Dian, sapaanku untuk wanita yang menjadi bagian dari jiwa ini. Tatapan pertamamu yang membuat aku jatuh hati kepadamu. Entalah, aku lupa apa yang pertamakali terlintas dalam benakku ketika pertamakali menatap matamu yang indah itu. Hanya saja tatapan itu masih sangat terlukis jelas di hati ini. Bibir alami yang tak tersentuh apapun itu juga masih terlukis jelas di mata ini dan tersimpan di hati. Aku ingin mengatakan sesuatu, bahwa aku jatuh hati sama kamu.

Dimulai dari tatapan tak sengaja, di depan gedung sebuah kampus. Aku mulai merasakan ada perbedaan di dalam dirimu. Sejak hari itu hampir setiap aku melihatmu dari jauh, aku merasa nyaman dan merasa bersyukur telah melihat wanita bak bidadari yang menghiasi pelangi di bumi ini. aku terpukau dengan indah mata itu, aku meleleh lantaran bibir manismu itu, aku jatuh hati untuk yang kesekian kalinya padamu. Hampir setiap saat bertatapan denganmu, aku merasa bahwa aku semakin merasakan nyaman. Kau telah membuat aku jatuh hati dan membuat aku nyaman dengan perasaan ini.

Dian, hari demi hari telah ku lalui bersama perasaan ini, namun aku tetap saja tak mampu untuk menatapmu dari jarak yang sangat dekat. Aku hanya bisa menatap wajah seorang bidadari dari kejuhan. Semua yang ku lakukan bukan tanpa alasan, semua aku lakukan karena aku merasa bahwa lebih baik aku menyimpan perasaan ini daripada aku harus kecewa. Aku merasa kau tak pantas untuk menjadi kekasih seorang lelaki sepertiku. Kau terlalu cantik untuk mendampingiku, kau terlalu sempurna untuk menjalani kisah hidup bersamaku. Kau seperti sesosok queen yang hanya pantas untuk mendampingi sang pangeran.

Mungkin saja aku memang lelaki pengecut yang menyerah sebelum melangkah. Yah, itu mungkin memang benar. Tetapi sekali lagi bahwa aku melakukan itu bukan tanpa alasan, aku tak mengungkapkan rasa ini karena aku takut untuk sakit hati. Jika boleh aku berkata bahwa, jatuh cinta itu sama dengan sakit hati. Sebab sebelum kata cinta ada kata jatuh yang selamanya akan membuat sakit dalam hidup kita. Aku takut merasakan sakit. Dan kamu boleh mengatakan aku, bahwa aku adalah lelaki cemen, penakut, pengecut dan lain sebagainya, Karena kau terlalu sempurna untukku. Dan aku terlalu buruk untukmu.

Aku berharap bahwa aku tak lagi memilki rasa nyaman ketika sedang melihatmu. Aku harap aku bisa biasa ketika bertatapan dengan wajah itu, wajah yang menyerupai bidadari itu. Dian thanks untuk semua rasa nyaman yang uda kau berikan sampai saat ini. Semoga aku bisa berpaling dari rasa yang selama ini membuat aku selalu teringat akan dirimu.