Setelah semuanya, aku kini berdiri di perbatasan. Ditempat dimana sakit dan bahagia hanya disekat oleh batas tipis yang aku sendiri tidak ingin lagi menginginkan adanya. Aku hanya menginginkan bahagia. Lepas. Bebas. Tanpa ada lagi sisa kenangan dan pesakitan yang hanya membuatku terus diam ditempat.

Kamu yang dahulu memilihku, kamu juga yang melepaskanku. Kamu berhasil melakukan dua hal besar secara runtut, dengan sempurna. Yang pertama adalah berhasil membuatku benar-benar jatuh cinta, hingga pahit kurasa tetap manis. Aku tahu itu pahit, aku hanya menyamarkan rasanya, aku menipu lidahku. Menganggap pahit tetap manis. Bukankah getir setiap orang berbeda kadarnya? Aku hanya menganggap yang orang lain katakan getir kepadaku sebagai sesuatu yang tetap manis, menipu hatiku sendiri agar tak terlalu luka. Kamu lupa menjaganya dahulu. Kemudian yang kedua, kamu berhasil meninggalkanku, dengan sempurna pula. Padahal aku telah benar jatuh dalam pelukanmu. Padahal sungguh kau tau langkahku tertatih tanpamu. Namun kamu memilih memenjamkan matamu dan menutup telingamu.

Kamu (tetap) memilih pergi, meninggalkan aku yang terduduk lemas tanpamu. Menginggalkan aku yang masih sangat bergantung kepadamu. Namun persoalan melepaskan memang hak setiap insan. Aku hanya berusaha mempertahankan kamu yang saat itu masih menjadi pengisi hatiku. Tanpa kutahu bahwa hatimu telah kau berikan kepada wanita lain.

Wanita itu mungkin sangat beruntung, karena mendapat dan melewati semua hal yang dahulu pernah aku mimpikan bersamamu. Merasakan setiap detik yang pernah aku rangkai saat tawa itu masih milikku.

Namun, aku yang terus mengembalikan tawaku kini bersyukur. Bahwa melepaskan juga bagian dari cinta itu sendiri. Bukankah akan menjadi egois ketika kita masih bersama? Kamu tidak ingin menyakitiku, dan akupun begitu, aku tidak ingin tersakiti olehmu. Bukankah bila masih bersama-sama, kita hanya akan menjadi dua orang yang terus bersandiwara. Aku yang pencemburu tak pernah bisa menerima kamu dengan semua teman-teman wanitamu. Aku yang kekanak-kanakan tak pernah bisa mengerti inginmu.

Advertisement

Sebab itu Tuhan memilih untuk memisahkan kita. Menjadi dua orang dengan jalan yang tak lagi sama. Menjadi dua orang dengan cerita yang tak lagi sama. Meski teramat rindu, aku menyamarkannya dengan tawaku.

Radarku tak pernah aku matikan. Meski samar-samar, Tuhan telah mendengar semua inginku, semua permintaanku. Kamu tak perlu lagi mencariku. Kamu hanya akan menemukanku ketika kamu tertawa. Karena semua yang aku usahakan semenjak dahulu adalah untuk tawamu semata. Meski bukan denganku, meski bukan aku yang disampingmu, percayalah aku turut bahagia. Tuhan terus berusaha membuat hatiku lega. Tuhan terus mengajarkan aku untuk mengenal ikhlas akan kamu.

Aku yang telah kamu lepaskan, mencoba melepas semua tali-tali yang masih mengikat kakiku. Satu per satu. Agar aku dapat terbang. Seperti impianku. Merasakan udara menopang tubuhku. Aku yang telah kamu lepasakan, memilih untuk memenjamkan mata serta menutup telingaku, seperti yang kamu lakukan. Agar kasih yang telah kau tanam ini tak pernah kemana, tak pernah hilang kemana. Tetap disini. Dihatiku.