Hai, Aku gak tahu mau nulis apa dan gimana buat kamu. Satu hal, terimakasih untuk kata-katamu yang semakin membuatku rindu. Tuan, semenjak aku membaca catatan itu entah kenapa aku semakin rindu padamu. Bukannya aku paham atas kata-kata mu, aku hanya terbuai oleh kata-katamu yang indah. Aku bergetar, aku terharu. Walau aku tahu itu bukan untukku atau memang untukku.

Itu hanya kamu yang tahu. Tuan, aku terus mengumpulkan kenangan kenangan indah di hari itu. Dari senyummu, dari tatapanmu yang membuat aku sedikit melupakan kekesalanku menunggumu. Tuan, tahukah kau? Kau meninggalkan banyak kenangan untukku. Walaupun aku tahu kau tak akan menyadarinya. Aku tak tahu kapan rasa ini hadir, tak tahu jangan kau tanyakan padaku! Yang cukup kau tau adalah aku mengagumimu.

Kau tak memintaku untuk menunggumu. Tapi kau meminta untuk mempercayaimu. Dan sekarang, aku serahkan kepercayaanku padamu. Jagalah, rawatlah seperti engkau merawat semua pasien-pasienmu. Tuan, pandangan apa yang kau berikan kepadaku. Hingga kau sanggup membuka pintu gerbang yang telah ku tutup rapat, hingga kau bisa meluluh lantahkan hati yang kususun rapi.

Tuan, kataku kau ingin menjagaku, ingin berada di sini bersamaku. Apa kau yakin dengan kata-kata mu? Jika yakin, yakinkan aku dan teruslah berjuang membuka pintumu. Agar aku tenang bersamamu dan akan aku katakan apa yang kau pinta itu! Aku tak pernah merasa mengagumi hingga seperti ini, kau membuatku terbuai olehmu. Terbuai oleh kata-katamu. Oleh semua yang ada di dalam dirimu. Terimakasih telah hadir dalam hidupku, segala do'a terbaik untukmu.