“Semua sudah ada yang atur, Nak, pasti ada hikmah di balik semua yang terjadi” – Anonim

Kalimat itu yang selalu kau tawarkan saat aku bercerita tentang ketidakadilan yang kualami, baik yang serius maupun yang sepele, kalimat yang selalu kuhapal dengan pasti, sembari menirukan gaya bicaramu. Kadang sesekali menggerutu, "mama kenapa jadi orang sabar banget?” dan tidak menghiraukan lagi kalimat demi kalimat yang saat ini tak akan pernah kudengar lagi dan aku pastikan aku sangat merindukannya.

23 Maret 2014 silam, hari Minggu yang tak pernah aku lupakan, yang tak pernah kubayangkan. Hari saat langit tempatku berlindung luluh lantak, hari saat matahari tak beranjak dari fajar, hari yang paling gelap dari semua hari yang kuceritakan padamu. Ya, hari itu kau pergi meninggalkan kami semua, kau menutup mata tanpa memberiku aba-aba, kau membiarkan kami harus menerima kenyataan ini, bahwa kau di usia yang masih muda untuk seorang Ibu, pergi meninggalkan empat orang anakmu, dan tentu saja meninggalkan ayah dari anak-anakmu. Sepengetahuanku, tidak ada penyakit serius yang menggerogoti tubuhmu yang tak lagi indah itu. Tubuh yang telah melahirkan dan membesarkan anak-anakmu, dan kini hanya tergeletak kaku tanpa satu kalipun kau menjawab pertanyaanku meskipun dengan kedipan matamu saja.

Seperti biasa, mahasiswa tingkat akhir yang melewati berbagai macam scene melow drama untuk memperjuangkan gelar sarjana, membuatku enggan untuk pulang ke rumah. Rumah yang tidak memakan waktu yang cukup lama, hanya dua jam perjalanan. Aku akan pulang saat gelar itu bisa membuatmu tersenyum.

Tapi aku pulang lebih cepat, saat kabar yang aku dengar sangat jelas itu bahkan tak kumengerti maksudnya, “Mi, siap-siapin barang buat pulang ya? Mama udah gak ada”, aku pikir itu kalimat yang sangat mudah dimengerti, tapi aku malah balik bertanya, “Mama siapa?”, butuh waktu sekitar lima menit untuk mencerna arti kalimat itu, dan saat sepupuku tak mampu menjawabnya, aku sadar bahwa kau telah kembali ke Sang Pencipta. Aku sadar, aku tidak akan melihat senyummu lagi saat aku pulang.

Advertisement

Sadar dengan apa yang akan kuhadapi nanti, aku bertekad dalam hati akan menjadi pribadi yang kuat, setidaknya untuk mengikuti prosesi pemakaman mama hari ini. Belum genap hitungan menit, pertahanan yang telah diproklamirkan dalam hati itu luluh lantak, air mata tak berhenti mengalir, meskipun sekuat tenaga aku menahannya, persendian seperti melemah, dan seluruh tenaga untuk menopang tubuh ku hilang seketika. Aku masih menangis dan kuingat dengan pasti satu persatu teman-teman yang terusik tidurnya karena suaraku datang, ada yang memelukku sembari mengingatkanku untuk sabar, ada yang hanya berdiri karena tak tau harus melakukan apa.

Sampai saat itu, aku belum tau bagaimana caranya untuk sampai di rumah secepat yang aku bisa. Tidak lama berselang, tetanggaku datang menjemput, mereka hanya diam tak berkata sedikitpun. Dengan mata yang masih bengkak, hanya merangkul dan mengajakku untuk segera berangkat. Masih tidak ada suara percakapan, yang terdengar sepanjang perjalanan hanya suara tangis yang kucoba sembunyikan, sesekali terdengar agak keras, kemudian diam, dan menangis lagi.

Kala itu aku masih belum bisa berpikir, bagaimana dengan dua orang adikku? Apakah mereka sudah tau? Apakah mereka menangis? Tidak, aku hanya memikirkan diriku saja saat itu. Dalam perjalanan pulang, aku masih menyempatkan diri untuk mengabari beberapa teman dekatku. Laju mobil semakin kencang, dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kediamanku tidak lagi lama. Kucoba mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk bertahan, agar tidak tumbang.

