Tidak ada yang pernah baik-baik saja dalam hal melupakan. Ada rindu yang harus dibabat habis sampai tak tersisa. Ada sendu yang menghias di balik jendela, menggelayut manja di kelopaknya. Ada isak dalam senyap, tangis dalam hening, termenung dalam gelap, lamun dalam sembunyi.

Pun adanya aku. Aku tidak pernah baik-baik saja, meski mulutku mengutarakan padamu aku tidak apa-apa. Sore itu, kau mendatangiku. Tetap dengan wajah ramah dan senyum khasmu. Kau paham wajahku nampak kuyu, kau bertanya padaku apa yang tengah terjadi padaku. Sayangnya tidak mungkin aku katakan padamu bahwa hatiku tengah terluka sebab kau. Tidak, aku menyukaimu diam-diam maka sakit hatiku juga seharusnya diam-diam. Aku hanya mengatakan bahwa aku kurang tidur beberapa hari terakhir. Setidaknya jawaban itu melindungiku dari penjelasan yang baiknya memang kusimpan.

Kau yang jahat, atau aku yang terlalu berharap? Atau memang begitukah perangaimu? Manis kepada semua orang, baik kepada semua teman. Tidak sadarkah kau bahwa diam-diam ada yang menaruh harap akan sikap manismu itu? Meletakkan hatinya padamu, hanya karena menganggapmu perhatian. Padahal perhatian itu juga kau berikan pada semua rekanmu, bukan?

Demi mendengar kabar itu, tetiba kepalaku terasa begitu ngilu. Mataku nanar menatap deretan kata dalam novel yang aku baca. Konsentrasiku hilang, berganti kesedihan, akibatnya fisikku terbawa dengan sedihku. Aku merasa mual, badanku terasa dingin, keringat menjalar ke setiap bagian badan. Sebenarnya ada yang hendak pecah dari kedua mata, tapi kutahan sekuat tenaga. Aku tidak mungkin menangis saat itu juga, tentu akan menimbulkan curiga.

Maka berteman debur ombak, gugus bintang yang rapi berjajar, hampar langit malam, pasir lembut yang membelai telapak, angin yang menyibak, di sanalah kusampaikan segala kesah. Segala resah yang membuat air mataku akhirnya tumpah. Aku hanya ingin mengadukan semua pada Tuhanku, sebab aku mau hanya Dia melalui semesta yang menjadi saksi hatiku yang terlanjur lebur.

Advertisement

Kutarik napasku dalam-dalam, kuhempaskan perlahan. Lihatlah! Aku begitu lemah rupanya, atau kau yang terlalu hebat hingga mampu mempermainkan air mataku? Bulir ini terus saja membanjir. Untung saja saat itu gulita membayang, jadi aku tidak perlu merangkai alasan untuk menutupi kesedihan yang tengah aku rasakan. Usai reda, cukup kuusap mataku dengan saputan air mengalir. Maka tertutuplah sisa luka yang tentu masih ada.

Aku membulatkan tekad, bahwa aku harus beranjak. Hari itu aku memutuskan untuk melupakan segala senang yang pernah kau tuliskan. Memutuskan meninggalkan segala kenang yang telah kau catatkan. Memutuskan mengubur segala harap yang sempat aku tumbuhkan. Cinta itu harus dimatikan, rasa itu harus disirnakan, rindu itu harus dilenyapkan. Sehingga esok lusa, tidak ada lagi ilusi wajahmu datang dalam lelap malam.

Aku sudah memutuskan melupakan, maka menjauh adalah konsekuensi dari sebuah pilihan. Menyakitkan memang, tapi akan lebih menyakitkan ketika cinta itu masih kupelihara sedang kelak kau bersanding dengan perempuan yang kaupuja. Tidak, kau tidak salah. Hanya saja aku butuh menenangkan gaduh di hatiku sendiri. Aku butuh meyakinkan hatiku bahwa perasaan itu terlarang dan tidak boleh tinggal. Selama mungkin, sejauh mungkin, dan ketika aku telah yakin bahwa rasa itu telah sirna seluruhnya, ketika itulah aku siap kembali bertemu denganmu. Semoga aku tidak jatuh kembali dengan segala sikap baikmu.