Aku tak ingin mendoakanmu mendapat karma. Aku cukup menyadari, Tuhan akan melakukan sesuatu yang Adil. Sama sepertimu, aku juga hanyalah makhluk yang tak sempurna, yang bisa saja melakukan banyak kesalahan. Maka dari itu, aku tidak ingin melempar sumpah padamu agar kamu mendapat karma.

Aku hanya percaya di dunia ini ada sistim tabur – tuai, di mana kamu akan memetik sendiri buah dari apa yang kamu tanam.

Sekarang aku lebih memilih untuk melanjutkan hidupku, menuju masa depan yang sudah pasti menanti di depan sana.

Tak terlihatkah dulu aku begitu tersakiti dengan sikapmu?

Aku tak habis pikir, sadarkah kamu dulu aku begitu terluka?

Dengan semua perlakuanmu, tak sadarkah kamu bahwa aku juga manusia yang punya hati, bisa merasa tersakiti dan terluka.

Jika kamu dulu dengan sengaja menyakitiku, di mana perasaanmu, sayang? Sudah matikah hatimu? Yang kutahu, saat pasangan saling mencintai mereka berdua akan saling berusaha untuk membahagiakan pasangannya, tapi mengapa kamu malah menyakitiku lewat semua sikapmu? Sudah tidak cinta lagi kah?

Ini bukan karena aku tak bisa mencari orang lain yang lebih bisa mencintaiku. Ini karena aku tak cukup mengerti, mengapa aku layak kamu sakiti?

Dulu pertanyaan itu selalu memenuhi kepalaku. Jika aku dulu tak kunjung pergi meski sudah disakiti, itu bukan karena aku tak mampu mencari sosok yang lebih baik. Itu semua karena pikiranku belum bisa menjawab pertanyaan terbesar yang kerap melukai hatiku.

"Apa yang membuatku begitu layak kamu sakiti?"

Tak perlu bersumpah akan ada karma.

Aku cukup sadar ada Tuhan yang melihat segalanya dan Dia tak pernah tertidur sekalipun. Masih ada Ia yang Maha Adil.

Tak perlu saling menyumpahi siapa yang akan mendapat karma. Sadar adanya Tuhan yang tak pernah tertidur saja sudah cukup bagiku. Ia Maha Adil, aku tahu itu. Akan ada saat di mana yang bersedih akan dihibur, sesuai dengan Rencana-Nya.

Saat ini aku hanya perlu berusaha tegar.
Aku tak ingin orang tahu aku bersedih, lalu mengasihaniku.
Bagaimana dengan senyumku? Masih indah kan? Meski sudah terluka..

Tak mudah untuk memalsukan sebuah senyuman.

Kamu yang sudah mengacaukan semua isi hatiku. Kamu yang sudah mengacaukan semua isi pikiranku. Aku hingga saat ini belum bisa merapikan ruang hati dan pikiran yang masih porak-poranda karenamu. Tapi tak kubiarkan kemelut hatiku terbaca oleh orang-orang disekitarku. Aku berusaha memalsukan senyumku agar mereka tahu bahwa aku cukup kuat melewati hari-hariku.

Bagaimana dengan senyumku sekarang? Masih terlihat ceria dan bahagia kan? Ya,aku menampilkan sisi terbaik diriku pada orang lain meski hatiku hampir menyerah untuk tetap menjalani hidup. Aku tak berlebihan! Karena memang ini yang kurasa…

Aku hanya cukup menerima kenyataan, bahwa sebenarnya aku bukanlah yang kamu cintai.
Harus tegar, meski memori indah itu menari di pikiranku.
Aku harus tegar.

Kamu tahu? Setiap perjalanan cinta pasti menyisakan banyak memori indah. Ya, mungkin itu yang membuatku masih saja memikirkanmu. Tapi semakin aku memikirkanmu, akhirnya bukan kebahagiaan yang kudapat, justru tambahan luka. Akhirnya aku memaksa diriku untuk menyadari bahwa aku bukanlah pribadi yang sebenarnya kamu dambakan. Susah sekali menerima sugesti itu. Tapi tiap kali aku teringat dirimu, aku kembali berteriak pada hatiku, "hey Hati!! Kamu bukanlah sosok yang dia cari!!" teriakku berharap hatiku lekas tertutup untukmu.

Terima kasih untuk pelajaran yang sudah kamu berikan. Kalau saja kamu tak menyakitiku terlalu jauh seperti ini, mungkin aku tak akan menjadi pribadi yang sekuat ini.

Terima kasih untuk pelajaran hidup yang kamu berikan. Semoga kamu cepat disandingkan dengan dia yang kamu anggap pantas mendampingimu 🙂

Percayalah akan tiba masanya air mata berubah menjadi tawa. Semua usahamu akan dijawab Tuhan tepat pada waktunya. Hal terpenting yang harus kamu percaya bahwa akan selalu ada harga seimbang yang akan Sang Khalik bayarkan sesuai dengan apa yang kamu lakukan. Tidak ada usaha yang sia-sia selama kamu berusaha. Lakukan upaya terbaik yang bisa kamu lakukan dan jangan pernah menyerah untuk mencintai.

Terima kasih,
Semoga menjadi pribadi yang kuat dan tegar dalam menghadapi segala persoalan hidup…
Salam kasih dari saya, Siska Isthika Yanha Simanjuntak.