Di balik takdir buruk itu, kutemukan keindahan karenamu

Sebelum dirimu, ada satu hati yang ku jaga ketat berusaha tak lepas ataupun teroyakkan. Namun Tuhan berkata lain. Tuhan melepasnya dari genggamanku dengan berbagai jalan licin nan berliku, bahkan tak sekali saja ku terjatuh. Hingga wujudmu datang, tanpa harap dan tanpa suruh. Kau memungut kepingan hati yang telah terengkuh patah. Kau hadir tanpa sengaja. Dan kau sempat hadir dengan tidak tepat.

Namun saat itu aku masih mempertahankan genggamanku untuknya, meskipun sesekali goyah. Dan hingga saatnya ku tersadar, kau menghapus air mata yang tiap kali terjatuh karenanya. Kau memberi pundak di antara beban pikiran yang ku topang dengan sangat lelah. Kau memberi punggung yang senantiasa menggendongku ketika ku sudah tak berdaya. Ya, punggung yang bagiku tak terlalu kokoh, namun sekarang adalah punggung yang akan selalu ke tegapkan.

Kau menerimaku dengan segala konsekuensinya

Ini mungkin tak lebih buruk seperti ketika seseorang kehilangan salah satu fisiknya. Namun mungkin itu lebih memalukan. Namun kau datang membungkam segala keraguan yang ada di benakku. Mungkin sakit juga di dirimu rasakan. Namun ketika kau berani mengambil keputusan untuk mencintaiku, di situ diriku juga berani mengambil keputusan untuk menjadi bahumu, ketika susah payah menerpamu.

Advertisement

Jika kau berpikir kau tak sesempurna untukku, aku pun sama berpikir ku tak sesempurna untukmu. Namun untuk apa sebuah kesempurnaan yang kita anggap itu ada namun ternyata malah menyakitkan. Mungkin memang banyak pilihan untuk kita dan kau mungkin salah satunya yang bukan urutan pertama kesempurnaan, namun kau urutan pertama yang layak aku perjuangkan. Bukankah tujuan kita bersama untuk bisa menciptakan kesempurnaan itu?

Melihat kau tersenyum dan menatapku memaku saja mampu membuatkan meleleh seketika

Bukan bermaksud hiperbola, namun sebenarnya senyummu itu dapat mengurungkan niat diriku bertingkah semaunya padamu. Senyummu seakan musim semi yang mampu melelehkan bongkahan es yang tersisa setelah musim dingin. Bibir merah yang terbentuk sangat indah itu membuatku tak bosan untuk mengecupnya. Dan itu membuatku tersadar, itu adalah anugrah Tuhan yang menyejukkan segala gerahku akan sikap dunia.

Kamu dengan kejutan kecilmu sudah lebih dari cukup daripada harus meratukanku.

Aku bangga memilikimu dengan tingkah konyolmu yang tak pernah membuatku behenti tertawa dan yang membuatku tak bosan menghapuskan waktu bersamamu. Bersamamu, aku tak perlu menjadi orang lain. Aku sangat beruntung memiliki dirimu meskipun terkadang mempersulitmu. Kau tak harus menjadi orang lain untukku. Kau cukup menjadi dirimu, yang benar-benar mencintaiku.

Sejujurnya, aku tak pernah sanggup kehilanganmu

Cinta yang datang di diriku karena aku membutuhkanmu. Dan itu yang tak akan bisa membuatku menggantikannya dengan sepotong hati yang baru. Terkadang aku ingin kau pergi meninggalkanku, namun tak bisa di pungkiri, aku selalu membutuhkanmu untuk menuntunku ke jalan yang seharusnya. Cinta yang tanpa syarat itu membuatku tak mencari lebih. Aku ingin bersamamu, dirimu yang murni memerlakukanku sesuai dengan caramu. Karena aku mencintaimu dari caramu mencintaiku.

Aku ingin hanya maut menjadi alasan kita berpisah. Aku tak ingin memulai lembar baru dan mengisinya dengan nama yang baru. Kita hanya butuh selangkah agar bisa memiliki seutuhnya. Ku harap tak ada ara melintang yang mampu membuat kita tak bisa bertahan. Dan diriku tak pernah berencana untuk menua tanpamu. Aku hanya minta Tuhan senantiasa menjagamu-untukku.