Malam bergerak semakin gelap, tetapi aku belum juga bisa terlelap. Isi kepalaku dipenuhi dengan kenangan tentangmu. Sesekali aku tersenyum namun beberapa saat setelahnya aku menarik napas dalam-dalam. Hatiku yang sakit mencoba bersuara menasehatiku “sudahlah… lupakan dia yang sudah melupakanmu”.

Kita dipertemukan oleh teknologi bernama sosial media, Tuhan menakdirkanku mengenalmu di sana. Kamu menyapaku dengan indah, sapaan penuh ramah tamah yang tidak akan aku lupa. Apa kamu mau tau apa yang ada di pikiranku saat itu? Ah… mana mungkin kamu mau tau, kamu sudah tidak peduli dengan apapun yang pernah terjadi padaku.

Ingatanku kembali merangkak menuju waktu di mana kamu menyatakan perasaanmu, jutaan kilometer jarak kamu tempuh untuk bisa bertemu denganku, seandainya saja kamu tau apa yang aku rasakan saat itu, tetapi aku tau kamu tidak mungkin mau tau.

Walau begitu, aku tetap saja tersentuh dengan pengorbananmu. Kita jalani hubungan jarak jauh selama 120 hari lamanya. Aku masih ingat bagaimana matamu menatapku, pupil yang melebar saat kita bercanda gurau disertai senyuman manis yang membuatku begitu terpesona. Kamu, apa kamu pernah ingat saat itu?.

Aku pernah bertanya dalam hati “apa salahku selama ini padamu?”. Aku bahkan harus menerka-nerka alasan sesungguhnya yang membuat kamu berlalu dariku. Aku mengikuti semua keinginanmu, kamu pernah berkata “Ndut… kamu jangan berteman lagi sama banyak laki-laki ya, aku cuma mau ada aku di hidupmu”. Lalu aku tinggalkan semua teman lelakiku, padahal mereka adalah teman-teman terbaikku, aku meninggalkan mereka untuk menghormati kemauanmu. Aku melakukannya hanya untuk kamu.

Advertisement

Rasa sakitku semakin menjadi saat kamu memilih untuk beranjak pergi.

Kamu hanya bilang kita berbeda, dan kamu tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Belum sempat tangan ini mencegahmu, kakimu sudah seribu langkah menjauh dariku. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku ingin bertanya dengan kasar “memangnya kamu siapa? Seenaknya datang lalu pergi tanpa berpamitan!!”. Tetapi lisanku tidak juga mengucap, lidahku Tuhan rancang bukan untuk mengumpat.

Tidak… aku tidak pernah membenci keputusanmu menggantungku. Tidak pernah ada benci di hatiku untuk kamu, tidak pernah pula aku merindukanmu seperti dulu. Walau begitu, aku tidak pernah melupakanmu.

Kadang aku tersenyum getir mengingat kekecewaanku terhadapmu dulu, bodohnya aku pernah bersedih karenamu.

Hmmm… aku mencubit pipiku sendiri saat ini, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku masih saja mengingat kecewaku? Apa aku dendam?. Sekalipun dendam bisa membuat aku bahagia, aku tetap tidak akan memilih untuk mendendam padamu. Aku lebih suka merayu Tuhan, semoga Dia selalu memberi kebaikan untukmu.

Jadi, apa kabar kamu sekarang?. Semoga kamu sehat dan bahagia selalu, aku di sini sudah berhasil melupakan rasa ingin tetap bersamamu. Aku sudah berhasil menghapus semua rasa sayang itu. Malam ini aku memang sulit untuk terlelap, tetapi bukan karena aku merindukanmu. Mata ini memang selalu sulit terpejam saat malam semakin larut, membuat pikiranku berkeliaran mengingat tentangmu. Ya… aku tidak pernah mencegah pikiranku melakukan itu, karena sekali lagi… aku tidak pernah membencimu.

Pada akhirnya aku mengerti bahwa sesungguhnya kasih dan sayang harus diperjuangkan, kedua belah pihak harus bersama-sama memperjuangkannya. Karena bila hanya salah satu pihak saja yang berjuang, pasti akan sangat melelahkan.