Aku menyukai senja, aku menyukai pantai dan aku pun menyukai seseorang dengan senyuman termanis menurut versiku. Di sini aku akan mengenang beberapa potongan kisah yang sempat membuatku trauma untuk merasakan cinta lagi. Aku akan mengenang bagaimana rasanya berjuang bangkit sendiri karena keterpurukan itu. Aku mengalami itu karena aku dan kamu tidak bisa memilih akan jatuh cinta kepada siapa, saat rasa itu hadir degupan jantung ini seketika lebih cepat. Ah, virus merah jambu ini…

Karena virus ini aku pernah..

Mempertahankan yang seharusnya dilepas

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat aku duduk di bangku SMP aku merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Saat itu aku hanya bisa melihat kamu dari kejauhan, menatapnya dengan pandangan penuh penasaran. Saat matamu menatapku, aku merasakan ada perasaan lucu yang tidak bisa ku jelaskan lewat kata-kata. Mungkin ini rasanya cinta pertama atau cinta monyet yang sering diucapkan oleh anak sebayaku kala itu. Selepas Ujian Nasional SMP, tiba-tiba kamu dengan beraninya mengutarakan perasaan kepadaku. Seketika aku lompat-lompat kegirangan karenamu. Tetapi pada saat itu aku masih belum diperbolehkan untuk pacaran, jadilah kita diam-diam saja.

Ah berdosa sekali aku, sudah membohongi orang tua saat itu.

Kebahagiaanku tidak bertahan lama, kita masuk di sekolah lanjutan masing-masing. Semenjak aku menjadi murid SMA di sana, aku sangat sibuk dengan kegiatan akademikku. Tentunya, karena hal ini kamu terus-terusan marah karena aku jarang mempedulikanmu, aku jarang membalas kabarmu, bahkan aku tak pernah main bersamamu. Kamu selalu menuntutku untuk main di malam hari. Ah, itu sama saja kamu ingin membunuhku. Lama-lama kamu bosan karena sikapku yang seperti ini. Kamu memilih menyudahinya. Tetapi aku tak relaaaa.. Kamulah orang yang pertama kali membuatku jatuh cinta.

Advertisement

Setelah kamu mengakhiri itu, kamu masih sering cerita-cerita bagaimana harimu di sekolah, bagaimana ulanganmu, bagaimana PKL-mu. Tentu saja aku sangat bahagia mendengarnya. Kamu pun cerita ada perempuan yang menyukaimu, dengan sok tegarnya aku pun menyuruhmu untuk dengannya. “Yasudah kalau memang begitu silakan kamu dengannya”. Niatku hanya ingin mengujimu, kenyataannya kamu jadian dengannya. Setelah itu selalu ada perempuan yang marah kepadaku saat aku bertanya kabar kepadamu. Ah rasanya aku ingin bertemu dengan perempuanmu seraya memberitahunya segala janji dan ucapan mu selama ini kepadaku. Tetapi aku tak tega, jadi aku hanya menyaksikanmu pergi dengannya.

Hatiku terasa sangat pedih, mataku tak sudah-sudah mengeluarkan tangis. Hatiku amat teriris karena disebut pengganggu oleh perempuanmu padahal kalian jadian juga karena aku. Aku hanya ingin pelan-pelan melupakanmu. Melupakan itu tidak semudah mengucap lupa. Sungguh aku sudah tak ada niat untuk merebutmu darinya, aku hanya ingin proses mencabut kenangan tidak seperih ini.

Aku sangat bodoh kala itu, saat kamu sudah pergi dengannya, aku masih mematung memandang punggungmu yang semakin hilang. Ku peluk tubuhku sendiri dengan begitu eratnya, aku merasa ada yang benar-benar luka di dalam tubuhku. Ada yang begitu memilukan di pelupuk mataku.

Dengan sekuat hati aku memaksakan untuk melangkah menjauh dari tempat itu.

Dengan sekuat hati menutup kembali hati yang terkoyak ini.

Aku pasrah…

Sudah lama mengenal seseorang tidak menutup kemungkinan orang itu akan pergi juga, seperti kamu. Kamu pergi dengan janji-janjimu. Hingga membuatku sangat terpuruk.

Menemukan laki-laki yang menghancurkan hati lebih parah dari sebelumnya

Setelah kejadian itu aku bersusah payah bersikap baik-baik saja di hadapan semua orang. Termasuk di hadapan kamu. Dengan setegar-tegarnya aku berani melangkahkan kaki menjauh dari kota yang selama ini memberi kenangan bersamamu, dengan niatan lanjut kuliah beserta melepas kenangan pedih selama ini. Setelah sampai kota ini, aku memulai semuanya dari nol kembali, tetapi hati tetap hati, ia tidak mudah untuk diluluhkan kembali. Bahkan, ucapan laki-laki walaupun itu benar aku tak percaya. Aku trauma untuk jatuh kembali.

Hari-hariku sepi dan aku mencoba mencari, mencari seseorang yang tepat. Aku ingin merasakan kupu-kupu di perutku menari seperti dahulu. Aku menatap dengan sendu cermin besar di atas meja rias ini. “Kenapa luka ini masih sangat terasa? Hingga untuk menerima orang baru saja sangat susah. Apa aku sudah mati rasa? Ah tidak mungkin.” Aku selalu bertanya hal bodoh seperti itu. Setelah sekian lama orang baru ini mengutarakan rasanya kepadaku, aku pun memaksa diri untuk (mencoba) menerimanya. Padahal kita memang baru kenal beberapa hari.

