Mungkin inilah hari terburuk dalam hidupku. Oh tidak juga. Sebelumnya ditempat yang sama kamu juga pernah membuat luka. Saat dia hadir dan mengambil hatimu dari genggamanku. Membuat mu melupakan aku yang dulunya selalu mengisi hari-harimu.

Sore ini. Aku terpaku saat menatap wajahmu ada didepan pintu. Wajah yang dulu selalu membuatku tak pernah kehabisan cinta untuk ku berikan tanpa jeda. Percayalah, sampai detik ini sama sekali tak ada yang berubah. Aku masih cukup mencintaimu. Aku masih sanggup memaafkanmu lebih tulus dari yang kamu mau. Dulu aku memang pernah marah tapi tak lantas buatku sanggup begitu saja membuangmu dari pikiranku

Kamu tersenyum. Andai kamu tahu. Ada luapan rindu yang ingin ku tumpahkan dalam pelukmu. Ku pikir kamu datang untuk memperbaiki semuanya. Tapi ternyata kamu hanya membangunkan sipemimpi ini dari tidur panjangnya. Kamu menanyakan kabar dan menjabat erat tangan ini yang dulu ku pikir akan jadi tempatmu memasang cincin.

Ada undangan merah hati terulur dari tanganmu. Aku gemetar menerimanya. Terpampang dengan jelas foto kalian disana. Kamu dan dia yang dulu kamu pastikan hanya akan jadi teman selamanya.

Aku tersenyum getir. Mengucapkan selamat yang harusnya kamu tahu itu basa basi terburuk yang pernah kulakukan dihadapanmu. Kamu pamit. Membawa semua yang selama ini ku bangun sendirian. Angan yang tak kunjung menemukan perhentian. Punggungmu berlalu. Dan kali ini benar-benar tak boleh lagi kuharapkan kembali.

Advertisement

Aku hilang arah. Habis semua rasa bahagia yang dulu ku harap Tuhan masih punya cara untuk mengembalikannya. Aku hanya sibodoh yang tak ingin pergi dari tempat dulu aku bertahta. Seperti menunggu yang tak pernah minta ditunggu. Seperti berharap pada yang tak pernah memberikan harap. Seperti berusaha menggenggam yang mati-matian ingin melepaskan .

Tak ada yang salah. Kamu dan diapun tak salah. Tak ada yang salah kurasa bila ada dua orang yang saling cinta merajut asa bersama. Tapi bisakah kalian tak mengajakku menikmati itu dalam ratap yang tak bisa kukendalikan? Bila mau pergi harusnya pergi saja. Tak perlu datang hanya untuk memamerkan betapa cinta kalian sangat sempurna.

Dan kamu sayang.. Sudah matikah nuranimu untuk mengerti bahwa tak ada seorangpun yang akan baik-baik saja saat harus dipaksa menyerahkan apa yang benar-benar ingin dimilikinya? Bila memang tak bisa lagi kembali untuk menetap disini, tak bisa kamu mengurungkan niat menyapaku kembali hanya untuk menyiram asam pada luka yang masih basah dan menganga ini?

Maaf kalau aku tak bisa datang. Tak mungkin aku akan baik-baik saja saat harus melihat kalian saling berjanji sehidup semati. Karena dulu itu juga yang pernah kamu rencanakan saat semua cerita masih hanya tentang kita berdua. Kurasa sudah cukup kusimpan kenangan yang tak pernah lagi kamu pertimbangkan. Berbahagialah dengan apa yang sudah kamu rencanakan.

Entah bagaimana aku nantinya. Bukankah mata Tuhan tak pernah tertutup walau sekejap saja? Dia pasti tahu seperti apa bahagiaku nantinya. Aku tak akan lagi menunggumu disini. Hati yang pernah mencintaimu dengan tulus ini juga pasti akan bahagia. Meski tak tahu akan dipertemukan dengan siapa. Asalkan aku mau sedikit iklas dan berusaha, Pasti Tuhan juga hadiahkan cinta yang tak kalah dengan kalian berdua.

Dan kini, padamu yang dulu pernah memintaku menemani sampai akhir masa. Kuharap kamu tak akan pernah menyesal karena telah menyakiti situlus yang tak pernah kehabisan cinta. Dan berbaharap selalu bisa membuatmu bahagia. Percayalah sajalah.. Aku juga pasti akan bahagia..