Setiap hari sejak itu terjadi, hari demi hari serasa menggali di setiap rasa rindu yang tak pernah dalam. Dia seorang wanita yang lama dari hirup hidupku tak pernah ku temui. Dia anggun, dia berbeda, dia tak seperti warna pelangi yang indah, dia tak tampak seperti matahari pagi, tak tampak seperti hujatan bintang saat purnama datang.

Ya, dia berbeda. Dia lebih dari itu, dia segalanya…

Aku tak mengerti mengapa aku seperti ini. Mungkin aku tak pernah sering bersama wanita, mungkin aku tak pernah memiliki rasa indah, atau mungkin aku memang terlalu berperasaan? Tapi tak apalah, itu adalah sebuah ungkapan. Ungkapan tak seharusnya memiliki batas, "ungkapan adalah luapan segala rasa yang ia rasakan tanpa batas untuk ditunjukkan."

Mungkin satu dari keinginanku adalah memilikinya. Entah sampai kapan, yang jelas aku tak ingin menjauh dan pergi darinya.

Setiap pagi setelah bangun dari kegiatan harianku, aku selalu memberikan salam kepadanya. Memberikan senyuman kepadanya, ya meski sesekali aku juga pernah tertidur dan lupa untuk menyapanya. Dia juga selalu memberikan salam balik untukku, dan setiap pagi senyumku dia buat dengan caranya sendiri. Aku menyayanginya, sangat menyayanginya. Walau terkadang saat malam sebelum tidur dia pernah banyak membuatku bingung; untuk apa aku mengeluh dengan perasaanku?

Advertisement

Aku mengenalnya dulu sejak aku masih sering melihatnya, melihatnya berjalan mondar-mandir di area sekolah, mengenal tak berarti kenal, hehe. Aku sekedar tahu tanpa mengenal namanya, kelasnya pun aku tak pernah mengerti. Maklum aku dulu juga tak pernah sering berinteraksi dengan kaum hawa.

Itu sesaat sebelum aku berpakaian wisuda pertama dalam hidupku. Ku ulangi bahwa dulu aku hanya tahu dia, tak kenal dan tak mengerti asal usulnya.

Lewat beberapa jarak bulan ke bulan setelah kelulusanku, aku tak sadar akan diriku yang menjadi seorang penganggur; pun belum ada keinginan meneruskan belajar. Kegiatanku saat itu hanya mondar-mandir di sekitar lingkungan rumah, keluar malam, dan berkumpul dengan teman seperjuangan. Bermain internet adalah hobi saya. Walaupun aku tak pernah ahli di bidangnya, aku tetap berusaha belajar.

Ketika itu, ketika aku memulai bermain jejaring sosial, aku tak sengaja melihatnya kembali. Dia yang dulu seperti wanita polos biasa, ya kini tetap biasa. Haha. Tetapi aku tak mengerti, saat itu juga timbul rasa dalam diriku. Aku pun menyapanya melalui message di jejaring sosial tersebut. Ah, di situlah rupanya awal mulai aku menyapa dan mengenalnya lebih dari yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Ketika itu aku memang mengharap dia membalasnya…

Seringnya aku berhubungan dengannya melalui jejaring sosial akhirnya mendorong ku untuk meminta nomor teleponnya. Toh daripada di jejaring sosial itu ribet, bukan?

Kau tahu, “mencintai seseorang yang sudah memiliki teman hidup adalah rasa hina setiap orang.”

"Aku tak tahu mengapa rasa ini datang, aku yakin Dia yang Maha Memberikan Anugerah paham yang dialami makhluknya."

Singkat cerita, aku akhirnya memutuskan untuk bersamanya, berhubungan dengannya. Berat sebenarnya karena aku takut sesuatu nanti terjadi. Entah itu apa, yang jelas saat itu aku merasa ada pikiran yang sedikit terbius di pikiran.

Tapi aku tahu perasaanku tak mungkin ku buang, karena ini sesuatu yang jarang dari sebagian orang bisa mengerti dan mendeskripsikan hal ini. Segalanya ku jalani dengan alurku, alur terbaikku. Aku yakin dan selalu berdoa agar ini menjadi kebahagiaan dan kebaikan.

Segala ungkapan dan perasaan yang terbaik telah ku berikan. Sekira aku juga tak mengerti semua berarti atau tidak, selama itu hingga kini, entah jejak rotan itu masih menjalar atau tidak, aku tak mengerti. Aku hanya mengerti bahwa ada rasa di hatiku untuknya.