Sebelum aku menerimanya, aku mendengar dia sudah mempunyai wanita, karena aku penasaran jadilah kutanyakan langsung kepadanya. Dia menjawab dengan meyakinkanku kalau dia sudah tidak memiliki wanita di luar sana. Aku pun berusaha untuk memulai percaya lagi dengan kata laki-laki. Seminggu setelah kejadian itu, ada perempuan mengirim sms ke ponselku, perempuan itu mengaku sebagai pacarnya. Huaa!! Shock sekali aku membacanya, sekali lagi aku harus berurusan dengan perempuan karena satu laki-laki. Aku bingung saat itu juga. Aku ingin marah tetapi siapa yang harus ku salahkan?

Seketika aku terdiam meratapi kisah ini, meratapi kisah pencarianku yang selalu berakhir kegagalan. Aku menyalahkan diri sendiri karena terlalu ceroboh membuka hati untuk orang yang salah (lagi). Aku beranikan membuat tantangan ke dia sama seperti dahulu, “Kamu pilih dia atau aku?” kemudian dia diam tak ada jawaban apapun. “Oke kalau tak mau jawab, aku saja yang pergi. Tak usah cari aku!” Kisah kita berakhir begitu saja, aku pun selalu menghindar. Nomer telepon dan akun sosial medianya sudah ku hapus. Baru kali ini aku tega menyiksa orang yang masih berupaya menghubungiku. Aku berusaha menulikan diri saat ada teman yang membahas dirinya. Aku berusaha bersikap cuek saat bertemu dengannya.

Aku benar-benar kecewa, aku kira dia orang yang tepat. Aku kira dia mampu menyembuhkan hatiku. Pada kenyataannya dialah yang menghancurkan perasaan ini hingga sangat terasa perih, dia yang membuatku percaya tetapi dia juga yang membuatku semakin tak percaya akan ucapan laki-laki. Aku hanya bisa mengucap terima kasih atas kebohongannya. Terima kasih atas penghancuran hati hingga berkeping-keping ini. Untuk kali ini aku tidak sesusah waktu melepasmu cinta pertamaku. Hanya saja benciku lebih besar ke dia daripada kepadamu cinta pertamaku. Ah, sekali lagi aku gagal untuk menemukan yang tepat. Sekali lagi aku merasa sakit karena jatuh cinta. Sekali lagi aku trauma untuk membuka hati.

Mengenal penulis dengan sajak dan ide-ide kreatifnya

Aku bosan terus-terusan salah dalam pencarian. Aku pun berusaha untuk tidak peduli dengan yang namanya laki-laki. Aku memulai melangkahkan kaki untuk terus mengembangkan minatku di dunia kepenulisan. Karena itu aku dapat bertemu dengan orang-orang baru dan salah satunya kamu. Aku bertemu dengan kamu karena minat yang sama. Senyum manis itu, ah aku masih saja mudah jatuh cinta karena senyuman manis seseorang. Tetapi untuk kali ini aku berusaha menekan semua perasaan ini agar tidak muncul seperti yang sudah-sudah. Aku hanya menikmati suaramu jika kamu sedang mengeluarkan ide-ide cemerlangmu. Aku merasa bodoh kali ini bukan karena salah mempercayai, tapi aku merasa bodoh karena memang pola pikirmu jauh di atas aku.

Aku merasa kuper karena pengalamanmu di dunia tulis menulis ini lebih banyak. Aku juga merasa lemah karena perjuanganmu jauh lebih besar dari perjuanganku. Setiap sajak yang kamu tulis aku selalu berusaha menerka-nerka siapa orang yang kamu maksud, mungkinkah aku? Ah, tidak mungkin. Isi otak dan kepribadianmu yang membuatku merasa minder untuk jatuh cinta kepadamu, agamamu juga jauh lebih tinggi di atas aku. Calon imam idaman sekali. Karena itu aku minder jatuh cinta kepadamu. Baru kali ini aku merasa hal seperti ini, untuk kali ini aku hanya dapat diam memperhatikan gerak-gerikmu dari jauh. Menanti kamu membalas chat ku, menanti kamu menulis beberapa sajak tentang cinta yang dapat membuatku senyum-senyum sendiri. Ya walaupun yang kamu maksud bukan aku..

Karenamu, aku kini menjadi semangat untuk memantaskan diri, kamulah motivasiku untuk semangat belajar agar saat kamu memunculkan ide-ide kreatifmu aku dapat menyeimbanginya. Agar saat kamu membahas masalah up to date aku bisa cepat menanggapinya. Agar saat aku melakukan sesuatu tahu mana batasan di dalam ajaran agama. Aku memantaskan diri Lillahi Ta’ala karena Tuhanku bukan semata-mata karena kamu. Aku sadar, kenapa harus mencari yang tepat? Sedangkan diri sendiri saja belum mau berusaha menjadi tepat untuk orang lain. Kamu itu hanya penyemangatku untuk terus istiqomah di jalan ini. Aku hanya mengikuti arus, jika memang kamu yang tepat menurut-Nya, pasti akan menyatu.

Jatuh bangun dalam hal percintaan membuatku belajar banyak mengenai keikhlasan dan perjuangan. Biasanya aku berjuang agar orang yang ku maksud bersimpati denganku, tetapi saat bertemu denganmu pemikiranku beda. Aku akan berusaha memantaskan diri agar nanti cermin di hadapanku ya kamu.Terima kasih sudah pernah memperkenalkan namamu kepadaku, untuk kali ini aku tikam erat-erat semuanya. Aku bekukan suaraku tentangmu. Aku abaikan rasa penasaranku dan terakhir ku doakan segala impianmu tercapai.

Kamu mengajariku tentang cinta itu bukan hanya mencari tetapi menjadi. Semangat saling memantaskan diri. Jika bukan denganmu setidaknya aku sudah berusaha menjadi yang tepat untuk jodohku kelak. Sekarang aku paham pengharapan yang begitu besar akan membuat luka yang begitu dalam pula. Jadi, sewajarnya saja.