Terima kasih untuk tangis yang pecah sejadi-jadinya pada hari itu. Semenjak kejadian kala itu, aku sadar. Siapapun kita, sekuat apapun kita, tetap saja kita tak dapat menahan seseorang untuk tetap tinggal apalagi untuk menetapkan hatinya pada kita.

Tak banyak atau mungkin justru malah tak ada orang yang tahu tentang kisah cinta kita ini. Bahkan mereka yang kita percaya sekalipun. Tapi kita sama-sama tahu ada banyak hati yang terluka karena kisah ini. Ya, itulah sebabnya kenapa aku juga ada di pihak yang setuju atas perpisahan kita, walaupun sebenarnya itu sulit dan menyakitkan bagiku.

Kau adalah orang yang selalu rajin mengucapkan kalimat indah nan penuh semangat untuk mengawali hariku dan untuk mengakhiri hariku di malam sebelum beranjak merajut mimpi. Kalimat-kalimat yang selalu kau ucapkan tiap harinya membuatku belajar, belajar dan belajar untuk menjadi diriku sendiri. Itulah mengapa aku selalu merasa menjadi perempuan teristimewa ketika membaca ataupun mendengarkan kalimatmu itu. Suaramu adalah barisan nada yang selalu menjadi lagu favoritku, bercandamu adalah gelitikan yang tak henti-hentinya membuatku tertawa lepas; seakan hidup ini bukan tentang deretan skenario masalah seperti yang orang-orang lemah pikirkan.

Teruntuk kamu lelaki istimewa berkacamata, ketahuilah setelah berbulan-bulan kita berpisah, aku masih menyimpan rapi namamu serta kenangan kita dalam hatiku. Tapi rasanya sekarang aku terpaksa harus mendeklarasikan diri untuk melepasmu pergi. Sebab kini kau sudah bahagia dengannya, seorang perempuan berparas cantik dan nampaknya berhati lembut yang ku ketahui dari media sosialmu.

Terima kasih sekali lagi ku ucapkan untukmu, kenangan terindahku.