Namun semakin mendekat, aku semakin tak kuasa, menggerakkan kaki saja aku tak bisa. Fajar hampir saja berlalu, aku ingat dengan pasti, si bungsu yang sudah duduk di kelas dua sekolah menengah itu, tetap saja menjadi anak laki-laki mama, yang tidur pun kadang masih di pangkuan Mama. Dia datang menghampiriku, membantu tetanggaku untuk membopongku masuk ke rumah, dengan cekatan dia mengambil tanganku. Melihatnya seperti itu, aku seperti tertampar, “Hamdi saja kuat, kenapa malah kamu yang lemah? Bukankah kamu kakaknya?” tapi aku tak punya pilihan, tenagaku habis tersedot entah oleh apa. Akhirnya aku tumbang, beberapa tetangga menggotongku untuk sampai tepat di depan mama terbaring, diselimuti kain panjang khas dengan corak khusus, dan kepala yang ditutupi dengan selendang putih.

Pagi beranjak dengan pasti menuju siang, sudah kupastikan sebentar lagi prosesi jenazah akan segera dimulai. Satu-persatu pelayat keluar masuk rumah. Aku tidak ingat dengan pasti siapa saja yang datang. Aku hanya mengingat dengan jelas, teman-temanku yang datang di sela-sela kesibukannya, melewati pelayat lain yang duduk tak beraturan, memberikan pelukan, yang tak pernah aku lupakan, memberikan pijatan yang mengurangi sedikit beban, tak pernah melepaskan tanganku meskipun ku tau dengan pasti, kejadian ini sangat membuatnya sakit kepala karena lelaki yang ia panggil Papa pun telah lebih dulu dipanggil Sang Pencipta. Dalam hatiku sempat bergumam “Seperti inikah yang dirasakan Iren? Bahkan waktu itu aku tak bisa memeluknya, aku merasa bersalah sekali” Tapi ia tetap dengan cekatan mendampingiku.

Kain putih dan aroma khas kematian itu semakin menyayat hidung, beberapa ibu-ibu mulai memisahkan kapas dan mengukur kain kafan yang akan mengiringi perempuan yang paling berarti dalam hidupku ke peristirahatan terakhirnya. Sesekali kusempatkan melirik Hamdi, Papa, dan Kakak sulungku, semuanya terlihat memaksakan diri untuk kuat, tidak lagi menangis memang, hanya saja kerutan di dahi dan mata yang bengkak. Aku tau itu sedih, aku tau itu guratan kehilangan.

Semua keluarga inti, kecuali Seli, adik yang melanjutkan studinya di Bogor, harus pasrah dan kuat hati untuk tidak bertemu dengan Mama, karna Papa memutuskan untuk mempercepat prosesi pemakaman Mama. Membayangkan reaksinya pun aku tak sanggup, yang hal-hal kecil tidak pentingpun selalu dikabarinya ke Mama, apa-apa saja pasti menghubungi Mama. Dengan logat Minang yang sangat khas, beberapa kali mereka mengingatkan “Hapus lah aia mato tu Nak, jan sampai Kanai Mama, sakik Mama beko”, berulangkali aku menahan air mata agar tidak mengalir saat aku mencium dahinya, saat kulit yang sudah dingin itu bersentuhan dengan bibirku, aku masih berkata dalam hati “Ma, apakah benar harus seperti ini? Ma…” dan aku buru-buru menegakkan kepala karena air mata sudah mengalir lagi.

Memandikan dan mengafani, aku hanya mampu berdiri tanpa terlibat dalam proses itu. Antara sadar dan tidak sadar, bahkan berdiri aku harus mengandalkan teman-teman terbaikku. Aku berdiri tepat di sebelah kiri Mama, tapi pandanganku kabur tak jelas melihat apa yang sedang mereka kerjakan. Beberapa kali aku sempat jatuh, duduk dan berdiri lagi. Aku benar-benar tidak kuat lagi.

Aku ditopang dan memaksakan diri untuk berjalan menuju mushola kecil di depan rumah, sekejap saja, sholat jenazah telah selesai dilaksanakan. Perasaanku berkecemuk, aku masih tidak menerima kenyataan, tapi aku tak bisa protes. Beberapa pemuda dan bapak-bapak mulai mengangkat tandu menuju pemakaman keluarga, si bungsu tetap memilih untuk membantuku berjalan. Terasa asing dan sangat jauh sekali, tapi waktu tak akan berhenti berputar begitu saja.

