan yang bisa kujadikan pelajaran. Aku pergi tuan, aku pergi untuk dia.

Jaga dia baik baik, Jaga dia penuh kehangatan sebagaimana kau mencintaiku dahulu. Tidak perlu kau mencariku,aku akan pergi jauh jauh sama seperti saat kau mengusirku dari hidupmu. Dan kali ini kau tidak perlu harus berulang kali mengusirku, karena ku akan pergi dengan sendirinya tanpa ada paksaan agar kau memperjuangkanku. Tuan, terimakasih atas cintamu dan terimakasih atas pertengkaran kita. Kau harus bahagia dan pasti bahagia!