Untukmu yang sempat datang dan kemudian pergi. Aku tidak akan menyalahkanmu. Mungkin kamu terlalu lelah menghadapi kekakuanku. Kekakuanku untuk mengerti kamu, kekakuanku untuk menyampaikan perasaanku, kekakuanku menggungkapan apa yang memang aku rasakan, kekakuanku untuk memperlakukanmu. Kita mungkin hanya dua kepala dengan pemahaman yang berbeda. Kamu dengan jalanmu dan aku dengan jalanku. Tapi sungguh aku tidak berniat untuk menyakitimu.

Kamu tau hal yang paling aku takutkan yaitu ditinggalkan oleh sesuatu yang aku sayangi. Jadi disitu kekakuanku bisa jadi ujian untukmu. Kekakuanku menjadi tantangan untuk seberapa besar kamu memang mengingikanku. Karena aku terlalu takut jika aku sudah benar benar menyayangimu kamu berhenti memperjuangkanku. Terdengar sedikit jahat sepertinya. Namun sebelum itu terlanjur maka sikapku akan tetap sama. Dengan kekakuanku aku juga bisa menilai seberapa besar kamu menerimaku. Untuk sebaliknya aku akan menerima semua kurangmu. Dan kita saling belajar untuk saling mengerti kekurangan kita.

Tapi jika hal itu memberatkanmu. Aku juga tidak akan membencimu. Dan semoga tidak ada rasa saling membenci pada akhirnya. Hanya saja untuk sekarang kamu tetap berada dijalanmu dan aku tetap berada dijalanku. Untuk urasan besok, lusa, atau kapanpun itu tidak ada satupun yang tau dan tidak menutup semua kemungkinan yang ada.

Karena aku yakin jika suatu saat ada seorang yang benar-benar bisa menerimaku dengan segala kekuranganku dia akan tetap tinggal. Menerima dan mengajarkanku agar lebih terlihat luwes atas kekakuanku. Berdiri pada panjatan yang sama melihat untuk tujuan bersama. Dengan kekakuanku ini aku hanya ingin menjaga diriku untukmu yang entah siapa, kapan dan bagaimana. Untukmu yang akan menemaniku dan untukmu yang memilihku sebagai teman masa depanmu.