Terlahir sebagai manusia dengan begitu banyak kesombongan dan keangkuhan diri, buatku merasa bahwa hidup bisa selalu berada dalam satu kendali. Tapi pada kenyataannya, aku hidup hanya sebagai manusia yang menjalani semua takdir-Nya.

Sungguh aku begitu angkuh, begitu pongah. Dengan diri ini yang merasa tercipta begitu sempurna, dengan segala apa yang ada dirasa cukup untuk bisa menaklukkan dunia, membuatku lupa bahwa diri ini sebenarnya berjalan sesuai dengan keinginan yang Maha Kuasa, Raja dari segala raja, sang pemilik umat manusia.

Dari semua lapisan dunia, yang bahkan mungkin sampai saat ini aku sendiripun tak tau apakah dunia ini hanya milik manusia ataukah ada dunia lain yang dihuni oleh makhluk yang sama dengan manusia atau justru berbeda dengan sebutan yang tak sama pula.

Itulah sebuah gambaran sebagian besar sifatku yang mendominasi perjalanan hidup yang aku jalani selama ini. Hingga pada akhirnya aku selalu dipertemukan dengan begitu banyak pengalaman yang mengajarkan diriku ini bahwa semua yang terjadi dan hidup yang aku jalani ini adalah bagian dari Kuasa-Nya, bukan atas kuasaku sendiri.

Pengalaman yang paling membuatku begitu sadar akan kuasa-Nya adalah saat sebuah kejadian yang membuatku berada pada satu titik di antara hidup dan melanjutkan kehidupan di dunia yang katanya berbeda dari yang selama ini dihuni oleh manusia. Artinya, aku berada pada satu keadaan yang bahkan diriku sendiri tak bisa menggambarkannya seperti apa. Karena kondisi koma yang aku jalani membuatku tak sadar berhari-hari bahkan berbulan-bulan lamanya.

Advertisement

Hanya mereka yang berada di dekatku yang akhirnya memberikan cerita sesungguhnya bahwa aku sebenarnya telah hidup kembali. Namun bagiku saat itu aku hanya menjalin sebuah mimpi yang begitu singkat. Mimpi yang membuatku melihat diriku sendiri sedang mengalami satu perpisahan antara jasad dan ruh yang selama ini melekat menjadi penopang kehidupanku sebagai manusia. Namun pada akhirnya ada satu sosok yang membuat jasad dan ruhku kembali disatukan. Dan saat itu pula ternyata aku tersadar dari mimpi yang singkat. Namun kenyataanya aku terbangun dari koma yang sungguh begitu lama, yang membuat orang-orang di sekitarku tak punya lagi harapan kehidupan untuk diriku ini.

Dari itulah, aku menyadari bahwa aku hanya menjalankan peran dari Sang Maha Dalang. Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang Ia suka dan kehendaki. Tak peduli apapun yang Ia kehendaki, baik dan buruk adalah bagian dari kehendak-Nya. Karena aku menyadari, baik dan buruk hanya masalah penilaian logikaku semata. Namun yang sebenarnya apa yang telah dikehendaki-Nya selalu baik, tak pernah ada yang buruk.