"Nduk, ndang tangi sudah siang."

"Nduk, ndang adus sudah sore."

"Nduk, ndang mangkat ngaji (mengaji) wes dienteni konco-koncomu."

Itu sebagian dari kata-kata simbah yang aku ingat, dulu beberapa belas tahun yang lalu ketika aku masih kecil, simbah selalu mengingatkan aku tentang sesuatu meskipun kadang itu sepele. Simbah adalah orang yang tangguh meskipun usia nya sudah sepuh (tua) tapi beliau masih kuat untuk bertani karena aku dan simbah hidup di kota kecil di daerah Jawa Timur yang memang notabene mata pencaharian masyarakatnya adalah bertani.

Dahulu simbah selalu mengingatkan aku untuk selalu jadi anak yang cerdas, tekun, setiap kali akau mau berangkat sekeolah simbah selalu menasihatiku, "Nduk, dadio anak sing pinter, sekolah sing bener, ben uripmu ora koyo mbah karo bapak ibumu " (nduk, jadilah anak yang pandai, sekolah yang benar, biar hidupu gak kaya mbah dan bapak ibumu), simbahku mbah kakung maupun mbah putri adalah orang yang buta huruf, tapi mereka selalu mengajarkan ke cucu-cucu nya agar selalu berusaha agar masa depan nya tidak seperti mereka.

Advertisement

Simbahku yang kakung(laki – laki) adalah orang yang sangat sabar, biasanya ketika pak dhe, budhe, maupun anak – anak simbah yang lain datang menjenguk simbah, simbah dikasih uang dan simbah kakungku ini biasanya menyimpan uangnya di bawah bantal nya, dulu ketika masih kecil aku adalah anak yang jahil, aku pernah mengambil uang simbah untuk beli jajan, walaupun simbah tau hal ini tapi beliau tidak memarahiku, beliau hanya menasihati bahwa perbuatan seperti itu gak baik.

Simbahku yang putri orangnya sangat cerewet dan kecerewetannya itu menurun kepadaku dan kepada ibuku, kadang orang sampai bilang pantes cerewet lha cucu nya mbah ini. Pernah dulu dimarahin habis-habisan sama mbah putri gara-gara aku berenang disungai depan rumah, maklum karena aku adalah orang desa jadi sungai disana pada zaman itu masih dibilang bersih,tapi setelah memarahi biasanya aku langsung dibelikan jajan.

Mbah Kakung maupun Mbah Putri dulu setiap menasihatiku selalu bilang agar cucu nya ini menjadi seorang pegawai, karena dulu mereka berpikiran kalau pegawai adalah pekerjaan yang lebih mewah dibanding mereka, semua nasihat mereka masih aku ingat jelas sampai sekarang, mbah kakung dan mbah putri lihat kini cucumu sudah jadi seorang pegawai meskipun hanya swasta tapi semoga membuat kalian bahagia.

Meski hanya sebentar aku merasakan rasanya mempunyai kakek nenek, tapi setidaknya mereka adalah orang yang juga turut memberikan andil mendidik aku selain bapak dan ibu,hingga aku bisa seperti sekarang,simbah kakung meninggal ketika aku masih kelas 1 SD dan mbah putri meninggal 2 tahun kemudian.

Semua kehangatan dari mereka, semua nasihat-nasihat mereka, sekarang gak bisa lagi aku rasakan, hanya doa yang aku bisa panjatkan untuk mereka semoga mereka tenang di alam sana,jika boleh bilang aku kangen sekali dengan simbah, kangen kehangatan kalian seperti dulu, kangen nangis-nangis setelah itu kalian belikan aku jajanan, andaikan mereka berdua masih ada, meraka pasti bahagia melihat juga cucu mu ini sudah menjadi seorang istri dan menjadi seorang yang sesuai apa kalian inginikan.

Al-fatihah untuk mbah kakung dan mbah putri. Aku kangen si mbah