“Nak, hidupmu tidak akan berubah ketika kamu hanya melihat bagaimana gemerlapnya kesuksesan orang lain.”

Emas butuh api yang panas untuk membentuknya menjadi perhiasan yang cantik.

Hujan butuh awan yang mendung dan kilat yang tajam untuk membuat pelangi.

Tidakkah manusia perlu perjuangan untuk menjadi yang terbaik?

Seorang sulung perempuan dengan kemampuan biasa namun mempunyai ambisi yang luar biasa. Ambisi yang luar biasa yang akan mungkin jika diwujudkan dengan usaha yang luar biasa pula. Ambisi yang perlahan aku sadari hanya akan menguap keluar menjadi angan yang tertiup angin atau terbakar tak menyisakan abu. Jalanku mulai terseok tanpa arah. Menjalani sesuatu yang selalu diinginkan orangtuaku tanpa pernah meneguhkan apa yang aku mau. Berada dalam tekanan membuatku hidup bagai berjalan menuju surga diatas pecahan kaca. Perih namun tetap berharap akan ada kebahagiaan di ujung jalan.

Advertisement

“Kamu harus kaya.”

Lagi. Kalimat tekanan yang paling menakutkan begitu menggangu. Terlahir dari keluarga sederhana tentu tidak menjadikan aku perempuan yang bisa berlaku sesuka hati. Bukan seorang ratu yang biasa dengan pelayanan terbaik namun harus bersifat bijak dan santun layaknya seorang ratu. Perjalanan hidupku justru bagai ksatria perebut takhta yang terlibat dengan suatu cinta yang tak bisa diwujudkan. Terjatuh, terluka bahkan terintimidasi.

“Tinggikan pendidikanmu. Agar kamu mendapatkan jodoh yang setara.”

Ah.. Pendidikan? Tamat dari bangku tingkat atas pun sudah cukup bukan? Aku tidak terlihat secantik putri untuk bisa diperebutkan pangeran. Karena tidak cantik, aku pernah terintimidasi. Masa pendidikan tingkat pertamaku hampir selalu mendapat nilai sempurna tapi dianggap tidak pantas karena tidak cantik. Ada yang dengan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Orang yang iri itu bahkan harus membayar lebih hanya untuk bersekolah di sekolahnya. Wah.. lingkungan yang kejam itu bisa aku tahan selama 3 tahun.

“Bu.. Aku mau sekolah di sini ya..” rajukku menunjuk sebuah sekolah jauh dari daerah sekolah tingkat pertama sebelumnya.

“Usahakan sendiri.”

Dua kata yang membuatku membeku tidak percaya diri. Tekadku untuk tidak lagi bertemu dengan orang yang selalu mengintimidasiku berhasil. Setelah melalui tes yang cukup sulit pun akhirnya aku diterima. Usahaku keluar dari orang yang mengintimidasiku tidak sia-sia. Sekolah tingkat atas dengan teman yang baik tapi kisah cinta yang buruk.

***

Masa yang manis ketika memulai menyukai lawan jenis. Tapi siapa aku? Perempuan jelek yang bahkan tidak pernah terlihat sediikit pun. Ah, terlalu dini untuk patah hati. Bahkan dimulai pun belum. Masa manis sekaligus patah hati berkali-kali itupun terlewati.

Memasuki dunia kerja dengan cepat, entahlah aku merasa selalu beruntung dan baik ketika berurusan dengan tes tanpa penolakan. Hidupku yang terlihat kuat untuk dijalani menjadi bagian tangis di setiap malamku.

Bukan. Bukan aku ingin menyerah. Melainkan lelah yang tak bisa ku bagi ini yang membuatku ingin menagis. Berpikir betapa berat dan sulitnya harus aku jalani.

Aku bekerja sebagai buruh pabrik. Melelahkan rasanya ketika semua tenagaku terpakai habis sedang sepulangnya aku masih membutuhkan otakku untuk belajar di sekolah tinggi. Iya, aku harus mempunyai pendidikan tinggi kata ibu. Betapapun aku tak ingin setidaknya apa yang aku jalani tidak akan membuat ibu marah.

Kali ini aku dekat dengan seorang pria yang setiap orang bilang dia tidak baik. Tapi aku menyukainya. Namun hati selalu bertolak belakang dengan otak. Ketika otakku bekkerja memikirkan perkataan orang, justru hatiku tenang tanpa haluan. Aku mengikuti hatiku untuk tetap dengan dengannya walau pada akhirnya, aku terluka juga. Harapan yang tidak pasti, keinginan yang tidak terkendali akan selalu membuatku patah hati. Kali ini aku ingin berhenti untuk menyembuhkan hati. Untuk seseorang yang pasti.

Aku pindah dari tempat kerja sebelumnya bukan karena tidak nyaman, emm.. mungkin takdir. Masih dengan pekerjaan yang sama seperti sebelumnya. Tahun ke empat sekolah tinggiku pun berjalan. Aku mulai bimbang dengan pekerjaanku yang belum membaik.

