Menyayangi adalah salah satu cara masing-masing individu untuk mengekspresikan perasaannya kepada orang lain atau mungkin kepada benda mati sekalipun, dan pondasi dari hal tersebut adalah cinta. Besarnya cinta akan menjadikan/menentukan rasa sayang tersebut semakin kecil, besar bahkan terkadang tak terbendung adanya. Dan lebih dari pada itu, cinta yang dimaksudkan disini adalah “parent love” (cinta akan keluarga), bagi saya merekalah sejatinya guru, inspirator, dan motivator yang tak pernah lelah dan tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanan hidup kita, kita akan disuguhkan 2 cinta yang tak terlepas dalam perjalanan hidup kita, yakni cinta kepada Tuhan dan Cinta kepada Keluarga/Orang tua. Keluarga sendiri merupakan tatanan terkecil untuk bersosialisasi dan belajar, orang tua memegang peranan penting nan luar biasa untuk hal ini. Bahkan ketika kita masih berada di suatu tempat yang tak pernah kita ingat bagaimana rasanya (Alam Rahim), dimana pada tempat itu curahan kasih sayang dan pembuktian besarnya cinta tak kunjung berhenti mengalir kepada kita. Terlebih lagi perjuangan mereka, kita tak pernah menyadari betapa menyusahkannya kita hingga pada akhirnya tiba hari dimana pertama kali kita mendengar suatu adzan dari orang yang masih kita anggap asing, Yah, beliau itulah yang kelak kita panggil Bapak, Papa, Abby (atau apapun itu panggilan mesramu kepadanya).

Orang tua layaknya malaikat yang dikirimkan oleh Allah SWT kepada kita yang bertugas mendidik, menyayangi, dan menuntun kita untuk menapaki jalan kehidupan. Bahkan untuk mereka kesalahan yang kita lakukan dihadapan orang lain adalah sebesar-besarnya kebenaran untuk mereka, dan ketika pembenaran tersebut diungkapkan akan dilanjutkan dengan nasehat untuk menyalahkan kita dalam damai. Sesalah apapun kita, akan berarti benar untuk mereka kiranya untuk menjauhkan tuduhan orang lain kepada kita. Apabila dipikir mereka beanar-benar salah untuk hal tersebut, namun itulah cinta mereka. Sebuah pembuktian bahwa mereka adalah sosok luar biasa yang dititipkan tuhan kepada kita.

Hingga pada akhirnya kita beranjak dewasa dan mulai memahami esensi kehidupan yang kerap kita terjatuh dalam ribuan kesalahan sewaktu kita kecil. Kedewasaan bagiku adalah sebuah proses penyadaran dan sebuah masa untuk mengintropeksi jutaan kesalahan dimasa lalu, kedewasaan mengenalkan kita pada agama yang didalamnya kita akan menemui jalan yang semestinya ditempuh, yang apabila dipikirkan lebih jauh akan merefleksikan ingatan kita pada setiap kata, setiap kalimat yang dulu kedua sosok tersebut dengan sabar mengajarkannya.

Orang tua adalah sosok tangguh dibalik kesuksesan anaknya, yang menjadi motivasi terbesar dan terkadang menjadi senjata kita untuk bertempur melawan setiap cobaan yang datang. Kedua sosok yang akan selalu ada disaat menang dan disaat kalah, disaat senang dan disaat sedih bahkan disaat kita terjatuh dan tak ada seorangpun yang peduli. Maka mereka kedua akan hadir seraya melambaikan tangan mereka untuk kita gapai dan bangkit untuk melanjutkan perjuangan yang kita tempuh.

Advertisement

Mereka adalah sosok yang tangguh, dan dibalik sosok tangguh mereka, mereka selalu senyum disaat kita berhasil atau yang selalu saja pintar menyembunyikan setiap tangisan mereka dalam balutan senyum indah yang tujuannya tidak lain adalah untuk menguatkan setiap langkah kita. Waktu mengajari aku tentang seperti apa mereka, menggali setiap inci dari mereka, dan waktu pula yang mengajarkan aku bahwa mereka adalah hal paling berharga yang diberikan Sang Khalik untukku.

Ummy, Abby, anakmu semakin hari semakin tumbuh besar dan beranjak dewasa, lebih dari saat pertama kalian mencurahkan segala kasih sayang dan ketulusan cinta kepadaku. Dan saat usiaku beranjak dewasa, sayapun tersadar bahwa hal tersebut juga menimpamu, menimpa setiap inci kulitmu, setiap inci dari dirimu yang mulai lemah, dan umur yang selalu kupinta kepada Sang Maha Tunggal untuk menganugerahkan yang terbaik untukmu hingga tiba saat dimana engkau tersenyum bangga melihat kesuksesan terkecilku yang selalu kalian anggap luar biasa.

Ketika aku masih kecil saya tak akan bisa mencoba untuk menyembunyikan tangisanku, seraya lari kehadapanmu untuk bersandar dan meminta pertolonganmu atas setiap hal yang saya hadapi.

Tulisan sederhana ini kubuat untuk kalian, dengan diselimuti tangisan yang tak akan pernah dapat kubendung. Karena saya sadar bahwa hanya kalian sosok yang dapat menolongku, menghentikan setiap tangisan anakmu yang cengeng ini. Air mata ini adalah sedikit bukti bahwa aku merindukan kalian yang jauh disana, ditempat dimana aku ingin berkumpul bersama kalian keluargaku. Memeluk mesra diri kalian berdua yang semakin menua, inginku mengerjakan setiap hal yang hendak kalian kerjakan, menjaga kalian hingga menyeimuti setiap inci tubuh kalian yang kedinginan disaat malam, paling tidak memijat kaki kalian yang menunjukkan betapa berat hal yang kau perbuat setiap waktu.

Aku rindu belaian hangat kalian berdua, merindukan saat dimana tertidur dipangkuan kalian, merindukan saat dimana kalian mengangkatku dengan penuh semangat disaat aku tertidur lelap didepan televisi yang sedang menonton tidur lelapku.

Satu yang kusadari, bahwa hal besar apapun yang kulakukan takkan mampu menandingi ketulusan cinta kasihmu kepadaku, bahkan membalas setiap kasih sayang kalian yang tak kunjung berhenti mengalir membasahi sekujur tubuh anak kalian yang tumbuh dewasa ini. Terkadang saya merasa bersalah ketika perhatian yang sepantas kalian dapatkan, aku bagi kepada mereka yang hanya menyayangiku sesaat dan kemudian pergi.

Ummy, Abby, aku mencintai setiap inci dari diri kalian. Dan aku sungguh merindukan dan menyayangi kalian dalam setiap detik aktifitasku. Aku cinta kalian.

Salam sayang untuk kalian

Anakmu yang nakal