Kata orang-orang sih aku ini manis. Tapi entah kenapa, meskipun katanya aku manis, aku cantik, tetap saja banyak pria yang cuma 'numpang lewat' di hidup aku. Tetap saja aku merasakan sakit hati, patah hati. Mencoba jatuh cinta, gagal lagi. Jatuh cinta, gagal lagi. Huhft.

Meskipun aku adalah seorang wanita dengan bergelarkan sarjana muda, naluri aku sebagai wanita di usiaku yang 24 tahun sekarang ini tidak pernah luput dari pemikiran untuk "ingin menikah". Ini bukan masalah karena teman-teman aku yang lain juga sudah menikah, bukan soal aku yang hanya ikut-ikutan, bukan soal karena aku yang kesepian. Tidak.. Aku benar-benar ingin menikah karena ketika naluri aku sebagai wanita itu keluar, ingin segera mengabdi pada suami, belajar menjadi istri shalehah, ga sabar untuk segera dipanggil "mama" oleh anak kecil yang akan aku gendong itu.

Aku ingin jadi wanita seutuhnya

Tapi mau gimana? Setiap aku mencoba kemudian gagal lagi, akupun jenuh untuk mencari, lelah seperti ingin menyerah dan pasrah. Sampai pada di atas ambang kelelahan aku, seorang pria datang di hidupku, aku mengenalinya telah lama sewaktu aku PKL dulu ketika masih SMK.

Bisa dibilang dia adalah kakak kelas, 2 tahun lebih tua dari aku. Saat itu dia mengajakku liburan ke salah satu tempat wisata di Jakarta. Dalam pertemuan pertama itu, sedikitpun aku tidak pernah membayangkan bahwa dia akan menjadi orang yang ternyata menjadi sangat penting dalam hidupku. Terlebih lagi, dia adalah perokok. Jujur saja, aku paling benci sama perokok. Semua pria yang dekat denganku adalah yang tidak merokok. Baru dia saja pria perokok aktif yang dekat denganku. Meskipun begitu entah kenapa, aku tetap mencintainya.

Advertisement

Aku tidak pernah merasa disayangi yang sebegitu besarnya oleh pria manapun, kecuali dia. Bersamanya aku merasa seperti ada bagian dari hidupku yang setengahnya tidak usah dicari, seperti sudah lengkap dan sempurna hidup aku. Mengenalnya aku menjadi memiliki tujuan hidup. Dia selalu membuat aku tertawa, ga peduli apapun kondisi atau masalah yang sebenarnya dia hadapi saat itu, baginya yang penting aku bahagia.

Aku merasa jadi wanita paling beruntung saat dekat dengan dia. Dia penyabar dan yang paling tau isi hati aku. Meskipun terkadang kami bertengkar, tapi selalu saja ada yang bisa menenangkan. Entah aku ataupun dia.

Ada juga hal yang sangat buruk dari masa lalunya yang mungkin semua wanita tidak akan bisa terima mentah-mentah gitu aja. Tetapi entah kenapa ada saja hal yang membuat aku yakin, aku percaya. Apalagi kalau dia sudah menatapku lama, aku tau dia tulus. Dia yang paling tulus menyayangiku sedalam itu.

Jadi, masa lalunya? Ya cukup menjadi masa lalu dia. Tugasku hanya menemani masa depannya, meraih mimpi-mimpinya yang sempat tertunda dan akan tetap selalu ada di sampingnya dalam keadaan apapun sampai kapanpun. Ga peduli apa kata orang.

Sampai pada akhirnya, dia menyampaikan niat baiknya kepadaku dalam beberapa bulan kami bertemu. Mungkin terlihat terlalu cepat, tetapi kalau ini niat baik dan sudah sama-sama merasa nyaman, kenapa mesti nunggu lagi? Bukankah menyegerakan yang baik itu bagus, bukan?

Ada sisi lain yang gelap dari kehidupannya, ada hal yang paling aku benci yaitu merokok dan masih ada banyak hal-hal yang terkadang aku berfikir "ga nyangka aku bisa setangguh ini, sehebat ini, nerima dia yang mungkin wanita lain akan menjerit tiap hari", tapi menurutku itu hanyalah pergantian sisi, seperti sisi siang dan sisi malam. Dia selalu bisa mengimbangiku, menyiramiku kasih sayang setiap hari sampai cinta itu tumbuh. Ketulusan sayangnya yang membuat aku ngeraasa sisi gelapnya itu ga ada apa-apanya.

Patah hati berkali-kali membuat aku mengerti. Mengerti menjadi wanita dewasa yang elegan dalam mencintai, mengerti tentang bagaimana jatuh cinta yang semestinya. Mengerti bahwa pada akhirnya pasti akan ada pria yang sedalam itu tulus menyayangi. Rasa sayang yang begitu besar darinya, kebahagiaan dan tawa yang selalu dia tebarkan kepadaku setiap harinya membuat aku selalu bilang padanya, "Aku mencintaimu tanpa syarat".