Terkadang rasa lelah menghampiriku. Lelah untuk terus menghadapi sikapmu. Aku tahu, aku bukan sosok perempuan kuat yang benar-benar bermental baja. Aku hanyalah seorang perempuan lemah yang terkadang manja dan banyak berkeluh kesah daripada mensyukuri apa yang aku miliki. Aku tahu, kamu pun tahu kekuranganku. Sampai kapan aku harus berpura-pura menjadi sosok perempuan sempurna yang sibuk memainkan peran. Kapan kamu sadar bahwa aku bukanlah sosok yang kamu idam-idamkan? Aku yang ini bukan sosok seperti itu.

Aku yang sebenarnya sudah diambang lelah, namun tetap tidak bisa untuk beranjak darimu. Aku yang serba khawatir menunggu kabarmu saat kamu memang tidak mampu berada di sampingku. Aku yang takut apabila kamu merasa bahwa aku tidak ada saat dibutuhkan. Dan itulah gambaranku, yang terlalu berfokus pada satu sosok yaitu kamu. Kamu.

Setelah beberapa lama belajar sabar dan bertahan untukmu, ada sedikit sinar dimatamu yang menggambarkan ketulusan. Dan kebingungan pun mulai mengusik setiap inci ruang kosong di otakku. Harus terus bertahan atau benar-benar pergi melangkah ke gerbang yang terbuka.

Aku yang ingin kamu membiarkanku menjadi apa yang aku mau, aku yang apa adanya namun tidak ingin diperjuangkan seadanya.

Advertisement

Kamu yang aku terima apa adanya, jangan terus bersikap seadanya. Belajar saling memperbaiki kekurangan dan tetap saling memantaskan diri.

Dan aku pun sedang belajar menjadi perempuan yang bisa meredam egomu & mengikis gengsimu.

Aku memberikan waktu di sela-sela kesibukanku. Kamu tahu, skripsi bisa menguras tenaga dan pikiranku. Tapi, permasalahan sepele denganmu lebih bisa menguras seluruh tenagaku. Perdebatan yang sering kali terjadi aku anggap bukan masalah ketidakcocokan, tapi ini masalah pendewasaan diri. Bagaimana kita menghadapi masalah dan menyelesaikannya. Tentu tidak dengan jalan emosi.

Dan ternyata salah satu dari kita bisa berhasil mengalah.