Dahulu, ketika semua itu belum terjadi, kupikir hidupku wajar saja. Layaknya orang-orang di luar sana. Memiliki teman untuk saling berbagi. Bepergian bersamanya tanpa tujuan. Mengerjakan semua hal yang kami suka. Serta saling menertawai dan berduka sama-sama.

Saat itu, organ-organku terasa sungguh baik-baik saja, terutama jantung. Aku sungguh normal. Namun, aku merasa tak pernah menyulam lengkung bibirku dengan sebegitu anehnya. Tiada pelukis semyum sepertimu. Tiada apapun yang dapat mengembang kempiskan jantungku. Semua selalu terasa sama. Sekalipun saat bersama teman. Walaupun memang beruntung kudapati teman seperti mereka, sungguh perasaanku saat itu, tak terdeteksi. Entah apa yang selalu kurasakan saat itu. Bahkan, ketika tertawa sekalipun, tak kudapati emosi yang benar-benar tepat. Hanya sebatas lelucon yang melintas cepat dalam otak. Hingga cukup sulit untuk mengingat serpihan kenangan yang kami ciptakan sehari penuh saat itu.

Namun, setelah sebuah jumpa membiarkan kita untuk saling menyapa, kurasa hidupku tak lagi biasa. Kuanggap kaulah penyebabnya. Sejak saat itu, entah mengapa aku menjadi enggan menyiakan waktu untuk dapat bertemu. Aku hanya cukup mengerjakan apa yang seharusnya kukerjakan, dapatlah diriku bertemu denganmu. Pada saat-saat seperti itu, debaran ini selalu saja di luar kendaliku ketika kau melukis senyum dengan paras anggunmu. Aku pun makin mudah mengingat kejadian, terutama saat bertemu denganmu, dan dapatlah mengenang.

Semakin banyak tawa renyahku yang berhambur. Semua yang kukerjakan dapat berakhir dengan lebih baik lagi. Sepertinya aku telah diubah oleh kekagumanku. Dan kini, selalu ada keinginan untuk menandingi skill-mu. Namun, tak kusangka, kau sungguh jauh berada di atasku. Tak apa. Aku pun bersyukur karena selalu saja ada kondisi yang semakin baik dibalik kekalahanku. Saat itu, makin banyak bulir-bulir semangat yang bergejolak. Sementara, sukmaku selalu saja penuh akan bebunga indah nan harum. Kini, seolah hariku adalah sebidang kanvas yang baru saja dipulas dengan cat yang beragam warna. Lantas, terbentuklah sebuah wujud yang tak pasti, namun terasa ketulusannya.

Setiap hari, perubahan ini makin menjadi. Orang sekitarku makin memahami. Tanpa sadar, aku pun semakin larut dalam semangat yang kian menggila. Mulai dari sinilah, kupikir aku sungguh-sungguh mengagumimu. Namun, aku enggan untuk mengatakannya. Aku tak memiliki keberanian yang cukup untuk itu. Kalaupun kulakukan, mungkin saja kau akan menjauhiku, dan tidak akan pernah ada lagi lukisan bibir mungilmu yang mengembang. Bahkan, untuk muncul dihadapanku pun kau enggan. Mungkin saat belum kuungkapkan saja, aku sudah ditolak. Jadi, mungkin lebih baik hanya sebatas ini, mengagumi dalam diam, dan menggambarkan sebuah temu berdinding jarak. Aku amat menyadari, betapa tidak serasinya kita saat bersejajar di jalan suatu saat nanti.

Advertisement

Ketika masih berada di sekitarmu, selalu kusempatkan untuk bertemu, walau hanya dalam bungkaman atau sebatas berpapasan. Dan saat waktu tak lagi inginkan kita berjumpa, aku tetap bertahan untuk dapat selalu berjumpa. Namun, tak satu hal pun menyetujui. Bahkan, semesta pun menolak pertemuan kita. Lantas, kurela tak berjumpa denganmu, walau hanya menyapamu dalam lubuk hati, untuk beberapa bulan lamanya.

Kini, jarak membentang luas. Menolak jumpa, membawa hampa. Namun, tak setetes pun dari peluhku yang tak mengandung rindu. Tak apa tak bertemu, masih ada lain waktu. Tak apa tak berjumpa, asalkan tiada satupun yang singgah.

Namun, setelah sekian lama membisu dalam hampa, kemudian ada jumpa tanpa sapa, ternyata dirimu telah dimiliki. Cukup sakit, namun aku tak acuh dengan itu. Aku pun tak pernah menyalahkanmu, atau mengatakan bahwa kaulah penghancur hidupku. Semua ini terjadi karena kesegananku mengatakannya terlebih dahulu. Kini, kupasrahkan semua. Segala perjuangan yang lampau kujuangi, kurasa kini tak lagi berarti apapun. Telah ditemukan teman hidup, yang sungguh baik untukmu. Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari semangat gilaku, penyemangatku. Tak apa walau kau takkan pernah tahu. Sungguh.

Sedikit sesal bersatu padu dengan ketidakrelaan. Namun, selalu kuusahakan untuk membuangnya jauh-jauh. Ini semua pun karena kepengecutanku untuk mengutarakan perasaanku dulu. “Tak apa, hidupku takkan berhenti sampai di sini. Aku yakin rencana Allah lebih indah dari apa yang kubayangkan.” Batinku.

Kini, aku tak peduli dengan semua yang pernah menimpaku di masa lampau, dengan mereka yang pernah menjadi semangatku, tentang cinta yang tak terbalaskan, ataupun perjuangan yang pernah kujuangi dahulu. Saat ini yang nomor satu bagiku ialah hal yang takkan pernah hilang dari dalam diriku, menjalankan semua yang harus kukerjakan. Terlalu serius mungkin, hingga aku pun lupa tentang apa yang seharusnya aku lakukan juga.

Lantas, tak lama kemudian, jatuhlah meteor terindahku. Meteor dengan nyala api birunya itu, mendarat tepat di planet yang berbunga layu. Planet yang akhir-akhir ini mati, menjadi hidup kembali tertimpa asteroid yang jatuh itu. Membuat ribuan keindahan itu muncul kembali. Menghiasi planet yang telah lama tertimbun debu. Menghapus segala sendu yang lalu, menjadi penabur kebahagiaan seumur hidupku. Tak kusangka, inilah jawaban terbaik-Nya untuk diriku. Ditambah lagi, hubunganku denganmu yang dipererat.

Dan untuk cinta pertamaku, kumohon tetaplah kita seperti ini. Berteman tanpa ada batas usia, bertukar kisah, berkelana dalam usia. Meskipun tak selalu bersama di tiap suka duka, kita akan selalu berbagi. Once again, thanks for everything. Entah mengapa kita menjadi seakrab ini. Walau hanya senyuman yang nampak bersahabat saat jumpaan kita dahulu. Terheran, namun tak bisa kuduga. Thanks Allah …

Tetaplah berjuang dalam segala hal. Allah tak terlelap sedetikpun. Lantas, Dia akan menggantikan segala hasil jerih payahmu dengan yang lebih indah, tepat pada waktunya.

Terinspirasi dari kisah muda Bapak Sugeng Widodo, S.Pd, guru Prakarya dan TIK di MTs Negeri Kebumen 1.