Setiap aku melewati sebuah gedung perkantoran yang berada di dalam area perusahan di mana aku bekerja hatiku selalu berkata “aku ingin menjadi bagian dari mereka,” angan tetaplah angan. Biarkan angan itu menguap seperti biasanya.

Aku sedang menikmati apa yang sudah menjadi milikku. Pekerjaanku dan semua sahabatku. Sampai suatu hari ada yang menyentuh hatiku lagi. Dia baik, pekerja keras, dan sosok yang menyenangkan. Dia benar-benar menjadi sosok yang begitu aku inginkan. Meneguhkan hati untuknya dan berharap dia bukanlah orang dengan sifat sama seperti pria yang aku kenal dulu.

Lagi dan lagi waktu tak pernah mau membuatku bahagia. Dia yang sudah aku mantapkan dalam hati,ternyata sudah siap mempunyai pendamping hidup. Dulu aku yang mengenal orang yang kusuka lebih dulu kemudian seseorang yang memilikinya lantas kali ini aku yang baru datang pun harus kalah. Haruskah aku merebutnya? Haruskah aku melakukan sesuatu untuk memilikinya? Tidak, aku bukan orang sejahat itu. Aku jatuh lagi bu, tapi ibu tidak tahu.

***

INTERNAL SOURCING.

Syarat dan Ketentuan hubungi HRD.

Sebuah papan pengumuman yang membuatku menginginkan kesempatan itu. Aku mencoba prosesnya. Dengan semangat menceritakan semua kepada ibu dan bapak berharap mereka akan bangga, aku pun berharap banyak. Setidaknya jika aku diterima, aku tidak lagi pusing setelah lulus akan kemana pergi karirku selanjutnya. Satu minggu, dua minggu, sebulan, tiga bulan… aku menunggu proses selanjutnya tapi tidak juga mendapatkan panggilan. Orangtuaku sudah berharap banyak bahkan menanyakannya setiap hari. Aku pun bingung bahkan kecewa tanpa sebab. Kemudian aku mencoba untuk melupakannya.

***

Tidak mudah melupakan apa yang kita inginkan. Di sisi lain aku terus berdoa semoga Tuhan tidak memustahilkannya. Tahun berganti hampir setengahnya. Aku mulai lupa dengan hal itu. Tapi benar, ketika aku meyakini sesuatu dan tidak berputus asa. Tuhan pun tidak akan memustahilkan sebuah doa. Setelah sekian lama akhirnya aku mendapatkan panggilan untuk tes. Sengaja kali ini aku tak memberitahu orangtuaku. Khawatir aku gagal lagi. Setelah tes yang sulit, akhirnya aku tahu kesempatanku untuk diterima hanya sebesar 40%. Bagaimana mungkin aku berharap? Bagaimana mungkin aku menceritakannya? Pikiranku kacau menerka setiap kemungkinan. Mungkinkah? Bisakah? Entahlah… aku seseorang yang tak pernah tertolak dalam hal tes apapun kemudian merasa bukalah apa-apa. Merasa ketidakmungkinan itu akan terjadi.

Aku selalu pesimis bahkan takut untuk itu. Takut ketika harus selalu mengecewakan orang tuaku lagi. Seminggu berlalu. Angan itu tidak lagi menguap melainkan mendekapku. Bahagia rasanya. Kuutarakan keberhasilanku pada orangtuaku. Mereka bangga padaku. Mulai saat ini aku tidak lagi ingin berharap kepada yang tidak pasti. Aku hanya perlu berdo’a semoga harapan itu menjadi pasti. “Aku sudah menjadi bagian didalamnya.” Ucapku dalam hati.

“Nak, hidupmu tidak akan berubah ketika kamu hanya melihat bagimana gemerlapnya kesuksesan orang lain. Kamu harus berusaha sendiri karena kesuksesan itu untukmu sendiri. Kamu harus kaya. Bukan untuk dirimu sendiri, tapi untuk saudaramu yang berpangku tangan padamu. Kamu tidak akan miskin karena memberikan hartamu. Kamu tahu itu. Tinggikan pendidikanmu. Agar kamu mendapatkan jodoh yang setara. Bukan untuk pamer, setidaknya jika pria itu berpendidikan baik kamu bisa menjadi wanita yang dihargai. Ibu dan bapak hanya bisa berdoa demi kebahagiaanmu. Karena kebahagianmu adalah kebahagiaan kami.” Ibu melengkapi kalimatnya dengan begitu hangat. Hatiku pun menghangat.

Benar tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Memperbaiki diri menunggu yang pasti. Aku akan tetap berjalan tegak membanggakan orang tuaku. Biar jodoh baik pun mengikutiku. Serta doa yang tak berhenti.

Aku pernah terseok dan tertatih

Rinduku sudah merintih

Tentang seorang kekasih

Yang kurapalkan dengan lirih

Hari ini aku kembali

Dengan cinta yang abadi

Biarkan aku sendiri

Menunggu yang pasti…