Perlahan kumulai memberanikan diri mendekat ke liang lahat. Setiap kali aku mendekat, setiap kali itu juga aku terduduk, berdiri lagi, dan terduduk lagi, dan aku dijauhkan dari liang lahat, takut akan mengganggu proses pemakaman. Tanah terlihat sudah rata memenuhi lubang sedalam satu meter itu, aku mulai berontak, aku ingin mendekat, biarkan saja meskipun aku terjatuh atau terduduk. Biarkan saja, toh aku sudah tak bisa lagi melihat tubuh yang telah tertutup tanah itu.

Terdengar seorang ustadz di kampungku mulai membacakan doa dan pelayat pun serentak menengadahkan tangan. Aku tak mampu menengadah, aku hanya terduduk sambil menangis di samping gundukan tanah itu. Aroma bunga dan wangi-wangiannya semakin sulit aku lupakan. Aku tak dibiarkan lama duduk di situ, aku mulai dibopong lagi ke rumah, tak ada percakapan, diam saja, sesekali terdengar suara menarik nafas panjang, tidak ada lagi tangisan mengharu biru waktu itu. Semuanya terhenti.

Malam itu aku lapar karena memang seharian aku tidak makan. Maag-ku mulai kambuh, benar bukan? Hidup harus tetap berjalan meskipun tanpa Mama. Pesan dan nasehat yang paling sering kudengar dan kerap kali kujawab adalah “Sabar ya, ikhlaskan, jangan nangis lagi, jangan sedih lagi”. Malam pertama kepergian mama, ada satu hal yang pasti bisa kusimpulkan,

“Ada atau tidak mama di dunia ini, hidup harus tetap berjalan, tidak peduli apa.”

Tapi ada satu hal yang ingin aku sampaikan, aku tidak bermaksud mencoba melawan takdir, seperti yang orang lain katakan, ketika kita tidak ikhlas berarti kita tidak bisa menerima takdir. Bukan, aku terkejut dengan kejadian tiba-tiba seperti itu, dan itu bukan kejadian kecil untukku. Aku butuh waktu dan kekuatan untuk menjalani kehidupanku yang baru, yang tentu saja akan berubah. Jangan minta aku untuk tidak menangis lagi karena aku hanya rindu mama, aku rindu semua tentangnya. Jangan minta aku untuk tidak memajang foto-fotonya di sosmed, dengan caption yang sudah kupastikan “lebay”, aku hanya rindu, iya aku rindu sesering itu.

“Jangan minta aku untuk tidak menangis lagi, karena aku hanya merindukannya, karena aku merindukan semua tentang Mama”

Aku rindu sosoknya, aku rindu tatapannya, aku rindu tangannya, aku rindu dekapannya, aku rindu masakannya, aku rindu setiap hari handphone-ku berdering itu mama, aku rindu pagi saat bercengkrama sebelum kau berangkat kerja, aku rindu menunggu sore datang saat kau pulang dan membawa makanan untukku, aku rindu menggodamu (karena aku tau aku yang paling kurang ajar), aku rindu malam saat kita menghabiskan waktu di depan tv, aku rindu hari Minggu yang kadang kita habiskan ke pasar hanya untuk mencicipi makanan ringan, aku rindu merengek agar kau mengabulkan keinginanku, aku rindu saat pulang ke rumah melihatmu menungguku, aku rindu bercerita apa saja denganmu, aku rindu semua tentangmu. Kadang mereka tak mengerti aku serindu itu, Ma.

Sudahlah, kau benar tentang “semua ada hikmahnya”, semenjak kau pergi, aku tau bagaimana lelahnya hari yang kau jalani untuk menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami. Karena setelah itu aku mencobanya, menjalankan semua tugasmu setiap hari, kadang aku bingung kenapa kau sekuat itu? Aku mulai peka dengan hal-hal kecil yang terjadi di sekitarku, yang paling kuingat adalah aku jadi gampang sekali terharu untuk bantuan-bantuan kecil yang aku terima. Aku terharu untuk sesuatu yang menurut orang mungkin tidak penting. Aku mulai berdamai dengan kondisi-kondisi dulu yang sering kupertanyakan padamu, tapi aku tak bisa berdamai jika rindu itu datang kapanpun ia mau.

Semoga Engkau tenang di sana, maafkan aku, anakmu yang bahkan belum melakukan apa-apa untuk kebahagiaanmu. Salam sayang anakmu.