Sebenarnya kita sedang menjalani hubungan macam apa?

Pertanyaan itu lebih sering muncul di pikiranku belakangan ini. Kamu menjadi lebih sulit dihubungi, rutinitas lama kita banyak yang terhenti, jangankan bertemu, sekedar ingin mendengar suaramu sebelum tidur pun kini menjadi sulit sekali. Ada apa ini?

Kita memang terpisah jarak yang beratus kilometer jauhnya, tapi sejak awal kita percaya semua akan baik-baik saja meski dijalani dengan berbeda kota. Toh ini hanya sementara, tidak akan lama, aku akan segera mengusahakan kepindahanku kesana. Tunggu sebentar, sampai waktunya kita menyatukan dua keluarga, maka jarak bukan lagi menjadi masalah bagi kita

Tunggu, tak lama lagi setiap hari kita akan pulang ke alamat yang sama.

Tapi apa yang kita hadapi sekarang ini? Apakah semua yang kita citakan dulu harus diakhiri sampai di sini? Semua angan-angan yang ingin kita gapai bersama dulu cukupkah hanya menjadi mimpi? Atau lebih tepatnya mungkin kita sudahi saja, lupakan, anggap masa-masa yang kita lalui dulu tidak pernah terjadi.

Advertisement

Kamu benar-benar menjadi orang yang berbeda, tidak bisa ditebak apa maunya, terasa sekali kamu tidak meremang dengan kata kita. Aku selalu bertanya-tanya, salahku apa? Dan kamu selalu memberi jawaban yang sama, kamu hanya sedang banyak pekerjaan saja.

Aku mencoba memahami kesibukan dan semua tuntuntan dari perusahaan yang harus kamu selesaikan setiap harinya. Tapi tidak adakah lima menit saja bagiku dalam putaran dua puluh empat jam waktu yang kamu punya?

Sampai satu hari aku berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang aku yakini hanyalah kekhawatiran yang tidak perlu. Bagaimanapun juga aku pernah sangat percaya bahwa hanya ada aku di hatimu. Tidak akan ada orang yang bisa memenangkan perhatianmu yang selama ini selalu menjadi milikku.

Tapi kenyataan yang jelas kentara tidak lagi bisa membuatku menutup mata dan tetap berpikir baik tentangmu. Kali ini aku harus mengatakan bahwa aku sudah tahu.

Kita bukan lagi dua bocah yang sedang menjalin cinta, yang saat ini bertingkah seolah dunia milik berdua tapi bisa tidak bertegur sapa keesokan harinya. Atau dua remaja yang merasa sudah menemukan semestanya tapi tiba-tiba berpisah di hari berikutnya setelah melihat ada yang lebih menawan di luar sana.

Tolong, kita sudah dewasa, jadi mari kita bicara.

Kamu tidak perlu lagi menutup-nutupinya. Bukankah kini sudah jelas hubungan kita tidak lagi hanya kita jalani berdua, tapi sudah ada dia yang lainnya? Dia yang lebih dekat denganmu di sana, dia yang bisa kamu temui setiap harinya, dia yang bisa kamu peluk dan kamu belai rambutnya kapan saja.

Jangan bertanya dari mana aku tahu semua itu. Aku adalah orang yang sudah sekian tahun mengenalmu, aku bisa merasakan semua perubahan yang terjadi pada dirimu, sekecil apapun itu. Sederhana, karena aku mencintaimu!

Kita sudah susah payah membangun komunikasi, melakukan yang terbaik di hadapan keluarga agar hubungan ini direstui. Tapi kini kamu dengan tega mendua hati.

Yang kamu lakukan kali ini benar-benar membuatku tidak habis bertanya, bagaimana bisa kamu mendua untuk orang yang langsung bergegas ke bandara dan terbang ke kotamu begitu mendengar kamu sakit di sana. Bagaimana bisa kamu berbalas pesan mesra dengan wanita lainnya saat ada seseorang yang tidak bisa tidur karena pesannya belum kamu baca?

Bagaimana bisa kamu bergandengan mesra, menghabiskan hari bersama dia, sementara aku di sini sedang berjuang menyiapkan masa depan kita berdua? Bagaimana bisa kamu memeluk dirinya saat aku di sini tidak habis-habisnya menyebutmu dalam doa? Dan ada banyak bagaimana-bagaimana lain yang selalu memenuhi isi kepala. Aku ini kurangnya apa?

Mungkin kini kamu sudah memantapkan hati untuk memilih dia yang lebih menawan. Mungkin saat ini pada dirinya lah kamu temukan rasa nyaman. Selama ini kita memang sudah akrab dengan yang namanya pertengkaran, tapi kita selalu punya jalan keluar untuk mengatasi perselisihan. Bahkan perdebatan yang tidak ada habisnya pun tidak pernah membuatku merasa kita akan saling meninggalkan.

Tapi kali ini berbeda, sepertinya kita tidak lagi ada di satu jalan. Tidak perlu lagi kamu menghindar atau mendiamkan, aku cukup peka untuk menangkap frekuensi yang kamu kirimkan. Kamu memang ingin pergi bukan?

Jika kamu bingung menemukan alasannya, mari kubantu mencarinya. Katakan saja, hubungan kita sudah tidak bisa dilanjutkan. Katakan saja aku tidak cukup menyenangkan untuk dijadikan pasangan, katakan saja aku tidak bisa lagi membuatmu merasa nyaman. Atau lebih singkatnya katakan saja kamu sudah bosan, tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi keinginan untuk bersama melewati hari depan.

Perempuan mana yang rela membagi cintanya? Aku rasa tidak ada! Kalaupun ada sebagian di luar sana yang punya hati cukup besar untuk menerimanya, aku bukanlah salah satu dari mereka. Daripada aku menderita berlama-lama, bukankah kini lebih baik kulepaskan saja? Jangan bertanya bagaimana rasanya, memangnya ada yang lebih buruk dari perasaan tidak diinginkan, diganti, dan tidak lagi dicinta? Sudah, biar kuhadapi sendiri nyerinya.

Biar doaku saja yang jadi mantra, sebagai obat penyembuh luka. Semoga kebahagiaan kamu temukan bersama dirinya, semoga dia lah yang terhebat pendampingannya, semoga kali ini pencarianmu benar-benar bermuara, semoga kamu merasa cukup setelah bersamanya, semoga cintanya padamu bertahan lama. Soal aku, bukankah Tuhan tidak pernah menutup mata? Akan ada pasangan yang sepadan juga untuk dia yang menjaga baik-baik hati dan setianya.

Pada saatnya nanti aku pun akan merasakan bahagia yang sama, tanpa harus membuat orang lain terluka.