Aku tak pernah mengerti kenapa Tuhan bisa menjatuhkan pilihanku kepadamu, tapi aku yakin jika Tuhan memiliki rencana indah dibalik penyatuan ini , meski pada awalnya aku yang selalu merasa tersiksa dan sangat tersakiti …
Sebelum memutuskan untuk menikah tak pernah kulihat suamiku memiliki gelagat aneh padanya. Dia dewasa, penyabar pendiam, lucu, suka dengan yang namanya guyonan, ya walau kadang sekali dua kali dia begitu sangat cuek atau bisa dibilang moody.an …
Tapi aku merasa memiliki kenyamanan yang luar biasa saat berada didekatnya. Aku selalu tertawa bersamanya, selalu merasa berbunga-bunga saat bercengkerama dengannya ..
Pernah sekali dia berceloteh bahwa ketika kita menikah nanti dia menginginkan untuk mempunyai lebih dari satu istri , aku pikir itu hanya bercandaannya saja, karena aku tau dia paling suka melihat aku merajuk karena kecemburuanku, langsung saja aku juga mengiyakannya dengan guyonan tentu saja .
Hingga pernikahan kami terjadi , baru berselang dua bulan semenjak pernikahan kami, entahlah suamiku mulai berubah, aku tak mengerti kenapa dia berubah, setauku sebagai seorang istri aku sudah begitu sangat berusaha untuk membahagiakan suamiku, apa yang menjadi ucapannya segera aku laksanakan tanpa mengucap satu kata apapun ..
Suamiku mulai sibuk sendiri dengan ponselnya. Terkadang kulihat bahkan dia tersenyum sendiri, setiap aku tanya "dari siapa" suamiku selalu berkata bahwa itu dari seorang gadis. Sekali dua kali aku masih bisa merajuk, tapi lama kelamaan itu sudah tidak bisa disebut dengan guyonan lagi . Suamiku bahkan sampai tak pulang semalaman. Aku ingat bahwa dia sempat sms kalau ada meeting dengan bos.nya, tapi kekhawatiran mulai muncul ketika kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 10 malam dan suamiku belum juga pulang ke rumah. Aku coba menghubungi dia , tapi tak ada balasan hingga akupun tak sadar telah ketiduran. Pukul 7 pagi kudengar ada yang mengetok pintu rumah, begitu ku buka ada suamiku. Segala kemarahanku hilang seketika begitu aku melihat gurat-gurat lelah diwajahnya, kuambil tas yang dibawa suamiku, kuikuti dia melangkah masuk ke dalam rumah. Segala pertanyaan yang muncul dibenakku ku simpat rapat-rapat di dalam hati dan pikiranku …
Betapa hancurnya hatiku ketika suamiku melepas kemeja kerjanya dan kulihat ada bekas lipstik merah di kerah baju suamiku. Aku bahkan tak memiliki warna lipstik yang seperti itu. Lalu milik siapa lipstik ini ? Bagaimana bisa menempel begitu rapi pada baju milik suamiku ? Kutahan air mataku dengan sekuat tenaga, tak ingin kutunjukkan kepada suamiku bahwa aku rapuh. Aku hanya perlu mengumpulkan bukti2 bahwa benar jika suamiku telah menduakanku.
kuberanikan diriku membuka ponsel suamiku saat suamiku sedang mandi, walau sebenarnya aku tau bahwa aku berdosa telah melakukan hal ini padanya, mencurigai suami sendiri adalah hal yang paling dilarang dalam keyakinan kami, apalagi pernikahan kami sudah cukup lama. Tapi taukah betapa hancurnya saya ketika saya tau suami saya mengajak kencan beberapa perempuan lain ? dari yang sekedar jalan-jalan, karaokean, bahkan hingga memberikan uang secara cuma-cuma kepada perempuan-perempuan itu. seketika tubuhku melemas. kakiku terasa tak bertulang lagi, air mataku yang sedari tadi kubendung tak mampu tertahan lagi, pecah. mengalir dengan sebegitu derasnya. bagaimana bisa suamiku yang begitu aku patuhi, aku taati, aku hormati, memperlakukan aku seperti itu. Tak pernah aku membantahnya sekalipun, kurang apa aku padanya sehingga dia masih menduakanku bahkan dengan beberapa perempuan sekaligus? aku yang terlalu bersabar atau memang kau yang tak punya hati?