Setiap Rabu biru, aku terbenam dalam air asin. Air itu berhamburan memenuhi diriku sehingga dapat kubasuh lukaku yang tak akan pernah bisa dilihat orang. Belasan Bulan sudah lewat. Kupikir, lama-kelamaan akan jadi baal. Aku salah. Ternyata, di dalam sini masih saja terasa perih.

Arus menampar mukaku sana-sini. Aku diam saja. Matahari timbul emas-keunguan. Ia jauh seperti engkau. Bedanya, ia selalu kembali, sementara kau tidak.

Ketika kau masih di sini, kuucapkan aku mencintaimu setiap hari. Kupeluk dan kucium engkau setiap hari. Kuhirup baumu setiap hari. Kudengarkan ceritamu setiap hari. Kusediakan apa-apa yang kau perlukan setiap hari. Mengapa? Supaya tak ada penyesalan ketika nanti kau telah pergi. Aku tak ingin menyesal. Penyesalan bagiku adalah sesuatu yang bisa menjatuhkan jiwa dan kejatuhan jiwa akan melahirkan luka.

Jika demikian, semestinya, ketika kau tiba-tiba hilang, aku tidak jatuh.

Air asin mendorong-dorong tubuhku. Aku terhuyung. Bayangmu seketika buyar. Aku sudah berulang kali ke sini, namun air itu tidak lebih ramah dari yang kemarin. Sama saja seperti Waktu. Persahabatan macam apa yang telah kujalani dengan Waktu semenjak kau pergi? Jika begitu, untuk apa sebenarnya aku ke sini dan meminjam jam-jamnya sejenak? Pertanyaan-pertanyaan ini membuatku pusing.

Advertisement

Kutapaki karang-karang hitam dan undakan pasir. Buih-buih memecah di betisku. Aku terduduk di pasir kelabu. Kutatap arakan awan yang ditembus-tembusi cahaya dari Matahari yang mulai meninggi. Udara pun menghangat.

Aku berbaring melihat Langit. Ternyata ia sedang berupaya menjetikku lebih keras dari biasanya. Kutarik napas dalam seolah aku mampu menghidu segala hawa kehidupan dari atas sana dan menyerapnya ke dalam jiwaku yang tinggal separuh. Ia menyadarkanku pelan-pelan akan apa yang sebenarnya aku butuhkan.

Tuhan, penguasa Langit, Laut, dan Waktu, rengkuhlah aku. Bantu aku jadi lebih kuat. Bantu aku melepas gelenyar perih lukaku ini. Aku ingin bangkit.

Laut, Langit, bagaimanapun, aku ingin berterima kasih karena sudah menemani.

Waktu, kupikir sudah saatnya kita berdamai. Aku akan pergi dari sini. Akan kulangkahkan kakiku ke depan dengan lebih tegap.

Kasih, Cintaku, memori tentangmu tak akan pernah usang. Kau akan selalu ada di dalam sini. Aku sudah mencintaimu setiap hari. Selamat tinggal.