Satu hal yang kau lupa, bahwa mencintai seorang sahabat itu berbeda dengan mencintai calon teman hidup.

Hai sahabat, apa kabar mu? Masihkah kau merindu matahari terbit seperti yang kita lihat sebelumnya ? Semoga saja tidak. Aku tidak menginginkan kau mengingat apapun tentang kita, tentang persahabatan kita.

Aku menyerah pada sekat – sekat yang kamu buat sendiri. Menjadi duri – duri pembelah suatu keutuhan. Cukup hadirkan dia, dan semua rusak. Berkeping – keping tanpa bisa ku cegah.

Tawaku cukup memecah kala itu. Bukan berarti Aku bahagia. Tangisku sudah usang, tak bisa terbendung lagi hingga setetes air matapun tak ada. Tawa acuh yang memecah kemudian keluar. Tanganku menggenggam. Ingin rasanya kubenturkan kemana saja, atau mungkin ke wajahnya. Biar dia tau betapa berharganya persahabatan kita. Tapi Aku mengalah, Aku mundur.

Kupersilahkan peri cantik mengambilmu. Yang katanya menjanjikan buah manis,cinta. Sedangkan Aku apa ? hanya sahabat yang tak menawarkan apa – apa selain canda persahabatan itu sendiri.

Ya, silahkan ambil saja. Asal dia berhenti mencaci. Mencaci apapun yang sebenarnya tak kulakukan, mencintaimu.

Silahkan pergi dengan segala cinta manis yang ia beri. Biar ku tutup sendiri segala luka yang terisisa. Bukankah waktu akan memberikan penyembuhannya sendiri? Tenang saja, tidak usah mencoba mengkhawatirkanku. Jagalah ia bak kamu menjaga persahabatan kita dengan rapi. Tak usah bingung kemana Aku akan pergi membawa ceriaku. Toh bahagia memang tak sebersyarat itu.

Terimakasih telah banyak membawa coretan di ribuan hari persahabatan kita. Ribuan hari pun tak mengisyaratkan satu biji cinta, karena yang ku tawarkan hanya canda. Maaf, Aku memang tak mencintai lelakinya!