Kita bukanlah kumpulan orang diikat di dalam suatu status pacaran. Aku sendiri dan kau sendiri hingga saat ini. Aku tak menyangka pertemuan kita membawa luka yang mendalam bagiku. Walaupun apa yang aku sebut luka itu mungkin hanya menjadi hal yang biasa bagimu.

Ketika kita dipaksa berpisah untut menuntut ilmu kearah yang lebih tinggi. Bagiku hal tersebut malah menjadi tantangan baru bagiku. Aku menyangka bahwa berpisah darimu tak kan menjadi hal yang susah untuk dijalani.

1,2 bulan pun berlalu, aku masih bersikeras kalau itu akan tetap mudah untuk dijalani. Memasuki bulan ke 6 semuanya telah berubah. Aku merasa seperti seseoraang yang kehilangan semangat untuk menjalani hari-hariku. Mungkin bagi beberapa orang hal tersebut terdengar sedikit berlebihan. Tapi percayalah teman, begitu adanya.

Sering datang keinginan untuk mengirimkan kau pesan singkat untuk sekedar menanyakan keadaanmu sekarang. Aku mengerti bahwa kau bukanlah orang yang tidak suka memanjakan diri dengan akun-akun sosial media yang tersedia. Hal tersebut membuatku sedikit sulit untuk mencari informasi tentangmu. Aku salah mengira, bahwa melupakan seseorang yang berarti dalam hidup kita adalah hal yang sulit untuk dijalani.

Sudah selesaikah UAS pertamumu di bangku perkuliahan? UASku sudah selesai. Semoga IP kita mendapatkan hasil yang menyenangkan. Aku tak tahu sampai kapan aku berada di posisi seperti ini, berada di posisi yang dipojokkan. Hatiku pernah merasa hancur ketika aku mendengar dari teman-teman dekatmu kalau kau sudah mempunyai seseorang yang mendiami hatimu. Namun untunglah hal tersebut hanya sebatas gosip belaka.

Advertisement

Aku memang pencundang karena belum menyatakan perasaanku terhadapmu. Tapi itu lebih baik bagiku dari pada mendapatkan balasan yang membuat air mataku berlinangan. Biarlah rasa ini aku pendam hingga aku tahu kapan waktu yang tepat untuk melimpahkan seluruh emosi, cinta dan apapun itu yang berhubungan denganmu.

Kemarin aku lihat kau mengganti Poto Profil BBM-mu, kau terlihat agak kurusan sekarang. Di foto itu kau sepertinya sedang liburan di lua pulau Sumatera. Kuharap kau menikmati liburanmu. Aku hanya tidak berharap kau membawa seseorang spesial selain dari keluargamu.

Sekedar mengingat saja, betapa cepatnya jantungku berdebar ketika pertama kali aku pulang sekolah di boncengmu. Sungguh momen yang tak terlupakan bagiku. Banyak pertanyaan yang aku keluh kesahkan, ingin menanyakan kepadamu, tapi apalah dayaku. Sebagai perwakilan perasaan, izinkanlah aku bertanya “tahukah kau akan hal ini?”.

Melupakan bukan berarti harus membuang seluruh kenangan yang pernah aku rasakan bukan? Aku hanyalah manusia biasa yang tak tahu tentang kapan terjadinya suatu pertemuan dan perpisahan. Sungguh ini suatu hal yang sulit untuk aku jalani. Inilah yang mungkin disebut dengan “bittersweet” .

Walaupun aku sudah tidak lagi terlalu berharap untuk menjadi seseorang spesial di hatimu. Namun jangan pernah kau ragukan, namamu tak akan pernah luput dari doa-doa pengantar sholatku dan tentunya dibarengi dengan doa kepada orang tua dan diriku.

“Ich liebe dich” kalimat yang kau ucapkan pada tanggal 16 January 2015 masih tertulis jelas di dalam buku catatan diaryku. Seperti yang aku sebutkan tadi, “melupan bukan berarti menghapus”. Aku akui, aku telah berusaha setengah mati untuk menyadari bahwa kelak kau takkan menjadi milikku. Kalaupun aku masih bisa untuk mengumbar harap, aku sangat berharap kelak kau menyempatkan datang ke dalam mimpiku. Terimakasih.